Kesabarannya memang diakui tidak hanya oleh para santri tapi juga oleh keluarga dan masyarakat serta umat islam yang pernah mengenalnya. Sangat jarang ia marah baik kepada santri maupun kepada anak dan istrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari tua khususnya setelah menikah sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya di masa muda.

Kiai Hamid dulu sangat keras kata Kiai Hasan Abdillah. Kiai Hamid lahir di Sumber Girang sebuah desa di Lasem Rembang Jawa Tengah pada tahun 1333 H. Ia adalah anak ketiga dari tujuh belas bersaudara lima di antaranya saudara seibu. Kini di antara ke 12 saudara kandungnya tinggal dua orang yang masih hidup yaitu Kiai Abdur Rahim Lasem dan Halimah. Sedang dari lima saudara seibunya tiga orang masih hidup yaitu Marhamah Maimanah dan Nashriyah ketiganya di Pasuruan. Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya Kiai umar adaiah seorang ulama di Lasem dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember Jawa Timur.

Masa Kecil

Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz Shiddiq tokoh NU dan KH. Ahmad Shiddiq mantan Ro’is Am NU. Keluarga Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mulamula belajar membaca alQuran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun ayahnya mulai mengajarinya ilmu fiqh dasar.

Tiga tahun kemudian cucu kesayangan itu mulai pisah dari orangtua untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya KH. Shiddiq di Talangsari Jember Jawa Timur. Konon demikian penuturan Kiai Hasan Abdillah Kiai Hamid sangat disayang baik oleh ayah maupun kakeknya. Semasih kecil sudah tampak tandatanda bahwa ia bakal menjadi wali dan ulama besar.

Pada usia enam tahun ia sudah bertemu dengan Rasulullah katanya. Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU khususnya kaum sufi Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orangorang tertentu khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja tapi secara nyata.

Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam legitimasi bagi kewalian seseorang. Kiai Hamid mulai mengaji fiqh dari ayahnya dan para ulama di Lasem. Pada usia 12 tahun ia mulai berkelana. Mulamula ia belajar di pesantren kakeknya KH. Shiddiq di Talangsari Jember. Tiga tahun kemudian ia diajak kakeknya untuk pergi haji yang pertama kali bersama keluarga pamanpaman serta bibibibinya. Tak lama kemudian dia pindah ke pesantren di Kasingan Rembang. Di desa itu dan desadesa sekitarnya ia belajar fiqh hadits tafsir dan lain lain. Pada usia 18 tahun ia pindah lagi ke Termas Pacitan Jawa Timur.

Konon seperti dituturkan anak bungsunya yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah H. Idris Pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya dengan administrasi yang cukup rapi. Pesantren yang diasuh Kiai Dimyathi itu telah melahirkan banyak ulama terkemuka antara lain KH Ali Ma’shum mantan Ro’is Am NU. Menurut Idris inilah pesantren yang telah banyak berperan dalam pembentukan bobot keilmuan Hamid. Di sini ia juga belajar berbagai ilmu keislaman. Sepulang dari pesantren itu ia tinggal di Pasuruan bersama orangtuanya. Di sini pun semangat keilmuannya tak pernah Padam. Dengan tekun setiap hari ia mengikuti pengajian Habib Ja’far ulama besar di Pasuruan saat itu tentang ilmu tasawwuf.

Menjadi Blantik

Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri Nyai H. Nafisah putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup yaitu H. Nu’man H. Nasikh dan H. Idris.

Hamid menjalani masamasa awal kehidupan berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab kata ldris pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong Pasuruan 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.

Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama Anas telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu.

Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah sehingga Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya yang kedua Zainab meninggal dunia pula padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagilagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah adik istri Kiai Hamid menuturkan seperti layaknya keluarga Kiai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun.

Tapi tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang mengetanuinya. Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga ia tidak lekas naik derajatnya) katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.

Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anakanaknya. Menut Idris tidak pernah mendapat marah apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan tetapi untuk halhal yang sangat prinsip shalat misalnya Hamid sangat tegas.

Merupakan keharusan bagi anakanaknya untuk bangun pada saat fajar menyingsing guna menunaikan shalat subuh meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka Hamid juga memberi pengajaran membaca alQuran dan fiqih pada anakanaknya di masa kecil. Namun begitu mereka menginjak remaja Hamid lebih suka menyerahkan anakanaknya ke pesantren lain.

Bukan hanya kepada anakanak tapi juga istrinya Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang diajarkan pun tidak pasti. Bahkan ia mengajar tidak secara berurutan dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya ia seperti asal comot kitab lalu dibuka dan diajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak kata Idris yang diajarkan adalah kitabkitab mengenai akhlak seperti Bidayah alHidayah karya Imam Ghazali Tampaknya yang lebih ditekankan adalah amalan dan bukan ilmunya itu sendiri jelasnya.

Amalan dari kitab itu pula yang ditekankan Kiai Hamid di Pesantren salafiyah. Kalau pesantrenpesantren tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidangbidang ilmu tertentu – misainya alat (gramatika bahasa Arab) atau fiqh maka salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang santri yang baik.

Di sini Kiai Hamid mewajibkan para santrinya shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid yang hampir memenuhi jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid sendiri tidak banyak mengajar kecuali kepada santri-santri tertentu yang dipilihnya sendiri. Selain itu khususnya di masamasa akhir kehidupannya ia hanya mengajar seminggu sekali untuk umum.

Mushalla pesantren dan pelatarannya setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan tapi juga kotakota Malang Jember bahkan Banyuwangi termasuk Walikota Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah alHidayah karya alGhazali. Konon dalam setiap pengajian ia hanya membaca beberapa baris dari kitab itu.

Selebihnya adalah ceritacerita tentang ulamaulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang air matanya mengucur deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok ulama sufi pengagum imam AlGhazali dengan kitabkitabnya lhya ‘Ulum adDin dan Bidayah alHidayah. Tapi corak kesufian Kiai Hamid bukanlah yang menolak dunia sama sekali. Ia konon memang selalu menolak diberi mobil Mercedez tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan perabotanperabotannya cukup baik meski tidak terkesan mewah.

Ia suka berpakaian dan bersorban yang serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang berkualitas rendah. Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun Kiai Hamid bukanlah orang yang suka mengumbar nafsu. Justru kata idris ia selalu berusaha melawan nafsu.

Hasan Abdillah bercerita suatu kali Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi (tirakat). Tetapi istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan roti. Untuk menyenangkannya Hamid memakan roti itu tapi tidak semuanya melainkan kulitnya saja. O rupanya dia suka kulit roti pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. Aku bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin itu karena aku bertirakat ujarnya.

