Oleh: Labib Syarief, S.Sos

Dalam tulisan ini penulis memiliki posisi subyektif dan memiliki sikap berpihak dalam konflik Suriah. Keberpihakan penulis ini berdasarkan analisis teori dalam ilmu Hubungan Internasional, kedaulatan negara, dan kemanusiaan.

Pada akhir Februari 2018, di media sosial maupun media massa ramai menginformasikan krisis kemanusiaan di Ghouta yang diperkirakan memakan korban jiwa lebih dari 500 warga sipil. Krisis ini menambah daftar panjang konflik Suriah sejak munculnya tahun 2011 karena dampak gelombang Musim Semi Arab dari Tunisia. Dalam pemberitaan krisis tersebut, seperti sejak awal konflik Suriah, pada umumnya sejumlah pihak, termasuk media yang menyudutkan Bashar al-Assad selaku Presiden Suriah yang dituduh menjadi tokoh utamapenyebab jatuhnya korban jiwa di Ghouta, salah satu kota di Suriah. Pertanyaannya adalah apakah memang Bashar al-Assad merupakan dalang konflik Suriah, khususnya yang terjadi di Ghouta baru-baru ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis akan menggunakan teori dalam HI secara ringkas, yaitu teori Neo-Realis. Teori yang dikemukakan oleh Kenneth Waltz ini menekankan bahwa sistem internasional mengalami kondisi anarki, yaitu kondisi tidak adanya kekuatan aktor yang lebih kuat daripada aktor lainnya. Aktor yang dimaksud tersebut adalah negara. Akibat kondisi anarki ini, muncul konsep turunan yang menginduk dari teori Neo-Realis, dimana setiap negara yang merupakan rational actors (aktor rasional) berkompetisi untukself-help (menolong diri sendiri),struggle of power (perjuangan kekuasaan) dan profit seeking(mencari keuntungan) supayasurvival (bertahan hidup) dengan memaksimalkan power(kekuatan) darithreat (ancaman)negara lain yang bisa datang kapan saja.Dimanamenurut Neo-Realis, instrumen power sangat penting dalam hubungan internasional.

Berdasarkan teori Neo-Realis, maka pidato Bashar al-Assad dalam konferensi Gaza di Liga Arab di Doha tahun 2009 merupakan ancaman (threat) bagi Israel dengan pernyataan yaitu:

          “Adapun sikap kita sebagai negara-negara Arab, maka dengan muktamar ini, di samping memberikan dukungan secara visual. Kita harus melakukan sejumlah langkah politik, dan yang paling utama adalah: menutup semua kedutaan Israel dengan segara dan memutuskan segala bentuk hubungan, baik yang langsung atau yang tidak langsung dengan Israel sekaligus memberlakukan seluruh aturan embargo terhadapnya. Di sisi lain, kita harus bersama-sama mendukung saudara-saudara kita di Gaza dan gerakan perlawanan di sana baik melalui hubungan formal (pemerintahan) dan juga melalui hubungan kerakyatan, secara materil dan juga secara moril, serta segala cara tanpa pengecualian. Kita harus memberikan bantuan semestinya untuk memperkokoh mereka dalam menghadapi musuh (Israel). Terutama dengan membuka pintu-pintu gerbang perbatasan bagi rakyat Palestina dan memberikan pertolongan dengan segera.”

