Syekh Muhammad Saman
Syekh Muhammad Saman

Oleh: Adriansyah

Setiap manusia mempunyai rasa khawatir, mulai dari khawatir gagal suatu pekerjaan, khawatir tidak terpenuhi hajat, khawatir miskin, dan khawatir ditinggal oleh seseorang. Rasa khawatir bisa menjadi baik jika sebagai bentuk motivasi diri dan rasa hati-hati. Tapi rasa khawatir bila tidak terkendali bisa melahirkan prasangka buruk pada diri sendiri, orang lain, atau bahkan kepada Allah. Ketika kita murni bertawakal kepada Allah, maka kita akan menuju pada makrifatullah, dan Allah memberikan rezeki yang baik serta mengangkat derajat kita.

Surat At-Taubah Ayat 51
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.

Surat At-Talaq Ayat 3
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Kita sering takut tidak dapat rezeki, akhirnya kita bekerja tanpa kenal waktu, bahkan sampai ada yang menggunakan cara haram dan curang. Seseorang karena takut miskin akhirnya suka berjudi atau bermain pesugihan. Rezeki sudah diatur oleh Allah SWT, ada yang diperoleh dengan cara menjemputnya atau dihampiri oleh rezeki melalui perantara orang lain. Kita harus terus berupaya mencari harta dan makanan yang halal, serta menyerahkan hasil usaha kepada Allah Swt.

Surat Al-Ma’idah Ayat 3
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kita juga sering takut dengan orang-orang yang berniat jahat, takut ditipu, takut kalah dalam kompetisi, atau takut pada orang yang berkuasa, maka kita harus senantiasa meminta perlindungan pada Allah Swt, baik dengan doa atau bacaan wirid. Jangan pernah menganggap manusia seperti Tuhan yang harus kau takuti, terpesona dengan kekayaannya atau jabatannya, tetaplah Allah Swt satu-satunya yang kita sembah dan muliakan.

Surat Ali ‘Imran Ayat 160
إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Berzikir

Manusia dalam berzikir mengingat Allah bisa dengan lisan, hati, dan perbuatan. Bersikap hati-hati dalam melangkah dan bertindak adalah bentuk zikir perbuatan. Dimanapun kita berada harus mengingat Allah, karena atas kehendaknya segala sesuatu bisa terjadi. Berzikir dengan menyebut asma Allah dan memuji Allah dapat mengalahkan hawa nafsu musuh terbesar kita.

Surat Al-Ahzab Ayat 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Kita sering sibuk untuk mencari nafkah, namun jangan pernah untuk melupakan perbanyak berzikir kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya. Allah akan senantiasa memberikan kita keberuntungan dan kemudahan dalam pekerjaan kita, namun jika kita hanya sibuk bekerja lalu meninggalkan zikir, maka pekerjaan tersebut akan menjadi berat dan menemukan banyak kesulitan. Para ulama banyak yang memberikan bacaan zikir pada pengikutnya untuk memperlancar rezeki dan terkabulnya hajat, ini menunjukkan usaha harus disertai dengan doa untuk meraih kesuksesan.

Seseorang yang sering berzikir memuji nama Allah dan tidak lalai karena perniagaan, maka hidupnya akan diliputi oleh cahaya Allah. Sebaliknya, seseorang yang sering lalai dari berzikir memuji Allah dan menjadi lalai karena perniagaan, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya Allah, hatinya akan menjadi gelap.

Surat Al-Jumu’ah Ayat 10
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Surat An-Nur Ayat 35
۞ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surat An-Nur Ayat 36
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

Surat An-Nur Ayat 37

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Surat Az-Zumar Ayat 22
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Sunan Kalijaga saat habis bertemu dengan Nabi Khidir mengatakan, bahwa dalam lubuk hati manusia ada pancamaya (5 warna cahaya). Kelima cahaya tersebut mengarahkan manusia untuk memiliki sifat mulia. Sifat dasar jati diri manusia adalah ketenangan, kedamaian, ketentramansehingga pancamaya memancarkan cahaya putih bagaikan matahari. Akan tetapi, pancamaya ini tertutup oleh kekuatan alam yang diwarisi orang tua. Tiga kekuatan alam tersebut dilambangkan dengan cahaya hitam, merah, dan kuning. Tiga cahaya ini membuat penghalang untuk mengenal Allah Swt (Chodjim, 2013: 104-106)
Cahaya hitam membangkitkan rasa marah dan sakit hati. Jika cahaya ini menguasai manusia maka ia akan berbuat membabibuta atau tanpa arah. Warna merah adalah emosi yang melahirkan banyak ambisi dan keinginan. Cahaya kuning adalah rasa curiga dan mencari kesalahan orang orang lain (Chodjim, 2013:107-108).