Konon berkalikali Kiai Hamid ditawari mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid orang kaya di Malang. Tapi ia selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa Hamid mengatakan ia akan menghubunginya sewaktuwaktu membutuhkan mobil itu. Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur (menyenangkan orang lain) seperti dianjurkan Nabi. Misalnya jika bertamu dan sedang berpuasa sunnah ia selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain itu ia selalu mendatangi undangan di manapun dan oleh siapapun.

Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus surur sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran (yang dipahami secara sederhana) mengenai kepedulian sosial islam terhadap kaum dlu’afa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Memang karikaturis – meminjam istilah Abdurrahman Wahid tentang sifatnya.

Tapi Kiai Hamid memang bukan seorang ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu kita dapat memperkirakan sikap sosial Kiai Hamid bukan hanya sekadar refleksi dari motivasi keagamaan yang egoistis dalam arti hanya untuk mendapat pahala dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Kita mungkin dapat melihat betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk tanggung jawab sosial dalam dirinya meski tidak tuntas.

Ajaran Islam tanggung jawab sosial mulamula harus diterapkan kepada keluarga terdekat kemudian tetangga paling dekat dan seterusnya. Uruturutan prioritas demikian tampak pada Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu konon ia juga memberikan bantuannya secara rutin terutama bila mereka sedang mempunyai hajat apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anaknya.

H. Misykat yang mengabdi padanya hingga ia meninggal bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat Kiai Hamid memberi uang RP. 10.000 plus 10 kg. beras. Islam mengajarkan hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah puasa sebulan penuh. Menjelang hari raya sebagai layaknya seorang ulama Kiai Hamid tidak menerima hadiah dan zakat fitri Karomah KH Abdul Hamid Pasuruan

Nama KH Abdul Hamid bagi warga Pasuruan sudah tidak asing lagi karena pengasuh Pesantren Salafiyah ini dikenal dengan keistimewaan dan karomahnya. Abdul Hamid begitu nama pria yang dilahirkan pada tahun 1333 H di Desa Sumber Girang Lasem Rembang Jawa Tengah.

Abdul Hamid dibesarkan di tengah keluarga santri. Ayahnya Kiai umar adalah seorang ulama di Lasem dan ibunya adalah anak Kiai Shiddiq juga ulama di Lasem. Kiai Shiddiq adalah ayah KH Machfudz Shiddiq tokoh NU.

Abdul Hamid sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi kiai dia mulamula belajar Alquran dari ayahnya. Tiga tahun kemudian Abdul Hamid menimba ilmu di pesantren kakeknya KH Shiddiq di Talangsari Jember Jawa Timur.

Sejak kecil sudah tampak tandatanda bahwa dia bakal menjadi wali dan ulama besar. Konon pada usia enam tahun dia sudah bertemu dengan Rasulullah. Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan warga NU khususnya kaum sufi Rasulullah walau telah wafat sekali waktu menemui orangorang tertentu khususnya para wali. Bukan dalam mimpi saja tapi secara nyata.

Salah satu karomah Kiai Abdul Hamid yang dipercaya warga Pasuruan adalah bisa berada ditempat lain dengan wujud serupa. Hal ini terjadi saat Habib Baqir Mauladdawilah bertandang ke pesantrennya.

Sang Habib yang pernah berguru dengan alUstadzul Imam AlHabr alQuthb alHabib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih diberikan ilmu untuk bisa melihat sesuatu yang gaib.

Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui Kiai Abdul Hamid Pasuruan. Ketika itu di tempat KH Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluannya yang lain.

Setelah bertemu Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti KH Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai . Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai. Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya KH Abdul Hamid yang asli berada.

Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan Habib Baqir terkejut karena sang kiai tersebut tengah berada di Tanah Suci Mekkah.

Karomah KH Abdul Hamid juga pernah ditunjukkan terhadap seorang Habib sepuh yang datang kepadanya karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.

KH Hamid tidak menjawab hanya langsung memegang Habib sepuh tersebut. Seketika itu kagetlah Habib sepuh tadi melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan masjid yang sangat megah. Subhanallah ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh KH Hamid mendatangi Masjidil Haram.

Salah satu karomah lainnya yaitu ketika Asmawi salah seorang santrinya harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya Rp300.000 cukup besar untuk ukuran waktu sekitar tahun 70an.

Dia tidak tahu dan mana uang sebanyak Itu bisa didapat dalam waktu singkat. Karenanya dia hanya bisa menangis malu kalau sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada Kiai Hamid.

Kemudian dengan lembut sang Kiai yang lantas menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng. Kumpulkan daundaun yang gugur itu dan bawa kemari kata Kiai Hamid.

 

Keris Dalam Perut Kyai Hamid (Kisah KeWalian Kyai Hamid Pasuruan ketika disantet orang)

Banyak orang yang mengenal Kyai Hamid dari segi kewaliannya kezuhudannya kewara’annya kekaromahannya dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu tak luput dari dua sifat yang khas dari beliau yaitu kesabaran dan ketawadhu’an yang memang menjadi sifat keseharian kyai kelahiran lasem tersebut. Waktu Kyai Hamid masih terbilang baru di kota Pasuruan kehidupan beliau tidak secara tibatiba disegani dihormati dan dicintai oleh masyarakat. Banyak sekali orang yang hasud kepada putra Kyai Abdulloh ini akan tetapi itu semua tidak pernah diambil pusing oleh beliau. Sifat sabar dan penuh tawakal itulah yang selalu beliau pakai untuk menghadapi semua itu.

Pernah pada suatu ketika kyai hamid memanggil KH. Abdurrohman yang masih adik ipar beliau sendiri ke dalamnya. Setelah masuk Kyai Abdurrohman ini langsung duduk di depan Kyai Hamid yang sedang duduk di atas tempat tidurnya

Man…kowe arep tak kei weroh… tapi kowe … ojo ngomong nang soposopo yo! (Man… kamu mau aku beri tahu tapi kamu jangan bilang ke siapasiapa ya!) kata kyai hamid

inggeh kyai jawab Kyai Abdurrohman singkat.

Setelah menjawab demikian akhirnya takl lama Kyai Hamid membuka baju yang dikenakannya dan ternyata astaghfirllohal’adzim didalam tubuh beliau terlihat jelas ada sebuah keris yang melekat di dada seperti halnya orang yang terkena ilmu santet. Sontak Kyai Abdurohman terperangah dan terkejut melihat itu semua. Kyai sinten sing nggarai panjenengan ngoten! (Kyai siapa yang membuat anda seperti itu!) kata Kyai Abdurrohman dengan nada yang menunjukkan seakanakan tidak terima kakak iparnya didzolimi oleh Orang. Uwes koe orah perlu wero sing penting kowe ojo kondo soposopo yo… iku Nusa’ nang ngarep lek di tako’i ngomongo orah onok opoopo yo wes saiki moleo (sudah kamu tidak perlu tahu yang penting kamu jangan bilang sama siapasiapa ya… itu di depan ada Nusa’ –panggilan akrab Kyai hamid kepada istrinya Ibu Nyai nafisah di depan kalau kamu ditanya bilang tidak ada apaapa sudah sekarang kamu pulang). Akhirnya Kyai Abdurrohman keluar meninggalkan kamar dengan raut wajah yang sedih setelah melihat kakak iparnya didzolimi.

