Oleh Labib Syarief

Pakatan Harapan memenangkan pemilu raya Malaysia pada Rabu (9/5). Kemenangan ini membawa Mahathir Mohammad menjadi Perdana Menteri Malaysia pada umur 92 tahun yang dilantik pada Kamis (10/5) dan menjadi Perdana Menteri tertua di dunia.

Pakatan Harapan memperoleh suara pemilu sebesar 121 kursi Parlemen. Jumlah suara ini telah lebih dari cukup untuk membentuk pemerintahan dengan minimal mendapatkan 112 suara.

Sejumlah hal menarik didapatkan dalam pemilu raya Malaysia kali ini. Di antaranya yaitu: Pertama, kekalahan Barisan Nasional (BN) setelah selama 60 tahun belakangan BN selalu menang dalam pemilu raya Malaysia. Koalisi ini pula yang mengusung sosok petahana, Najib Razak. Kedua, Mahathir Mohammad bergabung dengan oposisi, Anwar Ibrahim. Padahal saat Mahathir memimpin Malaysia pada periode 1981 hingga 2003, Anwar sempat dipecat sebagai Wakil Perdana Menteri oleh Mahathir dan sempat dijebloskan di penjara karena kasus sodomi.

Kekalahan BN dan keputusan Mahathir untuk bergabung dengan oposisi disebabkan beberapa faktor. Antara lain faktor korupsi dana investasi negara, 1 Malaysia Development Berhad (1MDB), oleh Najib Razak serta alasan faktor Investasi China di Malaysia yang belakangan ini tampaknya cukup kuat di negeri jiran tersebut.

Investasi China di Malaysia menjadi isu yang dimainkan oposisi. Seperti yang dilansir Tribunnews dan Kompas, dalam sebuah wawancara di kantor Mahathir di Kuala Lumpur, Mahathir mengatakan bahwa ia menyambut baik investasi China di Malaysia selama mempekerjakan warga lokal, membawa modal, dan teknologi ke Malaysia. Namun demikian, ia melihat hal itu tidak dilakukan oleh investor dan perusahaan China di Malaysia. Ia justru berpendapat bahwa Malaysia tidak mendapatkan apapun dari investasi China.

“Kami tak mendapatkan apapun dari investasi. Kami tak menyukai itu,” kata Mahathir pada Senin (9/4/2018).

Mahathir juga mengambil contoh Country Garden Holdings Co. Ltd yang akan berinvestasi senilai 100 miliar dolar AS atau sebesar Rp. 1.377 triliun di Johor. Dana investasi ini akan digunakan untuk pembangunan apartemen dengan harga per unitnya sekitar 1 juta ringgit atau senilai Rp. 3,5 miliar.

Harga per unit apartemen dari investasi salah satu perusahaan China tersebut, menurut Mahathir bahwa tidak ada cukup orang kaya di Malaysia yang mampu membeli apartemen mewah tersebut, maka justru orang asing yang akan masuk. Sehingga ia menyatakan tidak ada negara yang senang jika banyak masuk orang asing.

Mahathir juga mengambil contoh lain yaitu pemberian pemerintah Sri Lanka atas hak pengelolaan pelabuhan Hambata di Sri Lanka kepada salah satu BUMN China selama hampir satu abad. Hal ini dilakukan karena kegagalan Sri Lanka dalam membayar hutang ke negara tirai bambu tersebut.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Mahathir Mohammad di atas yang tampak kontra terhadap dominasi China di Malaysia telah mengambil perhatian rakyat Malaysia. Sebab investasi China di Malaysia telah membuat khawatir rakyat Malaysia soal keadilan, kesetaraan dan kedaulatan perekonomian negara ini. Maka isu inilah yang diangkat oleh oposisi dan menjadi salah satu penyebab kemenangan Mahathir Mohamad melalui Pakatan Harapan.

Bahkan satu hari setelah pemilu raya Malaysia. Dalam konferensi pers kemenangan Mahathir Mohamad dengan koalisinya, ia sempat sedikit membahas relasi China dengan Malaysia pada Kamis (10/5).

Seperti yang dilansir oleh CNN dan Reuters, Mahathir menyatakan bahwa ia mendukung China dalam membentuk Belt and Road Initiative (BRI). Namun ia menekankan bahwa Malaysia berhak mengevaluasinya dengan merundingkan kembali syarat-syarat dalam sejumlah perjanjian dengan China jika diperlukan.

“Kita tidak punya masalah dengan itu (BRI), kecuali tentunya bahwa kita tidak ingin melihat terlalu banyak kapal perang di wilayah ini karena (sebuah) kapal perang akan menarik perhatian kapal-kapal perang lainnya,” ujar Mahathir.

BRI sendiri merupakan jalur sutera China di era modern dan merupakan ambisi China dalam meningkatkan perekonomiannya. Dimana Malaysia adalah salah satu negara yang masuk dalam jalur sutera China tersebut. Maka wajar dalam pernyataan resminya Mahathir sempat membahas ketidakinginan adanya kapal perang di negaranya, akibat dampak BRI. Ia khawatir justru banyaknya kapal perang akan berimbas pada ancaman keamanan untuk Malaysia itu sendiri.

Sebelumnya saat kepemimpinan Najib Rozak, Malaysia menandatangani sejumlah Nota Kesepahaman dalam skema BRI dengan China di Beijing pada tanggal 13 Mei 2017. Sehingga isu korupsi Najib dan isu dimudahkannya investasi China di Malaysia pada pemerintahan Najib, menjadi beberapa faktor penyebab kemenangan Mahathir dan koalisinya. Sebab kedua hal tersebut, utamanya terkait investasi China di Malaysia telah menjadi sorotan utama rakyat Malaysia di tengah khawatirnya dominasi China atas kedaulatan Malaysia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here