Nama-nama taipan seperti Tahir, Eka Tjipta Wijaya, atau Ciputra adalah bukti bahwa keturunan Tionghoa adalah sosok yang ulet dan pekerja keras. Mereka mampu membangun kerajaan bisnis sedemikian rupa, sehingga dapat mengumpulkan kekayaan di atas rata-rata.

Jika mengintip laporan terakhir dari Wealth-X, China rupanya memiliki 10%dari total 2.400 miliuner yang ada di dunia. Rata-rata usia miliuner di China juga terbilang muda yaitu 53 tahun. Padahal, rata-rata usia miliuner dunia mendekati 64 tahun.

Masyarakat Tionghoa gemar menabung dan berinvestasi. Tak tanggung-tanggung, mereka mengalokasikan sejumlah besar pendapatannya untuk menabung. Buktinya, di negara China sana, rasio tabungan nasionalnya memperlihatkan angka yang tinggi.

Laporan International Monetary Fund (IMF) berjudul China’s High Savings: Drivers, Prospects, and Policies (Desember 2018), menyebut China sebagai salah satu negara yang memiliki rasio tabungan nasional tertinggi di dunia. Secara historis, rasio tabungan nasional telah tercatat tinggi sejak tahun 1980-an, yaitu mencapai 35%-40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam hal investasi, Noah Research mencatat investor daratan China menempatkan dananya lebih banyak ke real estate yaitu 65%, lalu 20% dalam bentuk uang tunai dan deposito bank, sisanya ke asuransi dan dana pensiun, lalu saham dan reksadana.

laporan Wealth-X, yang menyebut 94% dari taipan di China berhasil meraih kekayaannya berkat usahanya sendiri (self-made). Hanya 2% dari total 249 miliuner China yang kekayaannya berasal dari warisan.

Salah satu hal yang membuat orang Cina merasa diuntungkan adalah fakta bahwa yang bersangkutan adalah pendatang, minoritas, sehingga mau tidak mau terbiasa untuk bekerja keras; lebih keras dari penduduk asli. Itu membuat orang Cina tidak pernah ada perhitungan dengan apa yang namanya kerja keras. Orang keturunan Cina dibiasakan kerja keras semaksimal mungkin dengan tujuan mendapatkan uang sebanyak mungkin. Itu membuat orang keturunan Cina mudah mengapresiasi hal-hal kecil. Akibatnya, bagi orang Cina keuntungan kecil tidak pernah menjadi masalah asalkan kuantitasnya banyak. Dan, itulah yang menjadi karakter orang Cina, yakni lebih suka mendapatkan untung sedikit asalkan berulang terus-menerus. Itulah keuntungan terbesar dari kebiasaan bekerja keras dan tidak mengenal waktu.

Belum lama, publik dikejutkan dengan seorang wanita asal Cina bernama Yang Huiyan, wakil ketua Country Garden.

Bukan orang biasa, wanita ini menduduki peringkat pertama dalam daftar wanita terkaya di Cina selama enam tahun berturut-turut.

Hal ini terungkap dalam daftar Hurun Richest Woman in China 2018 yang dirilis oleh Hurun Report.

Tak tanggung-tanggung, Yang memiliki jumlah kekayaan sebesar 150 miliar yuan (Rp328 triliun). Menariknya, daftar ini berdasarkan pada aset kekayaan pribadi bukan warisan atau kekayaan keluarga.

Mayoritas orang Cina tidak pernah mengenal utang, kalaupun terpaksa mereka akan berusaha mengembalikannya sesegera mungkin.

Bahkan jika salah satu anggota keluarga tengah terjerat utang, seluruh keluarga mengetahuinya dan akan saling mendukung untuk bisa melunasi utang tersebut.

Jika menginginkan sesuatu, orang Cina memilih membelinya secara tunai yang diambil dari uang yang selama ini mereka simpan untuk ditabung.

Dengan rutinitas demikian, kartu kredit menjadi barang langka yang ada di Cina karena itu bukan prioritas mereka.

Deng Xiaoping mengatakan, kemiskinan bukanlah sosialis. Menurut dia, seseorang perlu menjadi kaya untuk meningkatkan mata pencarian orang lain.

Selain itu, meskipun konstitusi partai tersebut mengatakan cita-cita dan tujuan tertinggi adalah merealisasikan komunis, hal ini tidak diberikan kerangka yang jelas untuk mencapainya. Oleh karena itu, pemimpin partai memiliki banyak ruang untuk melakukan manuver dalam tujuan yang lebih luas.

Sejak reformasi Deng ini, lebih dari 700 juta orang telah terangkat dari kemiskinan di China.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here