Sebuah era perdamaian baru dimulai, berdasarkan pada deklarasi yang ditandatangani oleh kedua pemimpin Semenanjung Korea, Korea Utara dan Korea Selatan, setelah pertemuan pertama mereka setelah lebih dari satu dekade. Tujuan kedua negara adalah menyelesaikan denuklirisasi Semenanjung Korea.

“Korea Selatan dan Utara menegaskan tujuan bersama untuk mencapai Semenanjung Korea yang bebas nuklir melalui penyelesaian denuklirisasi” membaca dalam deklarasi yang ditandatangani oleh pemimpin kedua negara, seperti yang dikutip oleh Yonhap.

“Tidak akan ada lagi perang di Semenanjung Korea, dan perdamaian era baru telah dibuka”, tambahan dalam dokumen tersebut.

Baik Korea Selatan maupun Korea Utara setuju untuk mengadakan dialog multi anggota yang melibatkan Amerika Serikat dan China agar mendorong mereka untuk melakukan gencatan senjata skala penuh. Pyongyang dan Seoul juga akan melakukan dialog tingkat tinggi militer di bulan Mei.

Dalam pernyataan yang ambisius setelah upacara penandatanganan, Kim mengatakan bahwa dia berharap dua negara Korea akan bersatu kembali. Kedua negara ini terpisah setelah perang dunia ke-2 dan masih menyisakan permusuhan sejak perang Korea yang berakhir pada tahun 1953 dengan gencatan senjata, daripada perjanjian perdamaian.

“Mengakhiri kondisi negara saat ini dari gencatan senjata dan mendirikan kekuatan rezim perdamaian adalah tugas yang bersejarah yang (kedua negara Korea) tidak dapat lagi ditunda” kedua pemimpin menggarisbawahi itu.

Usaha perdamaian terbaru telah menurunkan ketegangan di kawasan datang setelah bertahun-tahun sanksi PBB terhadap Korea Utara atas tindakannya yang melakukan pengulangan test nuklir dan peluncuran misil.

Usaha perdamaian sebelumnya juga telah dilakukan yaitu duduk dengan Pyongyang dalam meja negosiasi dengan bentuk “Dialog Enam Anggota”, tetapi usaha tersebut hanya memberikan istirahat sementara sebagai ganti untuk bantuan penuh. Dimana Korea Utara menarik diri dari negosiasi dan melanjutkan test nuklir.

Cairnya hubungan antar dua Korea dimulai awal tahun 2018 dalam Olympic Games di Korea Selatan. Pada Januari, kedua negara bertemu untuk banyak pembicaraan yang diantisipasi. Dimana pembicaraan ini pertama dalam dua tahun, setelah dalam waktu singkat kedua negara membentuk gabungan tim perempuan es hoki dan berbaris di bawah spanduk persatuan dalam upacara pembukaan olimpiade.

Momen langka upaya persatuan dua Korea datang setelah berbulan-bulan terjadi sejumlah ketegangan di kawasan, termasuk melalui anggota ketiga seperti AS. Washington telah memperlakukan Pyongyang “api dan amarah”, mengirimkan armada militernya ke kawasan, dan sering mengadakan permainan perang di sana–sehingga sering membuat marah Korea Utara.

Sumber: www.rt.com

Diterjemahkan oleh Labib Syarief

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here