Haji Hasan Gipo adalah sosok saudagar NU yang dalam dirinya mengalir darah arab bugis dan Jawa.Ia adalah keturunan dari Haji Abdul Latif Sogi Poddin yang sangat dermawan terhadap sesama, terlebih dalam hartanya untuk sesuatu yang kaitanya dengan dakwah keislaman seperti membangun masjid, musholah, dan Madrasah.

Haji Hasan gipo lahir di Ampel Denta Surabaya pada tahun 1869 Masehi. Keluarga Haji Hasan Gipo sangat terpandang di kawasan Surabaya. Ia lahir dari trah orang terpandang, maka kewibawaannya masih diwarisi oleh keturunannya termasuk Haji Hasan gipo, boleh dibilang keluarga Hasan gipo atau Marga gipo ini memiliki pengaruh yang kuat, terutama masalah sosial ekonominya yang dikenal Hartawan yang dermawan, ketika Nahdlatul Ulama dideklarasikan pada 16 Rajab 1344 Hijriyah atau 31 Januari 1926 masehi, maka tim formatur yang terdiri dari para Kyai memutuskan untuk memilih Haji Hasan gipo sebagai Ketua tanfidziyah, untuk wakilnya dipilih Haji Shalih Syamil dari Surabaya. Ketua tanfidziyah bertugas sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kebijakan yang datangnya dari Syuriah atau dalam istilah lain disebut dengan pelaksana tugas dari Syuriah.

Hasan Gipo adalah sosok Hartawan yang ditugaskan sebagai salah seorang penyumbang dana untuk keberangkatan utusan Komite Hijaz yang akan menghadap Raja Abdul Aziz bin Sa’ud, guna menyampaikan aspirasi kelompok Islam tradisionalis agar umat Islam yang ada di Hijaz diberi kebebasan dalam menjalankan amalannya yang sesuai dengan mengikuti salah satu madzhab empat di bidang fiqih, serta memberikan kelonggaran kepada ulama-ulama Saudi agar diperkenankan untuk mengajar di Masjidil Haram sebagaimana yang dahulunya pernah terjadi pada masa Sharif Hussein.

Tokoh yang berangkat mulanya adalah Kyai Bisri Syansuri dan Kyai Asnawi Kudus, akan tetapi karena adanya sebuah halangan sebagai gantinya diutuslah Kyai Wahab Hasbulloh dan Syekh Ahmad.

Haji Hasan Gipo dikenal sebagai sosok yang pemberani, dengan tubuhnya yang kekar sebab adanya darah Arab dan Bugis yang mengalir, maka semua itu beliau gunakan untuk berdakwah membela agama Allah. Suatu ketika antara Kyai Wahab Hasbulloh berdebat dengan Muso yang tidak lain adalah salah satu gembong PKI, ketika sedang melangsungkan sebuah perdebatan sengit tentang masalah adanya Tuhan, banyak argumen yang dilontarkan Kiai Wahab Hasbullah untuk mematahkan pendapat Muso, akan tetapi karena Muso adalah orang atheis yang tidak mempercayai adanya Tuhan maka 1000 hujjah pun tidak akan mempan untuk menjatuhkannya. Ditengah seriusnya kedua tokoh itu berdebat maka datanglah sosok Haji Hasan gipo. Ia mempunyai sebuah inisiatif untuk menjatuhkan hujjahnya yaitu dengan adu keberanian dengan cara siap ditabrak kereta api, karena rasa gengsinya untuk mempertahankan argumen nya Muso mengiakan tantangan Haji Hasan gipo, akan tetapi saat keduanya sudah berada di atas rel dan suara kereta sudah semakin dekat, karena takut akhirnya dia melarikan diri.

Muso yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, seandainya Tuhan tidak ada bagimu tentunya dia tidak akan lari ketika kereta api akan menabraknya, akan tetapi karena kesombongan yang terjangkit dalam diri musuh sudah semakin hitam sehingga sulit untuk mendapatkan petunjuk dari Allah meskipun 1000 hujjah sudah mematahkan argumennya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here