Oleh
Hery Haryanto Azumi (Sekjen Majelis Dzikir Hubbul Wathan)

Dalam konteks Islam Nusantara, yang terbentuk dari proses pembentukan lapis-lapis budaya adiluhung yang lama, saya lebih sepakat untuk menerima apa yang telah diterima oleh masyarakat Islam di Nusantara sebagai karakter Islam yang berkembang di sini.

Oleh karena itu, tidak perlu membedakan sarung/batik/blangkon dari gamis/jubah/imamah. Keduanya adalah tradisi Islam di Nusantara yang telah diterima dalam milenium terakhir. Sama juga dengan baju China (baju koko) yang telah diterima sebagai identitas Islam. Kelak kita akan bangga bahwa Islam Nusantara diwarnai secara indah oleh berbagai macam identitas budaya yang beragam, termasuk Barat sekalipun. Identitas yang bertumpuk terlihat dalam penampakan seorang kyai yang menyampaikan khutbah Iedul Fitri dengan menggunakan sarung dan baju koko, atau gamis yang dibalut dengan jas dan penutup kepala kopiah, ataupun imamah atau blangkon.

Di sini, ada Arab, Barat, China, Nusantara dll.

Menjadi Islam Nusantara, tidaklah berarti anti Arab, Anti China atau Anti Barat. Nusantara adalah masyarakat terbuka, pemberani, penjelajah, dan pengayom. Di atas landasan budaya Nusantara seperti ini, dengan mudah akan tumbuh suatu imperium besar seperti yg telah dibuktikan sejarah dengan Sriwijaya, Majapahit, dan lain-kain.

#OrdeNasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here