Ketika keluar ternyata benar Bu Nyai Nafisah berada di ruang tamu Bu Nyai Nafisah merasa penasaran memergoki adiknya yang berwajah sedih ketika keluar dari kamar Kyai Hamid Man… onok opo? (Man ada apa?) Tanya Bu Nyai Nafisah mendengar pertanyaan seperti itu Kyai Abdurrohman serasa tidak kuat untuk menahan kepedihan setelah melihat kondisi Kyai Hamid dan itu semua membuat Kyai Abdurrohman lupa akan janjinya yang telah dikatakan kepada Kyai Hamid ketika Kyai Abdurrohman akan menjawab jujur kepada Bu Nyai Nafisah tibatiba orah onok opoopo kok Bu… jawab Kyai hamid sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Pada akhirnya Kyai Abdurrohman meminta izin pulang kepada Bu Nyai Nafisah. إن الله مع الصابرين Mungkin dari sini kita semua telah tahu bahwa kenapa Allah SWT senantiasa memberikan kasih sayangnya lebih kepada hambahambanya yang shaleh dan kesabaran adalah sebuah kunci untuk menuju kesuksesan.

 

Gus Miek Bertemu KH. Hamid Pasuruan ~ MENUJU JALAN ILLAHI

Gus Miek Bertemu KH. Hamid Pasuruan

Gus Miek dalam usia 9 tahun sudah pernah ke pasuruan untuk mengunjungi KH. Hamid. Ini adalah sebuah pertemuan pertama yang sangat mengharukan. Saat itu Gus Miek talah beberapa hari tinggal di pondok KH. Hamid. Selama itu pula Gus Miek tidak pernah menjalankan shalat. Ia hanya tidur saja sepanjang hari. Oleh KH. Hamid Gus Miek kemudian dibangunkan dan dimarahi agar menjalankan shalat. Gus miek lalu bangun tetapi bukan untuk menjalankan shalat melainkan membaca perjalanan hidup KH. Hamid dari awal hingga akhir termasuk mengenak kelebihan dan kekurangannya. KH. Hamid pun terkejut kemudian memeluk Gus Miek dengan berurai air mata. Sejak saat itu KH. Hamid sangat menyayangi Gus Miek dan memerintahkan semua muridnya agar apa pun yang dilakukan Gus Miek dibiarkan saja bahkan kalau bisa dilayani semua kebutuhannya.

Suatu ketika rombongan keluarga KH. Ahmad Siddiq yang tengah khusyuk ziarah ke makam Sunan Ampel tergangu oleh datangnya rombongan Gus Miek yang terdiri dari berbagai latar belakang kehidupannya. Rombongan yang cukup banyak itu sedikit gaduh sehingga mengganggu rombongan yang lain termasuk rombongan KH. Ahmad Siddiq. Melihat rombongan Gus Miek yang campur aduk dan gaduh itu KH. Ahmad Siddik menyingkir lalu melanjudkan perjalanan ke Pasuruan menemui KH. Hamid yang masih merupakan kerabatnya. KH. Ahmad Siddiq kemudian bercerita kepada KH. Hamid bahwa dirinya telah bertemu dengan Gus Miek dan rombongannya saat ziarah di makam Sunan Ampel.

Ya Pak Kiai begini Gus Miek itu di atas saya jawab KH. Hamid setelah mendengar pengaduan KH. Ahmad Siddiq.Ah masak? tanya KH. Ahamd Siddiq tidak percaya karena KH. Hamid sudah sangat termasyhur keluhurannya di kalangan ulama tanah Jawa.Saya itu tugasnya ‘sowan’ kepada para kiai. Kalau Gus Miek itu tugasnya kepada bromocorah jawab KH. Hamid. KH. Ahmad Siddiq hanya diam saja mendengarkan dan penuh keraguan. Benar Pak Kiai. Gus Miek itu tugasnya kepada para bromocorah para pemabuk pejudi perempuan nakal dan orangorang awam. Dan untuk tugas seperti itu saya tidak sanggup tegas KH. Hamid.Setelah mendengar jawaban KH. Hamid KH. Ahmad Siddiq dengan perasaan yang berkecamuk langsung berangkat ke Ploso menemui KH. Djazuli untuk mengadukan jawaban KH. Hamid tersebut.

Begini Kiai Ahmad saya dengan Gus Miek itu harus bagaimana?! Dulu Kiai Watucongol juga menceritakan kehebatannya Gus Miek. Saya jadinya hanya bisa diam saja jawab KH. Djazuli.Pada kasus lain diceritakan KH. Ahmad Siddiq pernah mengadu kepada KH. Hamid tentang sepak terjang Gus Miek dan para pengikutnya karena kebetulan KH. Ahamad Siddik juga sering ke Tulungagung di rumah mertuanya sehingga ia sering melihat hal itu.Begini Pak Kiai sampean kalau baik dengan saya berarti juga harus baik dengan ‘sana’ karena ia kakakku. Sampean buka saja kitab ini halaman sekian jawab KH. Hamid. Akhirnya KH. Ahmad Siddiq pulang dan membuka kitab yang telah sering dibacanya. KH. Ahmad Siddiq pun menjadi mengerti maksud dari kitab itu.

Setelah kekacauan akibat pemberontakan PKI mulai reda Gus Miek dalam perkembangan dakwahnya mulai memasuki wilayah Pasuruan. Pertama kali masuk wilayah tersebut Gus Miek menuju rumah KH. Hamid yang dikenal sebagai wali. Saat hendak naik mobil dari Malang Gus Miek mengirim bacaan AlFatehah kepada KH. Hamid. Selama dalam perjalanan Gus Miek hanya diam saja sehingga para pengikutnya pun ikut diam membisu.

Tibatiba di pekarangn rumah KH. Hamid Gus Miek tidak langsung bertemu tatapi hanya mondarmandir di jalan. Setelah beberapa lama Gus Miek mengajak shalat di masjid dan Gus Miek menjadi imam. Setelah salam ada seorang lakilaki yang menyentuh pundak Amar Mujib dan bertanya.Maaf orang itu apakah Kiai Hamim?Amar mengangguk.Gus nanti tidur di sini ya? Nanti saya potongkan ayam dan tidur dengan saya satu rumah kata lelaki itu yagn ternyata adalah KH. Hamid.

