Tasawuf dan akhlak itu tidak sama, karena orang yang baik akhlaknya belum tentu ia seorang Sufi. Tasawuf juga bukan ilmu hikmah atau pengobatan alternatif, seperti ilmu kebal itu juga bukan tasawuf. Tasawuf juga tidak ada kaitannya dengan orang yang perbanyak ibadah, karena tasawuf tidak ada kaitannya dengan kuantitas ibadah.

Tasawuf ada yang memakanai dari shofa (bersih), jadi shofa adalah orang hatinya bersih, namun dari segi bahasa salah. Ada Ibnu Jauzy yang memaknai suffah, dari kata Ahlu suffah yang tinggal di teras masjid Madinah, jadi ahli tasawuf seperti orang yang tulus dalam bersahabat, salah satu tokohnya Abu Dzar Al-Ghifari. Imam Al-Qusyairi berpendapat, tasawuf dari kata shuf yang artinya bulu domba, orang yang memakainya disebut shufi, jadi seorang shufi adalah orang yang mementingkan penampilan bathin daripada lahir.

Jabir bin Hayyan adalah orang yang pertama mendapatkan gelar shufi, ia penemu teori al-Jabar dan Kimia. Orang kedua adalah Abdul Karim bin Usman, ia seorang vegetarian, sangat zuhud, tawakal, tidak pernah membenci siapapun. Orang ketiga adalah Abu Hasyim Al-Kuffi.

Sufyan Ats-Tsauri belajar pada Abu Hasyim Al-Kuffi tentang definisi riya dan syirik, dikatakan Abu Hasyim bahwa orang yang ibadah karena ingin dilihat orang itu riya dan yang ibadah karena takut dilihat orang itu syirik. Jadi coret kata orang, ganti jadi lilahi ta’ala.

Orang yang pertama kali mendefinisikan tasawuf adalah Syekh Makruf Al-Kharki. Ia definisikan tasawuf itu mencari kebenaran dan berpaling dari kepalsuan. Imam Dzunun Al-Mishri mengatakan shufi adalah orang yang mendahulukan Allah dan mengalahkan yang lainnya. Seseorang orang yang mendahulukan Allah, maka Allah akan mendahulukannya.

Ceramah KH.Said Aqil Siradj di Masjid Sunda Kelapa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here