Pernyataan Bashar al-Assad pada tahun 2009 seperti yang dijelaskan di atas dengan jelas merupakan ancaman (threat) besar bagi keamanan, politik dan ekonomi Israel. Sikap ini menjadi sikap konsistensi Suriah selalu kontra terhadap Israel, sebab dalam sejarah hubungan Suriah dengan Israel, Suriah telah memiliki sikap yang anti terhadap Israel. Hal ini sesuai dengan penjelasan oleh Alumni Suriah Syam (Al-Syami) soal hubungan Suriah dan Israel. Al-Syami menjelaskan bahwasejak perang Arab-Israel pada tahun 1948 hingga perang edisi ketiga pada 1967, Suriah bersama Irak, Mesir dan Jordan tidak pernah absen dalam mengirim pasukan militernya melawan Zionis, bahkan ketika negara-negara Arab tersebut berdamai dengan Israel, Suriah adalah satu-satunya negara yang tidak menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Apalagi Suriah juga negara yang menampung pengungsi terbesar dari Palestina di Timur Tengah. Banyak fasilitas yang diberikan Suriah untuk pengungsi Palestina, seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Assad juga mendukung aktor yang anti terhadap Israel. Ia menyediakan kantor pusat Hamas di Damaskus pada 2001 sejak Hamas diusir dari Jodania tahun 1999. Suriah juga selama 15 tahun terakhir telah mengancam Israel melalui roket buatan Suriah yaitu roket-roket Khaibar M-302 yang digunakan oleh Hizbullah melawan Israel tahun 2006, serta digunakan oleh MuqawwamahPalestina, seperti Hamas, Jihad Islam dan PFLP di Gaza yang membuat pertama kalinya dalam sejarah 1,5 juta Zionis masuk ke dalam bunker perlindungan bom. Suriah bukan hanya jembatan antara muqawwamah dengan Iran, tapi juga pendukung nyata resistensi di Lebanon dan Palestina. Suriah adalah bagian vital dalam perjuangan melawan zionis. Sehingga sikap Assad pada tahun 2009 menambah daftar panjang ancaman Suriah terhadap Zionis Israel.

Pada tahun yang sama 2009, Bashar al-Assad juga menolak kerjasama pipa gas dari Saudi dan Qatar menuju Turki ke Eropa,bahkan Bashar al-Assad justru menjalin kerjasama pipa gas dengan Iran yang makin memperkuat (power) ekonomi Iran. Sehingga Bashar al-Assad mengancam perekonomian Saudi Arabia, Qatar dan Turki dan mengancam keamanan dan pengaruh (politik) Saudi Arabia dan Turki yang berkompetisi dalam struggle of power di Timur Tengah melawan Iran. Ancaman ini tidak sebatas untuk beberapa negara-negara tersebut yang memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat, tetapi juga mengancam perekonomian mitranya yaitu negara-negara Eropa yang utamanya bergabung dalam NATO, serta yang terpenting adalah mengancam pengaruh AS di Timur Tengah yang bagi Neo-Realis, AS termasuk great powers yang mempengaruhi dinamika hubungan internasional, termasuk di Timur Tengah.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa sikap Assad yang anti terhadap Israel serta menolak kerjasama pipa gas dengan beberapa negara di Timteng yang memiliki hubungan baik dengan AS dan justru berkerjasama dengan Iran telah jelas menjadikan ancaman bagi mereka (Israel, negara-negara di Timteng yang memiliki hubungan baik dengan AS, negara-negara Eropa yang bergabung dalam NATO dan utamanya AS). Sehingga Israel dan negara-negara di Timteng dan Eropayang memiliki hubungan baik dengan ASmelakukan self-help untuk survival keamanan, politik dan ekonomi merekadengan AS selaku great powers dunia. Apalagi bagi AS, struggle of powerdi Timteng juga penting baginya supaya AS tidak kehilangan pengaruhpower politik dan ekonominya di Timteng. Sehingga terjadi koalisi menjatuhkan Assad yang dipimpin oleh AS dan sekutunya (untuk selanjutnya penulis akan menyebut AS dan sekutunya).Di antara pernyataan pemimpin negara yang anti terhadap Assad dinyatakan oleh Presiden Barack Obama yaitu “Kami menuntut upaya-upaya penekanan internasional untuk dilakukannya transisi kekuasaaan ke Suriah secara demokratis tanpa Bashar al-Assad”.