Sunan Kalijaga melihat 8 warna yang gemebyar, lalu Khidir mengatakan bahwa 8 cahaya tersebut sebenarnya satu. Berasal dari wujud yang satu. Khidir mengatakan bahwa cahaya tersebut adalah perlambang seluruh isi bumi dan langit. Artinya seluruh gambaran isi jagat raya ada dalam diri manusia (Chodjim, 2013: 109-111).

Syukur

Pandailah bersyukur, karena kalau kita bersyukur kepada Allah itu sama saja bersyukur kepada diri sendiri. Apabila kita tidak bersyukur Allah tidak akan pernah rugi, karena Allah Maha Kaya, tapi diri kita sendirilah yang akan rugi. Dengan dunia yang diberikan Allah, bisa menjadi rahmat dan keberkahan. Pandai-pandailah bersyukur serta teliti dengan yang kita miliki, jangan bercampur antara halal dan haram.

Surat An-Naml Ayat 40
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Keajaiban-keajaiban yang pernah kita dapati tidak akan pernah berulang jika kita tidak bersyukur dan mengingkari bahwa itu semua berasal dari Allah Swt. Salah satu sifat kufur adalah meyakini bahwa segala kesuksesan dan kekayaan yang dimiliki adalah karena usaha pribadi tanpa campur tangan Allah Swt. Ada kalanya seseorang saat diberikan kesempitan rezeki membuat ia menjadi rajin ibadah, namun saat diberikan kelapangan rezeki justru membuatnya menjadi malas beribadah dengan alasan sibuk.

Surat Saba’ Ayat 13
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Surat Ibrahim Ayat 8
وَقَالَ مُوسَىٰ إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Surat Ibrahim Ayat 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Surat An-Nahl Ayat 114
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Surat Asy-Syura Ayat 33
إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.
Praktek bersyukur adalah dengan mengucapkan Alhamdulillah, sujud syukur, meyakini bahwa nikmat yang didapatkan adalah pemberian dari Allah, bertasbih, tidak mengeluh dengan hasil yang tidak sesuai harapan, banyak bersedekah, dan memperbanyak ibadah.

Hadits Tirmidzi
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا بَكَّارُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ أَمْرٌ فَسُرَّ بِهِ فَخَرَّ لِلَّهِ سَاجِدًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ بَكَّارِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ رَأَوْا سَجْدَةَ الشُّكْرِ وَبَكَّارُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ مُقَارِبُ الْحَدِيثِ
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad Ibnul Mutsanna] dari [Abu Ashim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bakar bin Abdul Aziz bin Abu Bakrah] dari [Bapaknya] dari [Abu Bakrah] ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatkan perintah yang membuat beliau senang dan sujud syukur.” Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan gharib, dan kami tidak mengetahui kecuali dari hadits Bakkar bin Abdul Aziz dari jalur ini. kebanyakan para ulama` mengamalkan hadits ini, mereka melihat adanya anjuran sujud syukur. Bakkar bin Abdul Aziz bin Bakrah adalah seorang muqaribul hadits.”

Taqwa

Taqwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Perintah Allah dengan menjalankan segala sesuatu yang diwajibkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Seseorang akan menghadapi peperangan dengan hawa nafsu, baik nafsu perut atau nafsu seksual, sehingga bila tidak terkendali akan terjadi perbuatan maksiat. Pengekangan terhadap hawa nafsu adalah bentuk ketaqwaan. Sebagaimana diwajibkan berpuasa agar menjadi orang yang bertaqwa.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, ketakwaan hanya bagi orang-orang yang berpaling dari dunia. Berpaling dari dunia hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengendalikan nafsunya. Nafsu tidak akan dapat dikendalikan kecuali oleh orang yang mengenalnya. Tidak akan mengenal nafsu selain orang yang mengenal Allah. Tidak ada yang mencintai-Nya selain orang yang terpilih karena dipisahkan dari hawa nafsunya (Asy-Syadzili, 2008: 65).

Surat Yunus ayat 62-64:
لَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 64)
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (10: 62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (10: 63)Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (10: 64).

