Dalam diskusi rutin Majelis Dzikir Hubbul Wathon dan Dialektik.id yang berjudul “Menyambut NU Abad kedua: Peran Politik Nasional.” Dinno Brasco (Ketua Umum Satria Pinandita) menjelaskan tentang tantangan NU dan politik kebangsaan NU.

“NU itu sangat komit, para Indonesianis bilang kalau benteng terakhir Indonesia adalah NU.

Alasan KH. Wahid Hasyim memilih NU bukan karena faktor keluarga Pesantren, tapi karena beliau melihat NU punya kekuatan untuk memajukan umat Islam Indonesia.” Ujar Dinno.

Dinno juga mengatakan bahwa tujuan politik NU bukan politik kekuasaan, seperti minta jatah 20 mentri. Baginya itu urusannya lain, mungkin lewat negoisasi atau konsensus, tapi bukan itu tujuan politik NU.

“Doktrin politik NU itu berbeda dengan yang lain, politik NU adalah politik kebangsaan, yaitu menjaga tanah air ini. Gus Dur mampu menjadikan doktrin politik kebangsaan dinyatakan dalam bumi manusia, dinyatakan tidak ada peperangan dan pertumpahan darah antar anak bangsa demi merebut kekuasaan.” Jelasnya.

NU saat ini memiliki tantangan. Pertama adalah mengisi kekosongan sosial. Kedua, menjaga hubungan antarsesama. Ketiga menjaga hubungan dengan Tuhan.

“NU tidak ada inovasi dalam mengisi kekosongan sosial, NU tidak ada respon secara masif di medsos, sehingga ada gerakan untuk membenci NU lewat medsos.

Ada semacam gerakan menyingkirkan peran kyai, ada anak SMA mengatakan kyai kafir dan munafik. Mereka belajar agama bukan lewat kyai, tapi lewat medsos.

Politik kebangsaan NU adalah menjaga republik dan agama, landasan menjaga republik ini adalah agama, hubbul wathon minnal iman.

Peran politik NU saat ini adalah menjaga keberlangsungan generasi kedepan, karena saat ini ada potensi perpecahan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here