Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf lahir pada tahun 1868 di Besuki, Jawa Timur. Sejak ia kecil ayahnya sudah meninggal. Ia berangkat ke Hadramaut dan belajar fiqih di kota Seiwun. Habib Al-Qutub Ali bin Muhammad Al-Habsyi melihat kelak Habib Abu Bakar akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Bahkan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi 5 kali mimpi bertemu Rasulullah SAW, dan diminta untuk memperhatikan Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf.

Pada tahun 1885, Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf menyelesaikan belajarnya di Hadramaut, lalu kembali ke Tanah Jawa. Di kota Besuki ia berdakwah dikalalangan masyarakat awam. Pada usia 20 tahun, ia belajar di Gresik dengan para ulama disana.

Seusai menunaikan shalat Jum’at, datanglah ilham dari Allah SWT untuk mengasingkan diri dari keramaian duniawi dan godaannya. Ia mengasingkan diri (uzlah) selama 15 tahun. Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi selaku gurunya berdoa selama tiga malam agar Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf keluar dari uzlah. Setelah keluar dari pengasingan diri, ia berziarah ke Imam Habib Alwi bin Muhammad Hasyim as-Segaf, sepulang dari sana, banyak masyarakat Surabaya berbondong-bondong menyambutnya.

Habib Abu Bakar bin Muhammad As-Segaf membuka majelis zikir di rumahnya, dalam majelis tersebut telah khatam kitab Ihya Ulumuddin sebanyak 40 kali. Setelah khatam, ia mengundang masyarakat untuk makan-makan. Majelis tersebut tidak pernah sepi.

Habib Abu Bakar wafat pada usia 91 tahun, sebelum wafat ia berpuasa selama 15 hari. Jasadnya dimakamkan di masjid Jami’ Gresik. Kesungguhan dalam menuntut ilmu dan ibadah membuatnya dicintai oleh umat. Ditambah lagi, setelah mengasingkan diri dari keramaian selama 15 tahun, bukannya membuatnya terkucilkan, tapi justru membuatnya menjadi sosok ulama yang masyhur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here