Seseorang ketika ingin berjalan menuju Allah maka ia harus melihat pemilik kemewahan dunia layaknya melihat orang sedang buang hajat. (Khudori, 2016:10). Ia akan merasakan jijik dan berpaling dari pemilik dunia tersebut. Orang yang menuju Allah melenyapkan segala keinginan kepada selain Allah, ia pasrah terhadap kehendak Allah bagaikan mayat saat dimandikan, bagaikan bayi dalam kandungan, dan bagaikan bayi yang sedang disusui. Saat itulah orang tersebut akan diberikan limpahan cahaya dan ia akan menjadi manusia dengan samudera ilmu.

Para wali Allah dalam kondisi istiqomah melenyapkan kehendak pribadi mereka dan menggantiknya dengan kehendak Allah. Mereka mengusir hawa nafsu dalam hati dan menolak menuruti paksaannya, karena bagi mereka mengikuti hawa nafsu sama saja menginginkan sesuatu selain Allah. Bekerja keraslah untuk tidak tergesa-gesa menuruti hawa nafsu. Tunggulah izin dari Allah agar kau selamat dunia dan akhirat.

Menuju Allah haruslah bersyukur dengan keadaan yang ada, tidak menuntut kondisi lain, karena apabila Allah sudah menetapkan suatu kondisi maka akan kau dapatkan dalam kondisi suka atau tidak suka. Seluruh kebaikan terletak pada keadaan dimana dirimu mampu menerima keadaan yang sudah ada. Saat orang sedang dalam posisi kesempitan ekonomi maka ia harus bersyukur dengan keadaan tersebut, karena bisa jadi keadaan tersebut dijadikan kondisi terbaik untukmu, janganlah kau iri dengan keadaan orang yang lebih darimu secara perekonomian. Terimalah kedudukan yang rendah sampai datang takdir Allah untuk menempatkan pada posisi yang baik dan lebih mulia.
Janganlah memperbanyak angan-angan dan jangan terlalu pusing dalam urusan rezeki, sebab Allah telah menetapkan rezekimu, bahkan sebelum kamu ada. istirahatkan pikiran dari memikirkan sesuatu yang belum terjadi, seperti berpikir besok makan apa, kerja apa, jodohnya siapa, kapan ajal menjemput, atau memikirkan cobaan. Kau hanyalah tamu di dunia ini, sedangkan Allah adalah tuan rumahnya, maka kau sebagai tamu biarkanlah tuan rumah mengatur makanan untukmu, janganlah kamu sebagai tamu ikut-ikutan mengatur. (Ulum, 2016: 9-10).

Orang yang sudah sampai kepada makrifat tidak akan silau dan terpukau dengan penampakan lahiriah, ia akan menganggap itu semua hanyalah fitnah belaka. Mereka tidak akan membangga-banggakan dunia, mereka sadar bahwa itu semua tidak abadi dan akan berujung pada kesedihan karena kehilangan. Kebahagian sejati adalah dengan mencintai Allah, kebahagiaan itu tidak akan hancur, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan yang tidak ada di dunia.

Para ahli makrifat tidak akan sedih disaat sakit dan miskin, karena ia yakin sakit dan miskin jika diterima dengan kerelaan akan mengangkat derajatnya di sisi Allah. Para wali ditutupi kewaliannya oleh Allah, mereka banyak yang ditempatkan pada posisi yang hina di masyarakat, seperti hidup dalam kemiskinan, sehingga tidak ada yang bisa mengetahuinya selain dari kalangan para wali Allah sendiri. Mereka tidak mau memperhatikan pandangan mahluk, tidak mau mencari pandangan mahluk, mereka hanya berharap pada pandangan Allah terhadap setiap amal dan perbuatan mereka.

Penyakit yang paling ditakuti oleh para pencari Allah adalah kesenangan pada duniawi yang melekat pada hati, karena penyakit itu apabila sudah kronis akan sulit diobati, iman saja tidak cukup untuk menyembuhkan penyakit senang dunia tersebut. Manusia masih senang dunia karena adanya hawa nafsu, maka manusia haruslah mengenal dirinya, mengetahui dari mana asalnya, dan akan kembali kemana nantinya. Manusia tanpa mengenal dirinya, maka ia akan terus terbelenggu oleh hawa nafsunya sendiri (Chodjim, 2013: 115).

Manusia yang menempuh jalan hidup yang benar maka ia akan senantiasa waspada, mereka tidak akan ikutan gila untuk memperebutkan duniawi dengan menghalalkan segala cara. Orang yang dekat dengan Allah segala doanya akan dikabulkan, ia akan dijaga Allah, itu karena ia mampu mengendalikan hawa nafsunya yang mengarahkan pada sikap ambisius, rakus, dan pemarah.