KH. Hamid ternyata tidak mengenali Gus Miek yang dudukduduk dan mondarmandir di pekarangan karena penampilan Gus Miek sudah sangat jauh berbeda dengan saat ketika ia sering mengunjungi KH. Hamid belasan tahun silam. Saat itu Gus Miek masih muda belia dengan pakaian lusuh dan rambut panjang. Pertemuan pertama Gus Miek dengan KH. Hamid adalah saat Gus Miek berusia sekitar 9 tahun.Gus Miek lalu bertamu ke rumah KH. Hamid. Keduanya asyik berbincang tanpa memedulikan tamutamu yang lain. Puluhan tamu menunggu untuk bertemu KH. Hamid tetapi tidak dipedulikan sampai akhirnya datang Kiai Dhofir.Mid Hamid! Kiai Dhofir memanggil.

Gus Miek terlihat sangat marah mukanya merah padam matanya tajam menatap Kiai Dhofir. Gus Miek dengan tergesagesa pamit pulang. Dalam perjalanan Gus Miek dengan nada emosi berkata: Masya Allah siapa tamu tadi kok tidak punya tata karma!Mungkin karena Kiai Hamid adalah kemenakannya Amar menanggapi emosi Gus Miek.Walaupun kemenakannya saya tidak terima. Kiai Hamid itu kiai dan juga termasuk wali. Jawab Gus Miek masih dalam keadaan emosi.Setelah emosinya mereda Gus Miek berkata: Mar kata Kiai Hamid wali di sini yang paling tinggi adalah Husein orangnya hitam. Tetapi wali Husein berkata bahwa wali yang paling tinggi di sini adalah Kiai Hamid.Pada kesempatan yang lain Gus Miek bersama ibnu Katsir Siroj dan Nototawar pergi ke Pasuruan untuk mencari Habib Ahmad asSyakaf. Hari itu hari Minggu mereka berangkat dari Tulungagung pagipagi. Hamper seharian berputarputar di Pasuruan belum juga bisa bertemu alamatnya. Sudah ditemukan Habib Muhamad tetapi belum ditemukan yang bermarga as Syakat. Hingga diputuskan pokoknya yang aneh khariqul ‘adah dan yang jadzab! Sayang tetap tidak bertemu juga. Akhirnya satusatunya jalan adalah bertanya kepada KH. Hamid Pasuruan.

Begitu tiba di rumah KH.hamid dia sudah menyambut di depan pintu. Hamim wal qur’anil hakim sapa KH. Hamid sambil memeluk Gus Miek dan membimbingnya masuk.Setelah di dalam rumah KH. Hamid kemudian menyodorkan kain sarung Samarinda berwarna hijau kepada Gus Miek.Ini Gus saya beri sarung silakan shalat dulu kata KH. Hamid .Gus Miek dan kedua pengikutnya kemudian menuju ke masjid. Ketika saatnya mendirikan sholat Gus Miek hilang dari pandangan. Dicaricari tetap tidak ketemu. Akhirnya keduanya shalat tetapi begitu mengucapkan salam ternyata Gus Miek sudah duduk bersila di sebelah Katsir. Sehabis shalat keduanya menemui KH. Hamid.Wah Gus sampean telat. Tadi malam tepat malam Jum’at saya khataman Riyadh asShalihin dan didatangi Kanjeng Nabi kata KH. Hamid.Gus Miek hanya tersenyum. KH. Hamid kemudian berdiri mengambil sesuatu di atas sebuah jam besar lalu mengulurkan tangannya kepada Gus Miek dan kedua pengikutnya.

KH. Hamid menyuruh Gus Miek mengambil satu demikian juga dengan yang lain lalu kemudian memintanya kembali.Gus Miek yang tadinya mengambil biji yang berada di tengah ketika mengembalikan biji itu ke telapak tangan KH. Hamid berubah menjadi batu akik sementara yan lain masih tetap berupa biji koro. Kemudian KH. Hamid mengembalikannya kepada masingmasing. Kepada Ibnu Katsir KH. Hamid berpesan agar biji itu ditanam dan kelak bila sudah berbuah KH. Hamid akan datang berkunjung ke rumahnya.

Ketiganya lalu berpamitan dan segera mencari rumah Habib Muhamad assyakaf sebagaimana petunjuk KH. Hamid. Ternyata rumahnya dekat sekali dengan rumah KH. Hamid. Tiba di rumah Habib Muhamad assyakaf orangnya tinggi besar dengan suara yang keras dan lantang.Dari mana? Tanya Habib Muhamad asSyakaf.Mau minta doa shalawat jawab Gus Miek.Apa belum shalat di dalam shalat kan banyak shalawat dan banyak doa jawab Habib Muhamad asSyakaf.Habib Muhamad asSyakaf kemudian berdiri dan menjalankan shalat. Akan tetapi uruturutan shalat yang dijalankan Habib Muhamad asSyakaf sungguh kacau balau menurut tata aturan syari’at fiqih pada umumnya.

Usai shalat Habib Muhamad asSyakaf mengambil ceret berwarna keemasan dengan satu gelas besar dan tiga cangkir kecil. Habib Muhamad asSyakaf menuangkan kopi jahe khas Arab lalu memberikan yang paling besar kepada Gus Miek dn sisuruh menghabiskannya. Begitu Gus Miek meminum habis isi gelas besar itu Habib Muhamad asSyakaf kembali menuangkan secara penuh kembali Gus Miek menghabiskan. Kejadian tersebut terus berulang sehingga kedua pengikut Gus Miek menjadi keheranan bagaimana mungkin ceret sekecil itu mempunyai isi yang sedemikian banyak dan betapa kasihan Gus Miek harus meminum minuman yang tidak enak di lidah dan di perut itu sedemikian banyak meski seolah Gus Miek tidak merasakan apa-apa.

Setelah puas saling membuktikan kemampuannya Habib Muhamad asSyakaf menyuruh Gus Miek berdoa dan dia mengamininya.Di tengah perjalanan pulang Ibnu Katsir Siroj memprotes Gus Miek mengenai peristiwa pemberian KH. Hamid. Seharusnya menurut Ibnu Katsir Gus Miek tidak mengambil biji yang tengah karena Gus Miek sudah sakti. Gus Miek menjelaskan pada awalnya memang ingin mengambil yang pinggir tetapi tibatiba ada suara Khayrul umuri ausatbuha (sebaikbaik perkara adalah yang tengah). Lalu Ibnu Katsir meminta sarung Gus Miek tetapi Gus Miek tidak memberikannya karena ia kenangkenangan dari KH. Hamid Pasuruan.

