Ketika Kyai Haji Hasyim Asy’ari meninggal dunia pada 25 Juli tahun 1947 maka diangkatlah Kyai Haji Wahab Hasbulloh sebagai pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama, dalam kepemimpinan Kiai Wahab Hasbulloh telah terjadi ketegangan antara kelompok Islam tradisionalis dengan Islam modernis yang tergabung dalam partai Masyumi. Setelah adanya kongres Masyumi pada tahun 1949 yang mengantarkan Muhammad Nasir sebagai ketua, Kyai Haji Wahab Hasbulloh mengusulkan agar Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi sebab sepak terjang Nahdlatul Ulama dibatasi oleh kelompok modernis. Mulanya kebijakan Kyai Wahab Hasbulloh ditentang oleh banyak kalangan karena dikhawatirkan NU tidak punya dukungan. Keraguan kelompok yang tidak suka dengan langkah yang diambilnya maka Kyai Haji Wahab Hasbulloh berkata, “kalau saya membeli mobil baru maka penjualnya tidak akan tanya apakah saya bisa menyetir atau tidak, jika tidak dapat menyetir saya tinggal memasang iklan dicari sopir, maka besok pagi akan banyak yang melamar menjadi sopir.” Atas keberanian Kyai Haji Wahab hasbulloh dalam membuat terobosan untuk membuat partai sendiri yang keluar dari Masyumi, akhirnya apa yang digagas Kyai Wahab mencapai sukses yang gemilang, hanya sekitar 3 tahun dalam menyiapkan agendanya partai yang didirikan oleh Kyai Wahab hasbulloh telah menempati posisi 3 besar yaitu Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Masyumi, dan Partai NU.

Kepemimpinan Kiai Wahab Hasbullah menorehkan prestasi yang gemilang, kebijakan diambil lebih banyak memihak negara karena pandangannya yang luas, sehingga boleh dikata organisasi Islam yang paling akrab dengan pemerintah adalah Nahdlatul Ulama, misalnya ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai keabsahan Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Kyai Wahab Hasbulloh mengumpulkan beberapa ulama. Disepakati bahwa Soekarno Presiden yang sah.

Keputusan disampaikan di konferensi alim ulama di Mega Mendung Bogor pada awal Mei 1953 dengan sepakatan Kyai baidlowi dan bin Abdul Aziz atas keabsahan Soekarno menjadi kepala negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka secara tidak langsung NU telah memberi sumbangsih dalam meredam konflik bangsa yang banyak menelan korban antara sesama muslim, sebab ambisi segelintir orang yang ingin mendirikan Negara Islam.

Selain jasa-jasa diatas, masih banyak jasa ke Wahab Hasbullah yang diabadikan selama berkiprah dalam Nahdlatul Ulama, semisal Beliau pernah memimpin Laskar Mujahidin ketika Nahdlatul Ulama mengeluarkan resolusi jihad, menjadi anggota dewan mewakili Nahdlatul Ulama, dan lain-lain, semua itu diabdikan.

Kyai Wahab Hasbullah mengabdi untuk agama dan tanah airnya, tak salah jika Wahab Hasbulloh dijuluki macannya NU, beliau sangat tegas dalam mengambil sebuah keputusan dengan pertimbangan yang matang dan keyakinan akan adanya sebuah hasil yang didapatkan. Meskipun kondisi fisik yang sudah mulai berkurang kesehatannya, Kyai Wahab hasbulloh masih tetap semangat dalam menjalankan dakwah dan perjuangannya, mata beliau selama 5 tahun tidak bisa melihat dengan jelas sebab terkena benturan tas salah seorang penumpang di sebuah kereta, namun beliau masih menghadiri Muktamar NU yang ke-25, sebab posisinya sebagai Rois Am sangat ditunggu kehadirannya, karena tidak memungkinkan untuk naik ke mimbar khutbah Iftitah yang seharusnya dibacakan olehnya, akhirnys diwakilkan kepada Kyai Bisri syansuri adik iparnya yang sekaligus menjadi wakil Rais Aam PBNU.

Kondisi kesehatan Kyai Wahab hasbulloh semakin memburuk tepat 4 hari setelah Muktamar Kyai Wahab Hasbullah kembali ke Rahmatullah beliau meninggal dunia pada hari Rabu 12 Juli 1391 Hijriah atau 29 Desember 1971.

Warga nahdliyin kehilangan sosok tokoh yang banyak membawa perubahan dalam Nahdlatul Ulama. Semoga Allah melahirkan sosok pemimpin Nahdlatul Ulama Seperti Kyai Wahab Hasbulloh atas jasa-jasanya yang besar dalam memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik melalui perang maupun yang lainnya, maka di awal pemerintahan Presiden Joko Widodo tahun 2014 Kyai Wahab Hasbulloh dinobatkan sebagai pahlawan nasional sebagaimana Kyai Haji Hasyim Asy’ari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here