Oleh Labib Syarief

Sebelumnya saya telah menulis soal rencana Gus Yahya mengunjungi Israel. Yakni untuk menerima undangan menjadi pembicara di American Jewish Comitte (AJC) di Israel. Polemik dan pro kontra muncul dalam rencana ini, termasuk yang terparah yaitu NU difitnah memiliki kerjasama dengan Israel. Padahal apa yang dilakukan Gus Yahya bukan sama sekali untuk itu, melainkan hanya untuk melakukan diplomasi lembut untuk berdialog membawa nilai-nilai perdamaian, kemanusiaan dan keadilan, serta kedaulatan Palestina kehadapan Israel. Diplomasi ini perlu dilakukan, sebab sudah cukup banyak diplomasi keras seperti kecaman yang bahkan dilakukan oleh seluruh elemen di Indonesia. Kedua diplomasi ini sebenarnya juga sama-sama ditujukan untuk perjuangan kedaulatan Palestina ke Israel. Begitulah sedikit gambaran yang pernah saya tulis memandang rencana kunjungan Gus Yahya ke Israel.

Meskipun Gus Yahya menghadiri forum AJC atas nama pribadi, tetapi karakter ke-NU-annya tidak terlepas dalam dirinya. Hal ini terlihat jelas dalam pidatonya pada 10 Juni 2018 di depan AJC. Beliau menyampaikan pentingnya Rahmah, sebuah istilah yang biasa disebut Islam. Rahmah adalah kasih sayang dan peduli terhadap sesama. Sehingga semuanya harus memilih Rahmah yang merupakan langkah awal dari semua yang diidamkan. Sebab jika seseorang memiliki Rahmah, maka ia juga baru dapat berbicara soal keadilan. Beliau juga menjelaskan apa yang dilakukannya adalah sebatas melanjutkan perjuangan Gus Dur dan menekankan bahwa idealisme dan visi Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Apa yang disampaikan oleh Gus Yahya yaitu ‘Rahmah’, menurut saya bisa juga disebut dengan ‘universalitas cinta’, yaitu sebuah norma, pemahaman dan prinsip yang diterima oleh semua agama. Hanya dengan cintalah yang akan menganulir kebencian dan menimbulkan rasa untuk perdamaian dan persaudaraan. Jika universalitas cinta sudah diaplikasikan oleh semua elemen masyarakat dunia, maka konflik kemanusiaan yang terjadi di seluruh dunia akan mereda. Termasuk konflik Israel dengan Palestina. Itulah menurut saya makna yang dikirimkan oleh Gus Yahya ke Israel. Jadi sejatinya beliau itu ‘menekan’ dan berupaya ‘menyadarkan’ Israel dengan cara diplomatis.

Dalam perspektif Hubungan Internasional, hal yang harus ditekankan untuk melihat sikap yang dilakukan oleh Gus Yahya dalam pidatonya di AJC adalah harus dibedakan pendekatan antara aktor negara dan non negara. Apa yang Gus Yahya lakukan bukanlah berperan menjadi aktor negara, melainkan berperan menjadi aktor non negara. Sehingga pendekatan yang dilakukan sangat berbeda atas apa yang dilakukan oleh aktor negara pada umumnya daripada pendekatan yang dilaksanakan oleh aktor non negara. Jika negara bersikap berdasarkan kepentingan nasionalnya. Berbeda dengan aktor non negara, ada aktor non negara bertindak dengan idealismenya. meskipun saya juga akui juga ada aktor non negara yang bersifat pragmatis. Namun berbeda dengan aktor non negara seperti halnya NU, NU tercatat dalam sejarah sangat berpegang teguh idealisme nilai. Dimana NU anti penjajahan dan selalu mengutamakan kemanusiaan dan keadilan. Hal ini sudah terbukti dengan dikirimnya Komite Hijaz dalam berdiplomasi dengan Raja Arab pada masa itu dan Resolusi Jihad melawan penjajah pada 10 November 1945. Keduanya mencerminkan idealisme nilai-nilai NU menghadapi negara lain.

Hal itulah kiranya yang dilakukan Gus Yahya dalam keputusannya berpidato di AJC, yaitu membawa dan menawarkan gagasan-gagasan NU seperti rahmah, perdamaian, kemanusiaan dan keadilan ke panggung internasional. Gagasan NU inilah yang termasuk dibawa oleh beliau dalam berhadapan dengan Israel secara langsung melalui pidatonya. Meskipun saya duga Israel juga ada kepentingan dalam undangan tersebut, tapi saya sangat yakin Gus Yahya sudah menyadari itu dan sudah memperhitungkan positif negatifnya dalam mengambil keputusan menghadiri forum AJC ini. Dimana dalam kehadirannya tersebut, ia telah mengirim sinyalemen bahwa NU itu punya daya tawar tehadap Israel dan berani dalam berdiplomasi mengedepankan gagasan idealisme NU, termasuk di antaranya memperjuangkan Palestina. Maka saya nilai keputusan Gus Yahya untuk berpidato di AJC tersebut sangatlah tepat.

Pemerintah Indonesia sudah sangat benar bersikap mengecam semua tindakan Israel karena melakukan penjajahan ke Pelastina. Hal ini sudah sesuai dengan amanat konstitusi. Maka sudah sewajarnya NU lah yang masuk melalui jalur diplomasi lembut ke Israel. Padahal sejatinya baik pemerintah maupun NU, sama-sama memperjuangkan kedaulatan Palestina dan anti penjajahan Israel. Kemudian yang harus diingat, tindakan diplomasi lembut NU ini bukan berarti NU berdiam diri dengan segala sikap represif Israel. NU juga akan mengutuk sikap kerasnya Israel tehadap Palestina. Jadi saya tekankan pentingnya dua jalur diplomasi, diplomasi keras dan lembut demi tercapainya kemerdekaan Palestina. Dimana momen undangan Israel melalui AJC menjadi momen diplomasi lembut NU kepada mereka, tapi sekali lagi, sejatinya, selain membawa gagasan nilai-nilai NU, juga memperjuangkan cita-cita yang sama yaitu kedaulatan Palestina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here