Setelah tiba dan tinggal kembali di Mangunsari semakin hari semakin banyak pengikut Gus Miek baik pengikut Lailiyah maupun santri jalanan yang simpati kepada Gus Miek. Gus Miek hanya menyarankan kepada mereka untuk mengunjungi orangorang saleh sehingga kesadaran mereka bisa muncul dengan sendirinya. Misalkan berkunjung ke KH. Hamid Pasuruan Gus Miek meminta Maskur menyampaikan salamnya kepada KH. Hamid. KH. Hamid yang memhami maksud Gus Miek menerima salam itu sambil terlihat marah (ia tampak habis memarahi rombongan yang masih berada di pelataran rumahnya).Gus Miek siapa! bentak KH. Hamid. Ploso jawab Maskur. Gus Miek itu siapa sembahyang atau tidak bentak KH. Hamid.Ya tidak tahu jawab Maskur.Anak siapa sih Gus Miek itu ya sudah kamu tidak salah saya juga tidak salah sampaikan salam saya kepada Gus Miek kata KH. Hamid .Maskur kemudian mencari Gus Miek ke Ploso Mojoagung Jember Surabaya Botoputih tatapi tidak ketemu. Akhirnya ia balik ke Setonogedong Kediri. Setelah membaca surat Yasin Gus Miek tibatiba muncul.Pembicaraan KH. Hamid dengan Maskur beserta rombongannya tersebut juga disaksikan oleh seorang tamu yang meragukan shalat Gus Miek ingin menemui KH. Hamid untuk menanyakan hal itu.Lho itu yang kau tanyakan itu kan Gus Miek cepat minta maaf. Ayo saya antarkan ajak KH. Hamid seperti gugup. KH. Hamid kemudian membukakan jendela. Lihat itu siapa yang shalat kata KH. Hamid.Orang itu gemetar dan pucat karena melihat Gus miek tengah menjalankan shalat di pucuk pohon mangga beralaskan daundaun mangga.Sudah cari Gus Miek dan minta maaf perintah KH. Hamid.Orang itu pun terus mencari Gus Miek dan baru bertemu Gus Miek setelah dua tahun kemudian.

 

KAROMAH MBAH KH HAMID PASURUAN SUDAH WAFAT MASIH MEMBANGUN PESANTREN

Sumber:Beritasantri.net

Kalau membaca judul di atas kayaknya yang bisa mengalaminya pasti hanya orang tertentu dan mempunyai keistimewahan tersendiri. Ya bisa dipastikan orang tersebut adalah hamba Allah yang mendapatkan nilai lebih dariNya.

Mungkin anda sekalian pernah mendengar cerita tentang kyai Abdul Hamid Pasuruan Kyai yang memiliki akhlaq sangat mulia dan sopan dalam bermasyarakat ini mulai beliau hidup hinga wafat sekalipun terus menjdai panutan dan figur bagi penduduk tanah Jawa khususnya masyarkat Pasuruan.

Selain itu kita juga mungkin pernah mendengar atau membaca tentang sejumlah karomah yang dimiliki kyai kelahiran kota Lasem JawaTengah ini. Sedangkan karomah itu sendiri bisa diketahui sebagai satu keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang tertentu yang menjadi kekasihNya dan yang selalu takut kepadaNya dimanapun ia berada. Karomah tersebut biasanya keluar dengan sendirinya tanpa diduga alias langsung dari Allah SWT. Nah kalau kita bahas tentang karomah pastinya kurang lengkap kalau hanya sebatas keterangan saja. Kali ini penulis mencoba kembali mengungkap salah satu keistimewahan atau karomah yang dimiliki kyai Abdul Hamid.

Alkisah dahulu di Jawa Tengah tepatnya di daerah Klaten di dalamnya terdapat suatu kampung yang warganya pernah mengalami kejadian aneh yang sempat membuat semua warga di dalamnya merasakan rasa ketidakpercayaan atas kejadian yang dialaminya. Berikut ceritanya

Dalam satu komunitas masyarakat baik di daerah di kampung pedesaan kecamatan kota maupun provinsi pasti mempunyai orang yang di percaya oleh penduduknya sebagai orang yang mumpungi atau pandai akan ilmu agama atau dengan kata lain orang tersebut biasa kita panggil sebagai tokoh masyarakat. Nah pada satu ketika tokoh masyarakat di daerah Klaten yang bernama Fulan (bukan nama asli) tersebut kedatangan tamu dari luar kota tamu tersebut bernama Kyai Hamid. Setelah berbincangbincang dan mengutarakan maksud kedatangan si tamu ke daerah tersebut kyai Hamid langsung menjalankan misinya sebagai seorang Da’i yakni berda’wah.

Misi kyai Hamid sebagai seorang muballig kian hari berjalan dengan lancar dan menunjukkan perkembangan. Dalam sederetan agenda da’wahnya beliau memulainya dengan mengadakan pengajian rutinan yang diikuti oleh warga sekitar yang bertempat di Masjid di daerah tersebut. Semakin hari pengajian kyai Hamid mampu menarik warga setempat untuk selalu mendatangi pengajian yang dibinanya. Setiap minggunya bisa dibilang jumlah jama’ah yang hadir dalam pengajian tersebut terus bertambah hingga melebihi kapasitas ruangan dalam Masjid tersebut. Hingga beberapa bulan kemudian jumlah yang mengikuti pengajian kyai Hamid meluber sampai ke pelataran Masjid. Melihat jama’ah pengajiannya begitu banyak dan juga mendapat respon baik dari warga setempat akhirnya muncullah keinginan kyai Hamid untuk membangun sebuah pesantren di desa itu. Beliau mempunyai anggapan mungkin sebagian warga suatu saat akan mengirim anakanak mereka untuk mengaji dan menimba ilmu di pesantren orang yang belum lama mereka kenal dan menetap di sana.

Alhasil pesantren yang di bangun kyai Hamid perlahan banyak di datangi anakanak warga setempat untuk nyantri. Dengan di bantu tokoh masyarakat yang menjadi orang pertama yang dikenal kyai Hamid sekaligus yang banyak membantu da’wah beliau di daerah tersebut. Sesuai dengan amanat yang diberikan kyai Hamid kepadanya dia mengkelola pesantren itu dengan baik. Melihat keadaan pesantren yang semakin hari semakin membaik pesantren pun pada akhirnya dipasrahkan kepada tokoh masyarakat tersebut. Beliau juga berpesan agar selalu menjaga dan merawat pesantren yang didirikannya itu dengan baik.

Di tengahtengah semakin banyaknya santru yang mengaji di pesantren tersebut tanpa bilang sepatah kata pun dan hendak ke mana kyai Hamid pergi begitu saja tanpa memberi kejelasan kepada tokoh masyarakat tersebut dan warga setempat.

