Nadhine Blackwhite

Daya imajinasi saya tidak begitu tinggi, itulah mengapa saya sering menulis sesuai dengan apa yang saya temui di kenyataan. Kali ini, saya kembali menulis berangkat dari pengalaman saya mengamati lingkungan sekitar, pastinya ini adalah sebuah kenyataan..

Ketika ada tuduhan bahwah di era jahiliyah, kaum perempuan sangat terbelakang.Then tell me more about khadijah, whom your prophet got married to. Wasn’t she a woman of wealth? How could she be so wealthy in the era of jahiliyah, before she met him?

Sekalipun kita tahu bahwa ibadah seseorang tidak akan diterima 40 hari ketika melakukan dosa besar seperti zina, tetaplah seseorang itu harus ibadah dengan niat awal karena Allah. Why ? Gini ya, Pahala itu bersifat transenden, siapa tahu sebelum seseorang berbuat dosa yang menyebabkan ibadah tidak diterima 40 hari dia pernah berbuat kebaikan/pahala yang ganjarannya adalah dihapuskan dosa-dosanya selama 70 tahun.

Bagi saya mau bikin dosa apapun yang namanya ibadah terutama sholat harus tetap dijalani. Bukan anggap remeh dosa ya .. tapi balik lagi bahwasanya sifat dosa itu manusiawi, tapi berusahalah sebisa mungkin untuk tidak berbuat dosa, Maksud saya, urusan dapat pahala atau tidaknya seseorang dari Tuhannya, diterima atau tidak ibadahnya itu urusan Allah. Jadi ibadah ya ibadah aja jangan pamrih, niatkanlah karena Allah. Bahkan yang tidak berbuat dosa zina/minum khamr aja belum tentu ibadahnya diterima, so balik lagi ibadah itu wajib pahala itu bonus. Diterima atau tidaknya ibadah kita itu hak mutlak Allah.

“Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir (pendosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya (meremehkannya)”. (HR. Bukhari). Lalu bagaimana dengan orang yang suka mengkafir kafirkan orang lain ? otomatis hal itu lebih mengerikan dibanding menilai perbuatan dosa orang lain.

Siapa saja yang berkata pada saudaranya : hai kafir, maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannyaā€¯ (HR Bukhari).

Maksud dari hadist tersebut adalah ketika seseorang yang mengkafirkan orang lain sekalipun dengan ucapan, hal tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. Artinya orang tersebut juga dianggap kafir sebab telah berkata demikian pada sesama muslim yang seharusnya saling mencegah maksiat satu sama lain.

So guys, yang terpenting sebenarnya adalah kita menilai ke-Islam-an kita sendiri, bukan ke-Islam-an orang lain. Apalagi menilai keimanan setiap orang yang beragama lain (non-muslim)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here