KH. Hasyim Asy’ari lahir pada Selasa 24 Dzulqadah 1287 H. Beliau adalah keturunan Joko Tingkir dari Kerajaan Pajang. Jadi memang keturunan ningrat, sehingga wajar anaknya jadi Mentri dan cucunya jadi Presiden Indonesia, karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnnya.

Mbah Hasyim Asy’ari belajar dari beberapa Pesantren, kemudian dianjurkan belajar ke Mekkah, disana saat itu banyak ulama besar dari Indonesia seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Mahfudz Termas. Beliau belajar ke Mekkah pada usia 21 tahun.

Syekh Yasin Al-Fadani (Padang) mengatakan, “Hasyim Asy’ari Al-Jumbani belajar ke Mekkah pada tahun 1308 H, gurunya diantaranya Syekh Nawawi Al-Bantani, Habib Husein bin Muhammad Husein Al-Habsyi, dan Habib Alwi bin Muhammad Assegaf.”

Habib Anies bercerita, saat ia masih kecil pernah melihat Mbah Hasyim Asy’ari naik dokar ke masjid Riyadh di Solo untuk bertemu Habib Alwi, tujuannya hanya untuk mengatakan kalau Mbah Hasyim pernah belajar dengan pamannya Habib Alwi di Mekkah. Maka tidak aneh ketika kita lihat sekarang banyak warga NU yang berbondong-bondong ke Haul Solo, karena ada hubungan keilmuan.

KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng berawal dari bangunan terbuat dari bambu, dan santrinya cuma 10 orang. Pesantren Tebuireng didirikan pada 14 Rabi’ul awal 1317 H, dan saat itu umurnya baru 30 tahun. Beliau benar-benar menghabiskan masa muda untuk menuntut ilmu.

Jadi, NU tidak bisa dipisahkan dari para masyaikh dan habaib, karena Mbah Hasyim Asy’ari memiliki mata rantai keilmuan dari para masyaikh dan habaib.

Habib Novel Alaydrus

Kajian Kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari, 2 Februari 2018, Majelis AR-Raudhah Solo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here