Dua tahun silam telah berlalu kepergian kyai Hamid pun dari daerah tersebut menimbulkan tanda tanya dan mendorong rasa penasaran tokoh masyarakat untuk mengetahui keberadaan orang yang telah banyak berjasa di daerahnya tersebut. Dia ingat sebelum pergi meninggalkan kampungnya dua tahun lalu kyai Hamid pernah menuliskan sebuah alamat kepadanya.

Setelah mencari kertas yang berisikan alamat yang ditulis kyai Hamid dia baca dan menganalisa di daerah mana alamat tersebut berada. Dan yang tertulis di dalamnya adalah alamat PonPes Salafiyah Pasuruan. Dia pun tanpa berfikir panjang berencana untuk mendatangi pondok tersebut.

Ke esokan harinya ia jadi berangkat ke Pasuruan. Setelah sampai di Pasuruan ia pun kesanakemari dan mutermuter mencari alamat yang ada disobekan kertas itu hinga pada akhirnya alamat yang di maksud ketemu. Sesampainya di dalam pondok dia menanyakan ke salah satu santri tentang kyai Hamid. Santri yang ditanyai pun sempat kaget dan heran namun kebetulan dia tahu bahwa salah satu kyainya itu adalah seorang wali besar jadi kalau kalau saat ini ada orang yang mencari kyai Hamid mungkin orang tersebut pernah bertemu di daerah lain. Karena orang tadi bertanya rumah kyai Hamid lantas dia menyarankan untuk sowan ke kyai Idris yang saat itu menjadi Nadhir atau pimpinan pondok.

Sesampainya di ndalem kyai Idris dia langsung bercerita panjang lebar semua yang terjadi dua tahun silam di desanya. Kyai Idris yang dari tadi hanya menjadi pendengar tidak percaya dan juga heran ha . . . apa benar yang diceritakan bapak itu? kata kyai Idris kepada Fulan tadi. Iya betul sungguh saya bertemu dengan kyai Hamid lha wong saya juga sering salaman dengan beliau. Beliau juga sempat mendirikan sebuah pesantren di sana tapi ditinggal begitu saja selama dua tahun makanya itu saya kemari untuk menayakan kepada kyai Hamid mengapa pondoknya di san kok di tinggal? jelas si fulan. Saya tadi kaget dan tidak percaya dengan cerita sampean karena kyai Hamid sudah lama meninggal. Ungkap kyai Idris. Memang anda ini siapa? kok berani bilang kalau kyai Hamid sudah wafat? tanya si fulan sambil menunjukkan rasa tidak terima terhadap apa yangtelah dikatakan kyai Idris kepadanya. Saya putra kyai Hamid jawab kyai Idris santai. Kini gantian si fulan tadi yang tidak percaya dan heran. Kalau anda masih tidak percaya kyai Hamid itu sudah meninggal mari ikut saya saya akan tunjukkan makam beliau kepada sampean Kata kyai Idris yang berusaha meyakinkan si fulan. Tanpa berpikir panjang si fulan pun langsung mengiyakan ajakan beliau.

Berangkatlah keduanya menuju makam kyai Hamid yang bertempat di komplek pemakaman di belakang Masjid Jami’ AlAnwar Pasuruan. itu makam Abah saya kata kyai Idris sambil menunjukkan makam kyai Hamid. Si fulan pun tidak percaya dan heran. Baru setelah menghampiri makam yang di maksud dan membaca sebuah nama yang tertera di batu nisan makam kyai Hamid dia akhirnya mempercayainya. Tak lama kemudian dia menangis sejadijadinya mulai jam delapan pagi sampai jam lima sore di depan makam kyai Hamid. Setelah puas menangis di depan makam kyai Hamid dia pun pulang dengan kabar yang sulit untuk dipercaya orangorang di kampungnya yakni desa Klaten.

Sesampainya di kampung halamannya keesokan harinya dia mengumpulkan warga yang dulu sering mengikuti pengajian kyai Hamid untuk menyampaikan kabar yang dia bawa dari Pasuruan. Warga pun datang berbondongbondong datang ke masjid untuk mendengarkan kabar keberadaan kyai Hamid yang telah menjadi tauladan bagi mereka. Setelah semuanya berkumpul ia pun menjelaskan kanytaan yang dialaminya di Pasuruan. Anda semua boleh percaya boleh tidak. Yang penting berita yang saya bawa ini benar adanya. Si tokoh mengawali pembicaraan kepada para warga. Lalu dia melanjutkan Sesungguhnya kyai yang selama ini menjadi Imam pengajian kita yang sempat anda semua dan saya salami dan mencium tangannya yang telah mendirikan pesantren di desa ini telah lama meninggal. Artinya selama berada di sini kyai Hamid tersebut sebenarnya sudah lama wafat. Mendengarkan berita darinya warga pun langsung geger dan banyak yang tidak percaya. Lalu untuk menjawab tekateki yang sedang berkecamuk di tengah warga tesebut dia menawarkan diri untuk mengantarkan mereka semua ke makam kyai Hamid. Baiklah! kalau anda semua masih tidak percaya silakan kalian menyewa Bus untuk pergi berombongan ke makam kyai Hamid di Pasuruan dan saya yang akan menjadi pemimpin rombongan sekaligus penunjuk arah. bagaimana? tawarnya. Semua warganya pun langsung menyetujui tawaran tersebut. Jadilah rencana mereka untuk pergi ke Pasuruan.

 

Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang akhirnya rombongan yang ingin mencari tahu kebenaran berita yang di sampaikan tokoh masyarakat mereka itu sampailah mereka di depan alunalun Pasuruan. Tak lama kemudian mereka langsung di giring oleh ketua rombongan untuk menuju makam kyai Hamid. Setelah sampai di areal pemakamam tersebut si fulan tadi langsung berjalanan menuju areal pemakaman yang berada di dalam dan langsung menunjukkan makam kyai Hamid itulah makam kyai Hamid katanya sambil menyuruh warganya melihat lebih dekat lagi dan membaca nama yang tertera pada batu nisan tersebut. Seketika itu semua rombongan yang diikuti seluruh warga kampung di Klaten itu menangis sejadijadinya. Tangis mereka menandakan rasa sedih yang begitu mendalam sekaligus merasa heran karena sang kyai yang selama ini memimpin pengajian mereka yang sering mereka cium tangannya ternyata sudah wafat beberapa tahun lalu.

Subhanallah kejadian di atas kalau kita pikirkan dengan logika pasti tidak akan sampai. Tapi yang mengalami adalah seorang wali yakni kekasih Allah. Dan kisah di atas menunjukkan atas kekuasaan yang dimiliki Allah SWT. Kita harus percaya semua itu karena yang mengalami adalah seorang wali orang yang taat dan selalu dekat dengan Allah. Jadi kalau dia bisa terbang atau bisa mengalami hal di atas itu semua keistimewaan yang diperolehnya atas ketaatannya kepada Allah ..

