Jakarta – Islamophobia menjadi persoalan serius yang harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan alternatif. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar negeri saja, melainkan juga di dalam negeri. Munculnya sikap Islamophobia tentu akan menganggu harmonisasi dan tatanan kehidupan antar umat beragama.

Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama RI, Dr. Suwendi, M.Ag, mengungkapkan adanya gelombang ekstrimisme yang mengatasnamakan agama atau menggunakan isu-isu tertentu yang menyudutkan Islam. Dengan meningkatnya Islamophobia ditengah masyarakat, Suwendi berharap PTKI bisa meng-counter narasi-narasi tersebut dengan menggaungkan kembali moderasi beragama.

“Menurut Saya, PTKI harus bisa menjadi laboran atau researcher untuk mendeteksi dan meneliti serta mencari tahu persoalan itu. Selain itu, PTKI juga berfungsi sebagai dokter yang dapat memberikan solusi dan alternatif penyelesaian atas persoalan tersebut,” kata Suwendi dalam webinar online Tadarus Litapdimas ke-15 bertema ‘Islamophobia Masih Ada?” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Selasa (11/8/2020).

Suwendi menyatakan Kementerian Agama sejauh ini mengembangkan moderasi beragama sebagai tindak lanjut atau turunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, bahwa moderasi beragama menjadi pilar penting dari modal sosial untuk pembangunan bangsa, dengan menguatkan relasi dan harmonisasi internal umat beragama, antar umat beragama, dan umat beragamadengan pemerintah.

“Ini sekaligus menempatkan PTKI untuk kembali meneguhkan aspek khittahnya yaitu bagaimana PTKI bisa memperkenalkan dan memperkuat aspek-aspek keislaman, keilmuan, keindonesiaan dan kemasyarakatan,” tutur Suwendi, dalam tadarus yang dipandu oleh Dr. Zaenudin Hudi Prasojo dari IAIN Pontianak.

Tadarus Litapdimas edisi ke-15 ini menampilkan rencana penelitian klaster Kolaborasi Internasional yang akan dibiayai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam dengan mengangkat isu terkait Islamophobia, yakni “Islamophobia Hate Speech on Social Media in Indonesia and Norwey” dan “Being Young Muslim in the Age of Islamophobia: Lived Experience of Indonesian Muslim Youths in the Netherlands”.

Prof. Iswandi Syahputra dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengamini bahwa Islamophobia terang-terangan menyebabkan Islam tersudutkan. Fenomena ini bukanlah hal baru, menurutnya Islamophobia sudah muncul sejak akhir abad ke-18 silam. Dalam dekade terakhir ini, ia menilai Islamophobia semakin berkembang pesat melalui media sosial sebagai ekspresi kolektif kelompok tertentu.

Dalam rencana penelitiannya berjudul ‘Islamophobia Hate Speech on Social Media in Indonesia and Norwey’, Iswandi mengungkapkan Indonesia dan Norwegia memiliki persamaan dalam penyebaran Islamophobia. Jika di Indonesia, prasangka dan diskriminasi terhadap Islam dan Muslim menyebar luas melalui platform media sosial. Sementara di Norwegia, Islamophobia kerap terjadi di ruang publik secara terbuka.

“Indonesia adalah sebuah negara penduduk mayoritas muslim. Tapi justru terjadi Islamophobia. Sementara di Norwegia, yang minoritas agama Islam, Islamophobia juga terjadi di ruang publik secara terbuka, bukan media sosial dan ini dilakukan oleh politisi, didukung media dan warganya. Situasi ini menarik untuk dikaji. Bahkan, dalam topik tertentu atau masa pemilu, isu Islamophobia dimainkan kembali untuk mendukung kepentingan politiknya,” terangnya.

Terkait fenomena Islamophobia, Syamsul Rizal, Ph.D dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga sepakat bahwa ideologi tersebut sangat berbahaya karena dapat merusak harmonisasi antar umat beragama.

Meningkatnya fenomena Islamophobia di tengah masyarakat, kata Syamsul Rizal, tidak terlepas dari rendahnya literasi masyarakat tentang Islam. Mereka jarang menerima pemahaman dan informasi tentang Islam, sehingga mudah tersulut narasi-narasi propaganda berisi ujaran kebencian terhadap Islam.

“Ketidaktahuan masyarakat, kekurangan literasi tentang pengetahuan Islam, maka wajar saja ini terjadi. Akses informasi tentang Islam pun tertutup serta politisi mulai ikut memainkan isu ini untuk memperoleh dukungan, demi mendapatkan suara, sehingga sentimen anti muslim ini meningkat,” terang Syamsul.

Sementara itu, Prof. Euis Nurlaelawati dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selaku pembahas mengatakan Islamophobia merupakan konsep lama, dan kembali populer setelah bergulir sejumlah isu-isu berbau negatrif terhadap Islam. Islamophobia semakin menguat setelah terjadinya tragedi serangan 11 September atau ‘Nive Eleven’ di Barat yang menyebabkan Islam dianggap sebagai pelaku radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme.

“Ada perubahan konstelasi politik, sehingga ini menjadi salah satu alasan kenapa Islamophobia muncul. Lalu adanya imigran Muslim dari Maroko, Turki, dan terakhir Indonesia. Mereka masih sulit beradaptasi dngaan masyarakat setempat,” kata Euis saat membahas rencana penelitian tersebut.

Euis menganggap penelitian mengenai Islamophobia masih relevan untuk dikaji, meskipun dunia saat ini tengah disibukkan dengan fenomena pandemi Covid-19.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here