oleh
Muhammad Sutisna S.Sos (Pegiat Maritim Nusantara)*

Hari Santri dan Visi Poros Maritim Dunia merupakan dua variabel yang tidak bisa dipisahkan karena sama sama dicetuskan di Era Pemerintahan Jokowi-JK. Pasca Pemerintahan Jokowi menetapkan Hari santri dan poros maritim dunia sebagai kebijakan awal pembangunannya membawa angin segar terhadap masa depan santri dan kejayaan maritim di Indonesia.

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional ini disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015 lalu melalui Keppres Nomor 22 tahun 2015. Penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena santri memiliki andil besar terhadap proses panjang kemerdekaan bangsa Indonesia yang hingga kini terus berkibar di usia 73 tahun. Kenapa ada keterkaitan antara Santri dan Poros Maritim dunia tidak dapat dipisahkan.

Santri juga memiliki komitmen yang kuat dalam membangun kejayaan maritim di bumi nusantara. Hal tersebut tidak terlepas dari Peran Gus Dur Presiden Republik Indonesia ke 4 yang juga seorang santri namun memiliki wawasan maritim yang luar biasa. Gus Dur sudah mampu membaca  soal potensi ekonomi kelautan yang dimiliki bangsa ini, di era itu beliau sudah berbicara bahwa perlu adanya reorientasi ekonomi dari daratan ke lautan. Yang selama ini tidak pernah digarap secara optimal. Dengan 75% mayoritas lautan, dan secara letak geografis Indonesia yang sangat strategis. Berada di kawasan Asia Pasific yang merupakan kawasan sentral perekonomian dunia, tempat dua arus niaga bertemu silih berganti. Disitulah Indonesia memiliki peluang kunci sebagai penyeimbang pembangunan ekonomi di kedua lautan tersebut.

Issue-issue ancaman keamanan maritim di era global seperti sekarang sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi suatu negara. seperti issue-issue kerusakan lingkungan di laut, illegal fishing dan stabilitas keamanan kawasan juga harus dipersiapkan secara dini bagi suatu negara, khususnya bagi negara seperti Indonesia yang notabenenya di kelilingi oleh laut harus memiliki perangkat yang kuat dalam menjaga stabilitas tersebut.

Pemerintah saat ini perlu mendorong penguatan Pesantren  diseluruh Indonesia yang memiliki letak geografis di pesisir pantai untuk memberikan pemahaman pendidikan wawasan maritim.

Sehingga bisa mengajak masyarakat sekitar pentingnya menjaga keseimbangan pesisir pantai dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Selain itu santri juga perlu diberikan beasiswa studi ketika kuliah nanti untuk bisa fokus dalam hal-hal yang berkaitan dengan dunia maritim.

Oleh karena itu, mulai saat ini diperlukan upaya pembinaan kepada santri agar memiliki wawasan kemaritiman yang berkiblat pada ketetapan Al-Qur’an, salah satunya dapat dilakukan melalui peran lembaga pendidikan (formal atau non-formal), guna tergali dan terbinanya generasi muda bahari yang tidak hanya pintar, tapi benar dan bermoral dalam mengelola potensi lautan. 

Dalam gagasan yang dikemukakan oleh KH. Ma’ruf Amin soal arus baru ekonomi Indonesia. Dimana perlu adanya pemerataan ekonomi dengan meningkat kemandirian ekonomi umat. Sektor perikanan dan kelautan perlu menjadi perhatian khusus dalam melatih para santri dan memberikan wawasan luas agar bisa memanfaatkan potensi maritim. Yang berdampak pada kemandirian ekonomi dari santri itu sendiri.

Santri juga kedepannya bisa dilibatkan dalam pelestarian laut, melihat kondisi laut yang saat ini sangat memprihatinkan. Melalui pesantren maritim, selain pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Santri bisa diajarkan bagaimana menanama pohon bakau sebagai salah satu cara mengurangi abrasi dilaut.

Karena seperti yang kita ketahui bersama, Erosi dan Abrasi laut sering terjadi pada daerah pantai yang gundul. Abrasi sendiri diartikan sebagai pengikisan atau penggerusan daratan yang diakibatkan oleh berbagai macam hal diantaranya gelombang. Salah satu cara mencegah abrasi ini yaitu dengan menanam pohon bakau atau reboisasi, sehingga gelombang yang datang kecepatan dan tenaganya bisa di redam oleh tanaman bakau ini. Tanaman bakau (mangrove) juga merupakan tempat bagi berbagai macam biota yang hidup di laut, sehingga keberadaanya sangat penting bagi pelestarian lingkungan wilayah di pantai dan laut.

Santri juga bisa dilibatkan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, untuk tidak buang sampah sembarang di pesisir pantai. Khususnya pesisir pantai yang dihuni oleh para nelayan. Yang identik dengan kawasan kumuh. Padahal dahulu di era walisongo, pesisir pantai merupakan pusat peradaban masyarakat, dimana terjadinya berbagai macam pertukaran arus budaya, ekonomi hingga politik terjadi disana. Khususnya dalam penyebaran agama islam yang begitu massif di kawasan pesisir.

Oleh karena itu penting sekali Peran santri dalam mewujudkan poros maritim tersebut. Dengan menjadi kembali pesantren sebagai basis peradaban maritim. dimana seluruh masyarakat pesisir bisa dilibatkan secara aktif dalam menjaga kelestarian pesisir, dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Yang hari ini identik dengan kemiskinan, dan jauh dari kata sejahtera. Selamat Hari Santri Nasional. “Bersama Santri, Bahari kita Jaya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here