Oleh: Labib Syarief

Pada tanggal 20 Maret 2018, dunia dikejutkan dengan kematian Sudan, seekor Badak Putih Utara yang berjenis laki-laki dan yang terakhir di dunia serta merupakan salah satu binatang langka di dunia yang terancam punah. Padahal Sudan sedang dalam proses perawatan dan penyembuhan di Konservator OI Pejeta di negara Kenya. Dimana menurut Konservator ini, kematian Sudan dikarenakan faktor umur yang berusia 45 tahun dan komplikasi penyakit setelah ia harus bergelut dengan penyakit yang dideritanya dan tidak mampu lagi untuk bertahan. Menjelang kematiannya, Sudan mengalami keadaan yang memburuk bagian otot dan tulangnya, serta luka kulit yang melebar. Sehingga kematian Sudan merupakan keadaan yang paling buruk dari penyakitnya. Dimana sebelumnya Sudan telah menghabiskan dua minggu, sejak akhir Februari hingga awal Maret, berada di kandang untuk proses penyembuhan karena menderita luka yang buruk pada kaki belakang kanannya.

Sudan merupakan bagian dari upaya keras untuk menyelamatkan sub spesies yang terancam punah dengan bantuan dua badak yang berjenis perempuan, yaitu Najin yang berumur 27 tahun, dan Fatu berumur 17 tahun. Tetapi akhirnya gagal, setelah segala upaya untuk menyelamatkannya. Padahal tahun sebelumnya, tahun 2017, Konservator fauna langka telah membuat akun di aplikasi Tinder, atas nama Sudan, dengan harapan mendapatkan bantuan dana yang cukup untuk membayar biaya perawatan penggemukannya yaitu sekitar 9 juta Dolar. Dimana Sudan sebelumnya juga telah dirawat di kebun binatang Dver Kralove di Republik Ceko, sebelum ia dibawa ke OI Pejeta di Kenya dan tinggal dengan dua badak jenis perempuan di jenisnya.

“Ia merupakan perwakilan yang luar biasa untuk jenisnya dan akan diingat sebagai upaya yang ia lakukan untuk meningkatkan kesadaran secara global dalam menghadapi keadaan yang terburuk (terancam punahnya fauna langka) yang tidak hanya untuk badak, tapi juga untuk banyaknya ribuan dari spesies lain yang menghadapi kepunahan akibat dari hasil aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan” ucap pemilik Konservator OI Pejeta, Richard Vigne.

Sudan merupakan fauna yang luar biasa dalam sepanjang hidupnya, karena banyak ribuan pengunjung tertarik melihatnya di Dver Kralove dan di OI Peteja.


Mengambil Pelajaran dari Kematian Sudan, Fauna Langka dan Terancam Punah

Kematian Sudan, seekor Badak Putih Utara yang berjenis laki-laki, dan hanya tersisa 2 ekor perempuan di jenisnya, dapat diketahui menjadi akhir dari jenis badak ini yang akan punah. Karena kematian Sudan, meski masih tersisa badak perempuan di jenisnya, tetap akan berdampak pada tidak berlangsungnya perkembangbiakkan badak jenis ini. Sehingga wajar, saat Sudan masih hidup, keberadaan Sudan, Badak Putih Utara yang berjenis laki-laki dan badak perempuan di jenisnya menimbulkan harapan dapat berlangsungnya dan berlanjutnya keberadaan jenis badak ini yang terancam punah. Sehingga perawatan Sudan dilakukan oleh pihak sejumlah pihak, terutama pihak Konservetor, merupakan upaya penyelamatan badak jenis ini. Namun ternyata badak laki-laki yang terakhir di jenis ini, yakni Sudan tidak mampu lagi bertahan hidup setelah berjuang melawan penyakitnya.

Fauna langka di dunia dan terancam punah bukan hanya Sudan yang merupakan Badak Putih Utara yang berjenis laki-laki yang terakhir, masih banyak fauna lainnya yang sama dan bernasib dengan Sudan. Di antara jenis fauna yang terancam punah yaitu Badak Jawa yang berada di negara kita, Indonesia. Badak Jawa termasuk 5 spesies badak yang langka, sehingga diketagorikan sebagai fauna critically endangered (paling terancam dan sangat kritis). Badak ini diperkirakan hanya tersisa 50 ekor dan hanya berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
Banyaknya kelangkaan fauna dan terancam punah, seperti Badak Putih Utara dan Badak Jawa, menurut National Geographic dikarenakan Pertama, Hilangnya habitat, yaitu rusaknya ekosistem darat dan laut, seperti karena pembangunan gedung dan jalan. Kedua, Eksploitasi Alam, yaitu perburuan, memancing dan berdagang, seperti perburuan liar untuk dijual dan dikoleksi. Ketiga, Polusi, yaitu menjadi penyebab secara tidak langsung membunuh binatang, seperti pengacauan proses reproduksi.

Oleh karena itu, kematian Sudan seharusnya menjadi pelajaran untuk kita, bahwa menjaga fauna, utamanya fauna langka, sama saja kita menjaga amanah yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Maka jika kita berbuat baik kepada fauna, sama saja kita menyayangi makhluk ciptaan-Nya. Selain itu, tanpa keberadaan fauna, ekosistem bumi akan terganggu, karena makhluk di bumi, yakni manusia, tumbuhan dan fauna serta tempat tinggalnya makhluk hidup tersebut yaitu alam adalah sifatnya saling membutuhkan. Dimana fauna termasuk makhluk yang vital dalam keseimbangan ekosistem, sebab manusia bergantung pada ekosistemnya untuk makan, minum, bernapas dan kegiatan bertahan hidup lainnya.

Sumber: Independence, National Geographic dan dikomentari oleh penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here