Dunia ini adalah alam menuju kematian, kehidupan sekarang bukan kehidupan sejati, karena masih akan didatangi oleh kematian baik cepat ataupun lambat. Hidup sebenarnya adalah ketika roh keluar dari raga, dimana saat itu sudah tidak tersentuh oleh kematian. Saat seseorang terlalu cinta pada segala sesuatu yang bersifat lahiriah, maka ia akan digiring untuk menjadi mayat. Maka carilah guru yang mampu mengajarkan kematian dengan sempurna, bukan yang hanya sekedar mengajarkan menjadi lahiriah yang sempurna. (Chodjim, 2014: 86). Para pencari ilmu sejati bukan yang sering hadir majelis taklim kiai dan Habib, tapi pencari ilmu sejati adalah orang yang bekerja keras untuk mengendalikan hawa nafsu lahir dan batinnya. Pencari ilmu sejati harus ikhlas, bersih pikirannya, bebas dari kegalauan dan kedengkian pada manusia lain.
Para wali Allah yang mengajarkan ilmu sejati tidak mau pamrih, tidak mau menampakkan diri dengan penghormatan, tidak mau duduk bersama ahli dunia untuk membicara dunia, tidak memuaskan hawa nafsu mereka, namun mereka mampu mendidik seseorang untuk memiliki hati yang bersih dan suci, sehingga mampu sampai menuju Allah. Para wali sekalipun berbincang dengan orang kaya dan pejabat, tujuan hatinya adalah untuk berdakwah, bukan untuk mencari proyek atau jabatan.

Surat Asy-Syura Ayat 37
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.

Seseorang yang belajar dengan orang yang mencintai Allah akan memiliki hati yang suci (Ali dan Damas, 2016: 81). Manusia sempurna yang layak dijadikan guru adalah orang yang memiliki ketentraman dan kedamaian ruhani, dia adalah pendiam yang puas dengan segala sesuatu yang menjadi keputusan Allah, dan ia dihiasi oleh makrifat yang tinggi (Izutsu, 2015: 339). Maka ketika kita mencari guru duniawi carilah yang menggunakan akalnya, sedangkan untuk guru spiritual carilah guru yang memiliki hati yang bersih, tidak cinta dunia, dan memiliki pengetahuan tentang rahasia ilmu Allah.

Setiap manusia memiliki kesalahan, takwa dapat membersihkan segala macam dosa. Untuk menjadi manusia sempurna secara spiritual adalah dengan takwa. Jika kita sering meninggalkan ibadah maka hati akan menjadi gelisah, mudah emosi, mengambil cara curang, dan ambisi tidak terkendali. Konsisten dalam ibadah, jangan pernah lalai mengingat Allah, pahala akan ditambahkan dan karunia juga akan bertambah. Kalau sudah terlanjur berbuat dosa, perbanyaklah istighfar, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyanyang.

Ikhlasnya para ahli makrifat adalah dengan mendiamkan dirinya, ia tidak berupaya atau berkehendak untuk meraih sesuatu. Ia meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya selain dari Allah, maka segala amal yang ia lakukan adalah hanya untuk Allah semata. (Ulum, 2016: 35). Ketika seseorang yang mengaku mecari Allah namun lebih mementingkan pekerjaan dunia dan sering menunda memperbanyak ibadah dengan alasan mencari waktu luang, maka ini menujukkan masih lemahnya makrifat dia kepada Allah.

Surat Al-Mu’min Ayat 14
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

Surat Al-Ma’idah Ayat 27
۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Quraish Shihab mengatakan, Senang kepada permusuhan adalah tabiat sebagian manusia. Oleh karena itu, wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada orang-orang Yahudi dan kamu adalah orang yang jujur dan benar kisah dua putra Adam (Qâbîl dan Hâbîl) ketika mempersembahkan korban kepada Allah. Lalu Allah menerima korban Hâbîl karena keikhlasannya, dan tidak menerima korban Qâbîl karena ia tidak ikhlas. Maka, dengan rasa dengki, Qâbîl mengancam akan membunuh Hâbîl. Hâbîl kemudian menjelaskan bahwa Allah tidak akan menerima suatu perbuatan selain dari orang-orang yang bertakwa dan ikhlas berkorban. Seseorang mengikhlaskan amal karena Allah, maka Allah membersihkannya (dari dosa), mengistimewakan mereka dengan rahmat-Nya dan memberikan kepemurahan-Nya dengan kelembutan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here