Divisi Kajian Rumah KMA yang dikoordinir Amsar A. Dulmanan mengadakan diskusi berjudul Peta Pemilih Pilpres 2019. Dalam diskusi itu menghadirkan narasumber yaitu Ramadani (Ikatan Da’i Nusantara) dan Yusuf Qosim (Pengamat Politik UNUSIA).

Ramadani berpendapat bahwa suara Kyai Ma’ruf Amin lemah di perkotaan, karena yang ceramah di perumahan perkotaan dan BUMN itu bukan dari NU. Ideologi khilafah masuk di BUMN,dan acara maulid juga pernah ditolak di beberapa BUMN. Jadi dakwah Wahabi dan pro khilafah lebih laku di perkotaan dibanding NU.

“Ustadz di perkotaan bukan diambil dari NU, seperti di komplek. Misalnya ustadz yg mengisi ceramah di BUMN adalah ustadz Wahabi dan pro khilafah. Pengajian ibu-ibu menunggu ceramah dari NU, jadi KMA hrs terjun kesana, misalnya perumahan kecil dan cluster,” ujarnya.

Ramadani juga mengatakan bahwa saat ini pertarungannya adalah di medsos.

“Fokus juga harus ke pemilih kalangan millenial, generasi ini 24 jam tidak lepas dari gadget, jadi pemanfaatan medsos sangat penting,” tandasnya.

Yusuf Qosim berpendapat, saat ini yang penting warga NU kompak memilih Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin, maka dipastikan menang.

“Orang yang mengaku NU berdasarkan survey ada 36%. Dari 185 juta pemilih nasional, 66 juta pemilih adalah NU. Dari 135 juta orang yang kemungkinan hadir ke TPS, dipotong golput, suara NU sudah mencapai 50% suara nasional.” Jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here