Bagi Neo-Realis negara adalah aktor rasional, maka sangat tidak relevan dan terjadi kalkulasi yang rugi apabila AS dan sekutunya menyerang langsung Suriah (head to head) untuk menjatuhkan Bashar al-Assad mengingat Suriah diback up oleh Rusia, Iran bahkan China. Maka AS dan sekutunya menggunakan cara proxy war (perang yang menggunakan pihak ketiga) dalam menggulingkan Assad. Pihak ketiga yang digunakan dan didukung oleh AS dan sekutunya adalah pemberontak seperti Free Syrian Army dan teroris seperti ISIS. Perang yang menggunakan pihak ketiga oleh AS dan sekutunya juga merupakan bentuk dari profit seeking demi mempertahankan kepentingan keamanan, politik dan ekonomi AS dan sekutunya.Dengan demikian, dibentuklah konflik Suriah yang tujuan utamanya untuk menjatuhkan Bashar al-Assad dan menghancurkan Suriah ke dalam beberapa negara seperti yang terjadi di Libya.

Hingga tahun 2018, konflik Suriah sudah terjadi lebih kurang tujuh tahun sejak dimulainya pada tahun 2011. Dimana konflik ini tidak kunjung usai, karenadibalik konflik antara Assad dengan pemberontak dan teroris, terdapat pula sokongan great powers yaitu AS dan Rusia. Dimana Assad didukung oleh Rusia serta pemberontak dan teroris yang didukung oleh AS dan sekutunya. KarenaRusia jugamemiliki kapabilitas power yang sangat kuat, maka AS dan sekutunya sangat sulit untuk menjatuhkan Assad selama masih disokong oleh Rusia.

Konflik Suriah juga diperparah dengan peran media massa pro terhadap pemberontak yang didukung oleh AS dan sekutunya. Maka banyak media yang memelintirkan informasi sebagai propaganda, dibuat skema bahwa konflik Suriah adalah konflik sektarian antara Sunni dengan Syiah, Bashar al-Assad dituduh telah menghabisi rakyatnya yang Sunni, sedangkan ia adalah Syiah, padahal faktanya Sunni dan Syiah serta agama lainnya di Suriah telah lama hidup berdampingan dengan damai. Namun propaganda konflik Sunni dan Syiah dalam konflik Suriah telah membuat konflik ini makin parah dengan munculnya terorisatas nama agama. Sehingga Assad harus menghadapi pemberontak sekaligus teroris yang secara langsung maupun tidak langsung didukung oleh AS dan sekutunya.

Propaganda konflik Sunni dengan Syiah di Suriah merupakan kamuflase atau bungkus dari ambisi AS dan sekutunya untuk surivival kepentingan keamanan, politik, dan ekonomi mereka. Sebab seperti yang dijelaskan di atas bahwa Sunni dan Syiah serta agama lainnya di Suriah telah lama hidup berdampingan dengan damai. Untuk diketahui bahwa mayoritas rakyat Suriah adalah Sunni dan para menteri Assad juga kebanyakan Sunni.Bahkan pada pemilu tahun 2014, 88,7 % rakyat Suriah memilih Bashar al-Assad untuk kembali menjadi Presiden Suriah. Berdasarkan penjelasan tersebut, sehingga sangat tidak mungkin konflik Suriah disebabkan karena faktor agama, jika memang Assad tidak suka dengan rakyatnya yang Sunni, seharusnya sudah terjadi sejak Assad berkuasa yaitu sekitar tahun 2000an, lalu kenapa baru tahun 2011 paska sikap Assad terhadap Israel dan penolakan kerjasama pipa gas dengan Saudi dkk?. Selain itu, hasil pemilu Suriah tahun 2014 juga telah menunjukan bahwa rakyat Suriah masih mencintai Assad, sehinggasecara otomatis Assad masih merupakan pemerintah resmi Suriah. Kecintaan dan dukungan rakyat Suriah terhadap Assad menjadi batu ganjalan bagi AS dan sekutunya untuk menjatuhkan Assad, sehingga sulit menggulingkannya.Adalah merupakan fitnah jika ada media yang menyudutkan dan menuduh Assad adalah tokoh utama dalam menghabisi rakyatnya.

