Pertanyaan: Ada seseorang berkata bahwa tidak boleh memohon, meminta dan berdoa kecuali hanya kepada Allah, Allah tidak butuh wasilah (perantara). Rasulullah bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللّهِ. رواه الترمذي
Hadits ini menunjukkan bahwa hanya boleh memohon, meminta dan berdoa kepada Allah. Bagaimana dengan pernyataan ini, apakah benar ?

Jawab: Pernyataan ini adalah salah. Makna hadits tersebut bukanlah: Jangan memohon kepada selain Allah dan jangan meminta pertolongan kepada selain Allah. Melainkan makna hadits tersebut adalah bahwa yang paling layak diminta dan diharap pertolongannya adalah Allah. hadits tersebut maknanya seperti hadits Nabi:
لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ. رواه ابن حبان
Jadi sebagaimana hadits ini tidak menunjukkan haramnya bersahabat dengan non muslim dan haramnya memberi makan kecuali kepada orang yang bertakwa, melainkan maknanya bahwa yang paling layak dijadikan teman adalah orang yang mukmin dan yang paling layak dijamu adalah orang yang bertakwa. Hadits tersebut tidak berarti haram memberi makan kepada selain orang mukmin dan haram menjadikannya sebagai teman.

Jadi hadits riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban hanya menunjukkan makna awlawiyyah (yang paling layak). Karena Rasulullah tidak mengatakan:
لَا تَسْأَلْ غَيْرَ اللّهِ وَلَا تَسْتَعِنْ بِغَيْرِ اللّهِ
KISAH MENARIK
1. Imam as-Syafii berkata: “Sungguh aku bertabarruk (mengambil berkah) Abu Hanifah, aku mendatangi kuburannya tiap hari –dalam rangka berziarah-, dan jika muncul keperluan aku shalat dua rakaat lalu aku datang ke kuburannya dan aku memohon kepada Allah keperluan tersebut di makam Abu Hanifah, dan belum jauh aku meninggalkan kuburan kecuali hajat-ku tersebut telah dikabulkan oleh Allah.” (Diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1/122-125)
2. Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab al-Iman (6/128) bahwa Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “aku menunaikan ibadah haji lima kali, dua kali naik hewan tunggangan dan tiga kali berjalan kaki, atau tiga kali berkendaraan dan dua kali berjalan kaki. Dalam salah satu perjalanan tersebut aku tersesat jalan, ketika itu aku berjalan kaki, lalu aku mengatakan: “Wahai para hamba Allah, tunjukkanlah aku ke jalan yang benar”, Ahmad mengatakan: “Aku terus mengatakan seperti itu hingga aku menemukan jalan yang benar.”
3. Pengarang kitab Kifayah al-Akhyar yang bernama al-Imam Taqiyyuddin al-Husni menyebutkan di dalam kitabnya Daf’u syubah Man Tasyabaha Wa Tamarrada (hlm 89): “Ibnu Asakir menuturkan dalam kitab Tarikh-nya bahwa Abu al-Qasim bin Tsabit al-Baghdadi melihat seorang laki-laki di Madinah mengumandangkan adzan Subuh di kuburan Rasulullah, dan ia mengucapkan:
الصلاة خير من النوم
Kemudian datanglah salah seorang Khadim Masjid Nabawi dan memukul pipinya ketika mendengar adzan tersebut. Maka laki-laki tersebut menangis dan beristighatsah dengan Nabi dan mengatakan:
يا رسول الله في حضرتك يفعل بي هذا الفعل!!
“Wahai Rasulullah, di dekat Anda aku diperlakukan seperti ini !!”.
Maka kemudian khadim Masjid tersebut terkena lumpuh seketika itu juga, kemudian dibawa ke rumahnya dan tiga hari setelahnya meninggal.”

Orang yang bertawassul adalah seperti orang yang sakit pergi ke dokter dan meminum obat agar diberikan kesembuhan oleh Allah, meskipun keyakinannya pencipta kesembuhan adalah Allah, sedangkan obat hanyalah sebab kesembuhan. Jika obat dalam contoh ini adalah sebab ‘aadi, maka tawassul adalah sebab syar’i.

Inilah penjelasan ringkas tentang bolehnya melakukan tawassul, memohon, meminta dan berdoa kepada selain Allah.

Semoga Allah senantiasa meridhai kehidupan kita, sehingga kebahagiaan senantiasa menyertai, aamiin.

Sumber: Tawhid Corner

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here