Terkuaknya Kewalian Kyai Hamid Pasuruan Dan Kisah Salamnya Kyai Hamid kepada ‘Wali Gila’ di Pasar Kendal.

Terkuaknya Kewalian Kyai Hamid Pasuruan Dan Kisah Salamnya Kyai Hamid kepada ‘Wali Gila’ di Pasar Kendal.

Suatu ketika seorang Habib dari Kota Malang ketika masih muda yaitu Habib Baqir Mauladdawilah (sekarang beliau masih hidup) diijazahi sebuah doa oleh alUstadzul Imam AlHabr alQuthb alHabib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih Habib Abdulqadir Bilfaqih berpesan kepada Habib Baqir untuk membaca doa tersebut ketika akan menemui seseorang agar tahu sejatinya orang tersebut siapa orang atau bukan.

Suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui seorang waliyullah di daerah Pasuruan Jawa Timur yang masyhur dengan nama Mbah Hamid Pasuruan.

Ketika itu di tempat Mbah Hamid banyak sekali orang yang sowan kepada beliau meminta doa atau keperluan yang lain.

Setelah membaca doa yang diijiahkan Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti Mbah Hamid sejatinya bukan Mbah Hamid. Beliau mengatakan: Ini bukan Mbah Hamid ini adalah khodamnya. Mbah Hamid tidak ada di sini Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya Mbah Hamid.

Setelah bertemu dengan Mbah Hamid yang asli Habib Baqir bertanya kepada beliau: Kyai Kyai jangan begitu.

Mbah Hamid menjawab: Ada apa Bib?

Habib Baqir kembali berkata: Kasihan orangorang yang meminta doa itu doa bukan dari panjenengan yang mendoakan itu khodam. Panjenengan di mana waktu itu?

Mbah Hamid tidak menjawab hanya diam. Namun Mbah Hamid pernah menceritakan masalah ini kepada Seorang Habib sepuh. Habib sepuh tersebut juga pernah bertanya kepada beliau

Saat itu Habib sepuh tersebut bertanya: Kyai Hamid waktu banyak orangorang meminta doa kepada njenengan yang memberikan doa bukan njenengan njenengan di mana. Kok tidak ada..?

Jawab Mbah Hamid: Hehehee.. ke sana sebentar.

Habib sepuh tersebut semakin penasaran: Ke sana ke mana Kyai?

Jawab Mbah Hamid: Kalau njenengan pengen tahu datanglah ke sini lagi.

Singkat cerita Habib sepuh tersebut kembali menemui Mbah Hamid ingin tahu di mana tempat persembunyian beliau. Setelah bertemu bertanyalah Habib sepuh tadi: Di mana Kyai?

Mbah Hamid tidak menjawab hanya langsung memegang Habib sepuh tadi. Seketika itu kagetlah Habib sepuh tadi melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi bangunan Masjid yang sangat megah.

Di mana ini Kyai? Tanya Habib sepuh tadi.

Monggo njenengan pirsani piyambek niki teng pundi (Silakan kamu lihat sendiri ini di mana_red) jawab Mbah Hamid.

Subhanalloh ternyata Habib sepuh tadi dibawa oleh Mbah Hamid mendatangi Masjidil Haram.

Habib sepuh kembali bertanya kepada Kyai Hamid: Kenapa njenengan memakai doa?

Mbah Hamid kemudian menceritakan: Saya sudah terlanjur terkenal saya tidak ingin terkenal tidak ingin muncul hanya ingin asyik sendirian dengan Allah saya sudah berusaha bersembunyi bersembunyi di mana saja tapi orangorang selalu ramai datang kepadaku. Kemudian saya ikhtiar menggunakan doa ini itu yang saya taruh di sana bukanlah khodam dari jin melainkan Malakul Ardhi Malaikat yang ada di bumi. Berkat doa ini Allah Ta’ala menyerupakan malaikatNya dengan rupaku.

Habib sepuh yang menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut sampai meninggalnya merahasiakan apa yang pernah dialaminya bersama Mbah Hamid hanya sedikit yang diceritakan kepada keluarganya.

Lain waktu ada tamu dari Kendal sowan kepada Mbah Hamid. Lantas Mbah Hamid menitipkan salam untuk si fulan bin fulan yang kesehariannya berada di Pasar Kendal menitipkan salam untuk seorang yang dianggap gila oleh masyarakat Kendal. Fulan bin fulan kesehariannya berada di sekitar pasar dengan pakaian dan tingkah laku persis seperti orang gila namun tidak pernah mengganggu orangorang di sekitarnya.

Tamu tersebut bingung kenapa Mbah Hamid sampai menitip salam untuk orang yang dianggap gila oleh dirinya.

Tamu tersebut bertanya: Bukankah orang tersebut adalah orang gila Kyai.?

Kemudian Mbah Hamid menjawab: Beliau adalah wali besar yang menjaga Kendal rahmat Allah turun bencana ditangkis itu berkat beliau sampaikan salamku.

Kemudian setelah si tamu pulang ke Kendal menunggu keadaan pasar sepi dihampirilah orang yang dianggap gila tersebut yang ternyata Shohibul Wilayah Kendal.

Assalamu’alaikum… Sapa si tamu.

Wali tersebut memandang dengan tampang menakutkan layaknya orang gila sungguhan kemudian keluarlah seuntai kata dari bibirnya dengan nada sangar: Wa’alaikumussalam.. ada apa..!!!

Dengan badan agak gemetar si tamu memberanikan diri. Berkatalah ia: Panjenengan dapat salam dari Kyai Hamid Pasuruan Assalamu’alaikum…

Tak beberapa lama wali tersebut berkata: Wa’alaikumussalam dan berteriak dengan nada keras: Kurang ajar si Hamid aku berusaha bersembunyi dari manusia agar tidak diketahui manusia kok malah dibocorbocorkan. Ya Allah aku tidak sanggup kini telah ada yang tahu siapa aku aku mau pulang saja gak sanggup aku hidup di dunia.

Kemudian wali tersebut membaca sebuah doa dan bibirnya mengucap: Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah…

Seketika itu langsung meninggallah sang Wali di hadapan orang yang diutus Mbah Hamid.

Subhanallah… begitulah para Walinya Allah saking inginnya berasyikasyikkan hanya dengan Allah sampai berusaha bersembunyi dari keduniawian tak ingin ibadahnya diganggu oleh orangorang ahli dunia Bersembunyinya mereka memakai cara mereka masingmasing. Oleh karena itu janganlah kita su’udzon terhadap orangorang di sekitar kita janganjangan dia adalah seorang Wali yang bersembunyi.

