Syahid. Dr. Muhammad Said Ramadahan Al-Bouti

Orang yang bertaqarrub kepada Allah swt dengan shalat, dengan amalan-amalan, dengan haji, dengan zakat, dengan perbuatan baik, dan dengan amar makruf nahi mungkar. Tapi ia merasa bangga dengan amalannya, maka semua amalannya akan sia-sia. Sebaliknya, jika orang yang membawa dirinya dalam kondisi kelemahan dan kefakiran ke depan pintu Allah swt. Kemudian ia berdiri dengan keadaan remuk hati dan rasa hina, seraya berkata kepada-Nya dengan hatinya bukan dengan lisannya yang biasa ia gunakan untuk berbasa-basi terhadap manusia yaitu:

“Tuhan, aku hamba-Mu yang berdosa yang banyak bermaksiat yang dibebani dengan dosa-dosa yang memikul banyak maksiat.

Aku hamba yang fakir, buruk dan malang.

Kini aku berdiri di depan pintu-Mu seraya berlepas dari segala kepalsuan di sekitarku dan dari upayaku.

Sama sekali aku tidak punya daya dan upaya.

Aku datang tanpa apapun untuk mengharap kedermawanan dan belaskasih-Mu.

Aku datang seraya berlepas dari segala sesuatu.

Aku membentangkan tangan pengharapan permohonan dan permintaaan keharibaan-Mu.

Tuhan berikanlah aku, Tuhan kasihanilah aku, Tuhan obatilah keremukan hatiku.”

Perilaku inilah yang akan mendekatkan anda kepada Allah. Meskipun amal ibadah anda hanya sedikit. Anda hanya menunaikan hal-hal yang wajib saja. Bahkan meskipun dalam satu dan lain keadaaan anda pernah tergelincir ke dalam dosa. Maka perilaku tersebutlah (perilaku yang dijelaskan di atas) adalah perilaku yang akan mendekatkan  anda kepada Allah swt.

Berapa banyak jumlah orang yang mengetuk pintu Allah swt dengan keadaaan diri seperti ini? Dimana mereka merasa remuk hatinya, merasa hina, merasa memiliki beban dosa-dosa, dan merasa semua orang lebih baik daripada diri mereka. Ada berapa banyak orang seperti ini? Maka sungguh sedikit sekali. Buktinya, jika ada seseorang mensifati saya dengan sifat yang tadi saya katakan, misalkan ia berkata kepada saya bahwa: “Kamu punya banyak dosa”,“Kamu banyak maksiat”, dan “siapa kamu?”.

Kira-kira bagaimana reaksi saya apabila dikatakan demikian? Maka apabila emosi saya terbakar karena marah. Jika terjadi demikian, berarti sebenarnya saya tidak megnakui kehinaan saya.  Inilah makna dari perkataan Sayyidina Syakih Abdul Qadir Jailani yaitu “Aku melihat jalan kehinaaan diri di hadapan Allah swt dan aku mendapatinya kosong”.

Ditranskrip dari ceramah Syahid Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouti dari akun Youtube Maula.TV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here