Pandemi Covid-19 mengakibatkan sejumlah sektor harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Di sektor Pendidikan misalnya, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Arskal Salim GP, MA, menyatakan sistem pembelajaran di perguruan tinggi sudah memberlakukan metode pembelajaran secara daring, demi mencegah terjadinya penyebaran virus Corona.

“Dalam sistem pembelajaran ini, agar kita tetap mengindahkan protokol kesehatan dan tetap menjaga jarak, untuk semester 2020-2021 ini, seyogyanya kita melakukan pembelajaran secara daring, kecuali nanti ada pengecualian yang jika harus ada pembelajaran luring,” kata Arskal memberikan catatan pengantar dalam webinar online Tadarus Litapdimas ke-19, dengan tema Inovasi Teknologi untuk Pencegahan Covid-19 di PTKI, yang dipandu Kepala Seksi Penelitian dan Pengelolaan Hak Atas Kekayaan Intelektual, Dr. Mahrus El-Mawa, Selasa (8/9/2020).

Selain mengimbau semua peserta diskusi agar senantiasa menjaga diri dan kesehatan dari gejala Covid-19, Arskal juga mendorong agar momentum pandemi dijadikan ajang untuk menciptakan karya-karya inovasi yang memberikan kontribusi untuk menghambat laju penyebaran Corona, sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat luas.

“Semoga ini tidak hanya kepentingan kognisi, tapi kepentingan aksi tindak lanjutnya,” imbuh Arskal.

Diskusi ini menghadirkan karya inovasi ilmiah Dosen PTKI terutama inovasi teknologi pencegahan Covid-19. Adapun produk atau prototype yang dihasilkan, pertama temuan inovasi Kabut Anti Virus (KAVi) yang ditemukan Dr. Imam Tazi, M.Si dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan temuan inovasi teknologi robotika dalam penanggulangan Covid-19, yang dihasilkan Mada Sanjaya WS, M.Si., Ph.D. dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kedua temuan ini mendapat apresiasi dari Kementerian Agama RI.

Dalam paparan awal, Imam Tazi mengungkapkan karya inovasinya tersebut muncul di minggu ke-tiga Covid-19 berjalan, karena mendapat tantangan dari Rektor UIN Malang untuk menemukan inovasi yang berbeda. Terkait karya penemuannya, ia menjelaskan KAVi merupakan seperangkat alat yang memiliki sistem kerja seperti nebulizer. Bilik KAVi ini dapat menyemburkan uap alkohol (bahan antisepotik). Adapun manfaatnnya untuk melemahkan dan merusak virus dengan cara merubah cairan alkohol menjadi kabut dengan ukuran partikel sebesar 1-2 micron, sedangkan virus corona ukurannya 200-400 nm. Selain itu, prinsip kerjanya otomatis menggunakan sensor, dimana mesin KAVi digetarkan oleh mist maker ultrasonic yang mempunyai frekuensi 1,6 MHz.

“Kelebihannya tidak membasahi baju dan orang, lalu sangat hemat penggunaan bahan, karena bahan yang digunakan berupa alkohol, dan ini bahannya kategori sebagai antiseptic bukan disinfektan. Harganya pun lebih murah, mudah dibuat, serta daya listriknya lebih kecil atau lebih hemat,” paparnya.

Selanjutnya, Mada Sanjaya mengungkapkan penelitiannya sejak bulan Maret 2020. Penelitian ini sudah dimulai, bahkan sebelum Surat Edaran Kementerian Kesehatan beredar, yakni pada tanggal 3 April 2020, untuk tidak menganjurkan penggunaan bilik disinfektan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, dan tanggal 9 April 2020 muncul edaran kedua dari Kemenkes tentang penggunaan masker dan penyediaan sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Diantara penemuan yang sudah dikembangkan UIN Bandung, adalah HANZO, Digital Hand Sanitizer, Human Disinfektan Chamber, Automatic Disinfektant Chambe for Hospital Ambulance, UVC Strerilozer Box, UVC Mobile Robot, EENBOT Mask Face Detector, Prototype Low Cost Ventilator.

“Hanzo ini sudah digunakan di 45 Rumah Sakit di Kuningan, Jawa Barat. Untuk Human Disinfectan Chamber dipakai di Jawa Barat, tepanya Pondok Pesantren Modern Al-Aqsa Sumedang,” terang Mada.

Sementara itu, Ketua Konsorsium Kesehatan Dr. dr. Siti Nur Asiah, S.Ag, M.Ag, selaku pembahas diskusi memberika empat catatan. Pertama, seorang innovator diharuskan menunjukkan kelebihan dan kekurangan dalam setiap karya yang ditemukan. Kedua, keamanan bagi pengguna.

“Kalau tadi disampaikan dengan KAVi penggunanya merasa aman karena tidak membasahi bajunya, tapi keamanan juga perlu dipikirkan, kalau bentuknya asap, dihirup orang yang bersangkutan apakah tidak ada efek yang merugikan, efeknya apa? Tetapi presentasi keduanya tadi sepertinya sudah aman” ujarnya.

Ketiga, keterjangkauan. Bagaimana karya inovasi ini bisa dimanfaatkan oleh banyak kalangan, serta dapat dijangkau oleh masyarakat luas, dan keempat mengenai sisi efektifitas dan efisiensi, bagaimana karya ini bisa efektif dalam menghambat penyebaran virus Corona.

Dalam sesi penutup diskusi, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dr. Suwendi, M.Ag mengingatkan bahwa banyak masyarakat yang terpapar Covid-19 dan mendapatkan tekanan psikologis yang luar biasa. Dampaknya, kata Suwendi, tentu berimbas pada daya imunitas dan proses penyembuhan mereka. Untuk itu, ia menekankan perlu adanya pendampingan bagi para penyintas Covid-19.

Menyinggung karya yang sudah dihasilkan sejumlah PTKI, Suwendi memberikan apresiasi. Namun ia berharap, kedepannya para peneliti bisa mengkolaborasi aspek science dengan aspek psikologis sehingga menjadi karya temuan yang dampaknya luar biasa dirasakan oleh masyarakat.

“Pada aspek science kita sudah memperkuat, tinggal diperkuat pada penanganan pada aspek psikologisnya sehingga teman-teman memiliki imunitas dan psikologis orang itu sendiri. Jika tekanan psikologis kuat, maka imunitasnya semakin kurang atau lemah,” kata Suwendi.

“Dengan kita mengkolaborasi aspek science dan aspek psikis sebagai upaya penanganan Covid-19, saya kira ini adalah upaya yang sangat luar biasa, ditambah lagi PTKI ini sudah dengan aspek penanganan keagamaan dan syair-syairnya dan shalawat tibbil qulubnya, saya kira itu akan menguatkan dimiliki perguruan tinggi kita semuanya,” pungkas Suwendi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here