Jadi ingat nasihat Maha Guru kami alQuthb alHabib Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih: Jadikanlah dirimu mendapat tempat di hati seorang Auliya.

Semoga nama kita tertanam di hati para kekasih Allah sehingga kita selalu mendapat nadzrah dari guru-guru kita dibimbing ruh kita sampai terakhir kita menghirup udara dunia ini Aamiin.

 

RASULULLAH MUHAMMAD SAW: KH. ABDUL HAMID PASURUAN

Kyai Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Basyaiban BaAlawi dilahirkan di Lasem Rembang Jawa Tengah tahun 1333.H dilahirkan dengan nama kecil Abdul Mu`thi. sejak kecil beliau dibimbing oleh ayahanda beliau setiap hari beliau mengaji di mushola yang terletak persis di samping rumah beliau.

 

Naik Haji
Suatu ketika KH.Siddiq singgah di Lasem dan langsung mengajak Kyai Hamid menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Rasululloh SAW. Sepulang dari Makkah pada usia 15 tahun beliau dipondokan ke pondok pesantren Tremaspacitan.

Mondok di TremasPada periode Tremas inilah potensi spiritual kyai Hamid mulai terasa. kecemerlangan spiritualnya membuat kagum banyak pihak hingga tidak sedikit kawan beliau menjadkan kyai Hamid sebagai guru dan mengikuti jejak beliau ke Pasuruan.

 

Menikah di Pasuruan
kyai Hamid dinikahkan degan putri Kyai Ahmad Qusairy kebonsari pasuruan. dan sejak itu beliau tinggal dan menetap di Pasuruan. kehidupan Kyai Hamid teramat sederhana beliau bekerja sebagai guru ngaji dan juga sebagai belantik. pekerjaan belantik itu di daerah bangil dengan jarak kurang lebih 15 km sebelah baratPasuruan. setiap hari beliau ke sana dnegan menggunakan sepeda beliau menjalani itu semua dengan tabah. sampai sampai beliau hanya mempunyai satu sarung yang sudah menerawang sangking tuanya sehingga setiap sholat beliau menutupinya dengan sorban.

Berguru pada Habib Ja`far
Periode pasuruan adalah periode emas dari perjalanan spiritual beliau. disinilah beliau mulai dan mungkin mengasah diri dengan pancaran ruhhul ilahiyah yang begitu cemerlang. di Pasuruan ini pula beliau semakin mendekatkan diri pada kalangan ulama dan habaib kususnya dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf pasuruan yang merupakan guru utama beliau. bersama habib ja`far inilah potensi spiritual beliau semakin terasa hal ini diakui oleh habib ja`far bahwa dibanding murid yang lain kyai hamid memiliki keunggulan tersendiri yang sangat sulit dicapai oleh orang lain. kekaguman dan kepercayaan habib ja`far diwujudkan dengan dipercayakanya Kyai Hamid untuk menjadi imam sholat Maghrib dan isya` di kediaman habib ja`far meski demikian kyai hamid tetap tidak mengurangi takzim beliau kepada sang guru begitu merendahnya kyai hamid dihadapan habib ja`far ibarat penda ditangan pemiliknya Pena tidak akan bergerak jika tidak digerakan pemiliknya demikian juga kyai hamid keberadaanya seakan hilang dan menyatu dengan habib ja`far. keunggulan kyai hamid di bidang keilmuan mungkin dapat diungguli oleh orang lain namun dua hal menjadi kelebihan tesendiri bagi kyai hamid adalah sifat zuhud dan tawadhu yang jarang dimiliki oleh orang lain. bahkan ketika habib ja`far wafat ketika ziaroh ke makam habib ja`far kyai hamid sangking takzimnya dan tawadu nya tidak berani duduk lurus pada posisi kepala tapi selalu duduk pada posisi kaki habib ja`far. inilah sifat tawaddhu beliau yang sangat tinggi.
Isyarat Kewalian
tidak lama setelah wafatnya habib ja`far semakin tampak pancaran kemuliaan kyai hamid. nampaknya beliau mewarisi asror habib ja`far sebagai waliyulloh hal ini ada yang melihat pulung atau ndaru yang cemlorot di malam hari berpindah dari rumah habib ja`far ke daerah pondok pesantren salafiyah tempat kyai hamid tinggal.

Beberapa Karomah Kyai Hamid
suatu ketika ada seseorang meminta nomertogel apda kyai hamid. oleh kyai hamid diberi dengan syarat jika dapat uangnya harus dibawa kehadapan kyai hamid. dan oleh orang tersebut dipasanglah nomer tersebut dan menang. uangnya dibawa kehadapan kyai hamid. oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. dan terlihat isinya darah dan belatung. kyai hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?”. orang tersebut menangis dan pulang kemudian bertobat.
Setiap pergi ke manapun kyai hamid selalu didatangi oleh umat yang berduyun duyun meminta doa padanya. bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat kyai hamid?mengapa orang selalu datang memuliakanya?konon inilah keistimewaan beliau beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT.
pada suatu saat orde baru ingin mengajak kyai hamid masuk partai pemerintah. kyai hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat itu. ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya kyai hamid menerimanya dan menandatanganinya. anehnya pulpennya tak bisa keluar tinta diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. ahirnya kyai hamid berkata “bukan saya lo yang gak mau bolpointnya yang gak mau”. itulah kyai hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.

Akhir Hayat
8 rabiul awal 1403.H sehari sebelum beliau wafat bertepatan dengan acara haul ayahanda beliau kyai abdulloh bin umar beliau menyempatkan diri ke lasem dan datang ke rumah gede tempat dimana beliau dilahirkan. tidak seperti biasanya beliau sholat 2 rakaat didekat tiang utama lalu memimpin masyarakat sekitar yang datang untuk bertahlil seperti mengantar jenazah ke kuburan. tanggal 9 rabiul awal 1403H. beliau berpulang ke rahmatulloh umatpun menangis gerak kehidupan dipasuruan seakan terhenti bisu oleh luka yang dalam puluhan bahkan ratusan ribu orang membanjiri pasuruan memenuhi relung relung masjid agung al anwar dan alun alun serta memadati gang gang dan ruas jalan didepannya. beliau dimakamkan di turba belakang masjid agung al anwar pasuruan. ribuan umat selalu menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.

IjazahIjazah
Seperti kebanyakan para kiai Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:
1. Membaca Surat AlFatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaibankeajaiban yang tak terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali selepas shalat Dhuhur 25 kali setelah Ashar 20 kali setelah Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
2. Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab Dala’ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.

 

Wallohu a’lam bisawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here