Adriansyah

Beberapa tokoh yang mengaku ulama di Purwakarta mengatakan bahwa Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) adalah raja syirik, dimana patung-patung pewayangan di Purwakarta dianggap sebagai berhala. Bahkan kereta kencana yang dipajang juga dianggap sebagai bentuk syirik. Akhirnya patung-patung tersebut dirubuhkan oleh sebuah ormas. Padahal, kalau serius berantas kemusryrikan, sebaiknya patung-patung di mabes TNI juga harus dihancurkan, itu juga kalau bernyali besar.

Pada saat ada isu Dedi Mulyadi ingin mencalonkan diri menjadi calon Gubernur Jawa Barat, muncul demontrasi yang menebarkan spanduk “Dedi Musuh Islam,” maka ketika seorang muslim dikatakan sebagai musuh Islam bisa dikatakan itu adalah bentuk takfiri (vonis kafir). Kelompok ini mirip dengan kelompok Khawarij yang fasis dan radikalis. Kelompok ini tidak mau ada keragaman pemahaman, sehingga mudah menghardik siapa saja yang berbeda dengan pahamnya.

KH. Ma’ruf Amin selaku ketua Rois Aam PBNU sangat dekat dengan Dedi Mulyadi, bahkan beliau didampingi oleh bupati Purwakarta ini saat menghadiri haul Syekh Baing Yusuf di Puwakarta. Saat itu Dedi Mulyadi tidak mendapatkan dukungan dari Setyo Novanto yang saat itu masih menjadi ketua umum Golkar, namun Kiai Ma’ruf Amin mengatakan bahwa Dedi Mulyadi akan dapat jalan keluar karena kesabarannya. Ternyata doa Kiai terjawab, Setyo Novanto diciduk KPK karena terbukti korupsi, lalu Airlangga Hartanto selaku ketum Golkar terpilih memberikan surat rekomendasi untuk Dedi Mulyadi maju menjadi calon wakil Gubernur Jawa Barat. Dukungan ulama sekelas KH. Ma’ruf Amin telah mematahkan bahwa sosok Dedi Mulyadi sebagai musuh Islam.

Para ulama Priangan Timur sempat melakukan tabayyun dengan Dedi Mulyadi terkait isu-isu seputar penodaan agama Islam, hasil konsensus ulama Priangan bahwa ajaran Dedi Mulyadi tidak bertentangan dengan syariat Islam, justru bagi mereka Dedi Mulyadi mengikuti ajaran walisongo yang berdakwah lewat budaya. Akhirnya para ulama Priangan mendukung Dedi Mulyadi sebagai wakil Gubernur Jawa Barat, dan menitipkan program pengajaran kitab kuning diseluruh Jawa Barat. Bisa dipastikan kelompok fasis kehilangan muka.

Berdasarkan survey sementara Poltracking, Ridwan Kamil-UU Ruzhanul Ulum meraih 45% dan Dedi Mizwar-Dedi Mulyadi meraih 35,8% (selisih 6,2%). Sedangkan pasangan Sudrajat-Syaikhu hanya mampu mendapatkan 10,7%. Artinya, kampanye SARA tidak laku di pilkada Jawa Barat yang memiliki ulama-ulama moderat, dan kaos 2019 Ganti Presiden sepertinya juga kurang laku di Jawa Barat.

Penulis berkesimpulan, kampanye SARA yang dilakukan oleh politisi dan partai politik memiliki tiga sebab, adapun diantaranya adalah: Pertama, membawa ideologi transnasional yang fasis seperti Ikwanul Muslimin. Kedua, ambisi berlebihan karena sering kalah di pilpres. Ketiga, kinerjanya buruk, miskin konsep, sedikit tolol, sehingga cuma bisa menjadikan isu sentimen SARA untuk menghantam semua lawan politiknya.

Misi universal semua agama adalah memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan. Jadi, pilihlah calon Gubernur Jawa Barat yang memiliki konsep dan pengalaman kinerja yang baik. Jauhi segala pemikiran barbar yang senang mengkafirkan dan mengintimidasi demi syahwat kekuasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here