Peran media dalam membuat propaganda atau informasi yang tidak sesuai fakta tersebut sangat jelas ketika munculnya isu Save Aleppo dan Save Ghouta. Pada umumnya banyak media yang memframing bahwa terjadinya Save Aleppo dan Save Ghouta karena Assad telah menyerang rakyatnya. Padahal faktanya tidaklah demikian, justru pemberontak dan terorislah yang berlindung dengan menggunakan warga sipil, bahkan ada yang menginformasikan bahwa kaum pemberontak juga terlibat dalam menyerang sipil. Tindakan pemberontak dan teroris tersebut merupakan salah satu tindakan melakukan pelanggaran hukum humaniter. Kemudian saat Assad menyerang pemberontak dan teroris yang berlindung dibalik wargasipil, secara tidak langsung juga serangan Assad tersebut mengenai sipil (Dalam kondisi perang, memang Assad juga berpeluang melanggar hukum humaniter, namun yang harus digarisbawahi konflik di Suriah dipicu oleh pemberontak dan teroris yang didukung oleh kekuatan eksternal AS dan sekutunya, sehingga menurut penulis, kelompok pemberontak dan teroris memiliki pelanggaran hukum humaniter yang lebih besar karena pemicu konflik).

Saat serangan Assad mengenai sipil inilah yang diekspos secara masif oleh media untuk menyudutkan Assad, bahwa seolah-olah Assad adalah tersangka utama dalam konflik Suriah yang telah memakan banyak korban jiwa. Padahal Assad menyerang pemberontak adalah semata-mata untuk menyelamatkan warganya dari ancaman pemberontak dan termasuk ancaman teroris. Saat Save Aleppo dan Save Ghouta booming di media, maka hampir dipastikan pada saat itu pula posisi pemberontak mulai terpojok (kalah)dari pasukan Assad,kemudian pemberontak meminta bantuan media untuk kembali memfitnah Assad bahwa Assad telah melakukan tindakan pelanggaran kemanusiaan, itulah taktik yang digunakan oleh pemberontak dan teroris di Suriah. Sehingga jika muncul dan booming isu dalam konflik Suriah seperti Save Aleppo dan Save Ghouta hampir dipastikan Assad dalam kondisi akan memenangkan wilayah tersebut terhadap pemberontak. Kemenangan Assad tersebut merupakan sesuatu yang penting, sebab baik langsung maupun secara tidak langsung, jika Assad berhasil menguasai sebuah wilayah dari pemberontak, maka ia juga berhasil menyelamatkan warganya dari ancaman pemberontak dan teroris. Maka penulis berpendapat bahwa bedanya tujuan berperang antara pemberontak dan terorisme dengan Assad adalah jika pemberontak dan terorisme bertujuan menjatuhkan Assad, menghancurkan Suriah serta banyakjatuh korban dari pihak sipil akibat tindakannya (pemberontak dan teroris), namun jika Assad bertujuan untuk menyelamatkan wilayahnya dan warganya dari ancaman pemberontak dan sipil, namun secara tidak sengaja menjatuhkan korban sipil.Sebab memang harus diakui korban dari konflik ini adalah tetap warga sipil yang tidak berdosa, sehingga banyak warga Suriah menjadi pengungsi dan menjadi korban luka maupun jiwa. Maka jika ditilik berdasarkan korban warga sipil, penting semuanya berpihak pada kemanusiaan.

Berdasarkan analisis di atas, maka berikut kesimpulan penulis yang secara subyektif telah menjadikan penulis berpihak kepada Bashar al-Assad dalam konflik di Suriah, alasan-alasan tersebut yaitu:

