Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi dikenal masyarakat sebagai seorang Habib yang sabar dan istiqomah dalam beribadah, hari-harinya disibukkan dengan kegiatan membaca maulid simtudduror, selain itu setiap bulan Maulid di masjid juga ada kegiatan haul Habib Ali al-Habsyi, sementara pada bulan Sya’ban diadakan kegiatan khataman Bukhari, sedangkan hataman Ar-Ramadhan dilakukan pada bulan Ramadhan, kegiatan sehari-harinya disibukkan dengan mengajar di Zawiyah.

Sebagai seorang Habib dan ulama terkemuka, Habib Anis netral dalam berpolitik. Di masyarakat Solo ia dikenal sebagai lintas sektoral dan lintas agama, ia mudah diterima oleh kalangan masyarakat karena kesantunan dalam berbicara, bahkan ketika bicara kepada orang Jawa ia menggunakan bahasa Jawa halus, sedangkan jika berbicara kepada orang Sunda ia bicara dengan Bahasa Sunda tinggi. Ia juga kerap menggunakan bahasa Arab hadromi kepada sesama Habib.

Penampilan Habib Anis selalu rapi, setiap kali bertemu orang ia selalu murah senyum dan manis menawan, bahkan ada sebagian orang yang menyebutnya the smiling Habib. Ia juga selalu menghormati para tamunya, semua tamunya menurutnya adalah sama, baik yang berpangkat atau tidak, semua tamunya dijamu dengan jamuan yang layak, dan diperlakukan dengan hormat.

Banyak masyarakat mengakui bahwa Habib Anis adalah seorang yang murah hati, masyarakat yang ada disekitarnya merasakan kemurahannya tersebut, bahkan ketika Idul Adha membagi-bagikan daging kurban secara merata melalui perangkat desa di sekitar masjid ar-riyadh, dalam membagikan daging ia tidak membedakan antara yang muslim atau non muslim.

Selain itu Habib Anis juga selalu menyempatkan diri untuk menjenguk tetangganya yang sakit, ia juga kerap kali bersilaturahmi dengan tukang becak yang mangkal di depan masjid lalu memberikan sedekah.

Selain itu, menjelang idul fitri, dia juga sering membagi-bagikan sarung secara cuma-cuma kepada para tetangga, baik muslim atau non muslim, Habib Anis memberikan sarung kepada non muslim juga karena ia yakin suatu saat nanti Insya Allah mereka akan masuk Islam.

Pada 6 November 2006, Habib Anis meninggal dunia, namum tetap ada dalam benak para jamaah dan masyarakat, terdapat hal menarik saat Habib Anis wafat, karena tidak mendapatkan tiket pesawat, Habib Husein yang merupakan keponakan Habib Anis tidak bisa hadir dalam pemakaman, dia hanya bisa berangkat keesokan harinya, malam hari sebelum berangkat, Habib Husein bersama istrinya mencium minyak wangi yang aroma nya khas minyak wangi Habib Anis.

Kepergian Habib Anis meninggalkan kesedihan di hati banyak orang, mereka hadir dalam prosesi pemakamannya, melihat jenazahnya tampak seperti pengantin yang sedang di arak ke pelaminan, barangkali ini adalah bukti kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi orang yang berjuang dijalan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here