  1. Assad hanyalah korban dari great powers AS dan sekutunya. Menggunakan salah satu teori dalam HI yakni Neo-Realis, karena keamanan, politik dan ekonomi mereka (AS dan sekutunya) merasa terancam (threated) oleh Suriah yang dipimpin oleh Bashar al-Assad. Dimana ancaman tersebut terjadi karena kondisi sistem internasional yang anarki, yang memang meurut Neo-Realis sewaktu-waktu dapat terjadi konflik. Maka AS dan sekutunya melakukan self-help, struggle power dan profit seeking yaitu dengan mencipta konflik. Penciptaan konflik tersebut dengan membuat proxy war di Suriah melalui penggunaan pemberontak dan teroris di Suriah yang tujuannya untuk menjatuhkan Assad dan menghancurkan Suriah. Tujuan tersebut disebabkansupaya AS dan sekutunya dapat selalu memenuhi ambisinya untuk mempertahankan (survival) kepentingan keamanan, politik dan ekonomi mereka (AS dan sekutunya) di Timur Tengah.Namun AS kesulitan menjatuhkan Assad, karena Assad masih tetap bertahan atau Suriah masih bertahan dikarenakandibackup oleh Rusia dan juga mendapatkan dukungan penuh dari rakyat Suriah.
  2. Assad anti terhadap Zionis-Israel dan membela rakyat Palestina.
  3. Assad difitnah menghabisi rakyatnya oleh sejumlah media dengan propaganda konflik Sunni dan Syiah di Suriah. Padahal Sunni dan Syiah serta agama lainnya di Suriah telah lama hidup berdampingan dengan damai. Bahkan mayoritas rakyat Suriah adalah Sunni dan para menteri Assad juga kebanyakan Sunni.
  4. Assad merupakan pemerintah resmi Suriah. Pada pemilu tahun 2014, 88,7 % rakyat Suriah memilih Bashar al-Assad untuk kembali menjadi Presiden Suriah, maka Assad masih berhak memimpin Suriah, Bashar al-Assad masih berdaulat memimpin rakyatnya.
  5. Tindakan Assad menyerang pemberontak dan teroris hanyalah untuk melindungi negaranya dan rakyatnya. Akibat ulah pemberontak dan teroris yang dibackup oleh AS dan sekutunya telah memicu banyaknya korban sipil.Sebab jika tidak ada pemberontak dan teroris yang diback up oleh AS dan sekutunya, maka tidak akan terjadi konflik Suriah dan tidak akan terjadi tragedi kemanusiaan.

Suriah akan kembali damai hanya dengan stabilitas politik dan keamanan yang diberikan kembali kepada rakyat Suriah yang dipimpin oleh Bashar al-Assad sebagai Presiden resmi Suriah. Hal ini berarti Suriah memiliki kedaulatan kembali penuh atas negaranya sendiri sebagaimana sebelum terjadinya konflik dan seperti kedaulatan negara lainnya. Kemudian akhirnya Suriah akan kembali damai dan tidak ada lagi tragedi kemanusiaan.

 

Pelajaran dari Konflik Suriah untuk Indonesia

Kita adalah negara yang memiliki bermacam suku, budaya, bahasa, namun tetap dalam kondisi damai dan aman. Hal ini disebabkan apapun latar belakang kita yang berbeda, tapi kita bersatu dalam bingkai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Sehingga sudah selayaknya Indonesia menjadikan konflik Suriah sebagai sebuah pelajaran, yaitu jangan diberikan ruang sama sekali bagi pemecah belah bangsa seperti ujaran kebencian, hoax, radikalisme, terorisme, dsb.Dimana hal-hal tersebut adalah menjadi pemicu awal mula konflik Suriah.

Untuk itu, apabila persatuan kita kuat, niscaya pihak asing pun tidak akan mampu memecah belah negara kita. Sebab jangan sampai terjadi konflik, karena konflik akan membuat setiap warga negara kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti untuk sekadar nongkrong, bercengkrama dengan keluarga, mencari nafkah, dsb yang dilakukan dalam kondisi negara aman dan damai. Karena keamanan dan perdamaian sebuah negara diibaratkan merupakan sebuah oksigen yang sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Dengan adanya keamanan dan perdamaiannegara yang disebabkan persatuan, maka kita dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari, termasuk melakukan ibadah.Maka wajar jika Nahdlatul Ulama selalu menggaungkan sloganmencintai tanah air adalahsebagian dari iman.Sebab NU yang terlibat dalam mendirikan bangsa ini telah mengetahui arti penting cinta tanah air yaitu demi berlangsungnya keamanan dan perdamaian negara.I love Indonesia.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here