1. Dari Minang Ruh Spritual dan Jerjaring Islam Nusantara
Syekh Ahmad Khatib adalah tokoh Islam pembaharu Indonesia. Pasalnya, ulama ini lah yang melahirkan para ulama besar di nusantara, seperti pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Syekh Sulaiman Arasulli pendiri PERTI, Tidak hanya itu, Syekh Ahmad Khatib juga berkontribusi lewat pemikirannya yang kemudian tersebar luas di Indonesia. Pemikirannya tersebar melalui dua jalan, pertama melalui kitab-kitabnya dan kedua melalui tatap muka langsung dengan muridnya dari Indonesia.

Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dia lahir pada 26 Mei 1860 di Kota Kadang, Bukittinggi, Sumatra Barat. Ibunya bernama Limbak Urai binti Tuanku Nan Rancak dan ayahnya bernama Abdul Lathif. Di masa kecilnya, Syekh Ahmad Khatib mempelajari dasar-dasar ilmu agama dengan tekun. Dia menerima ajaran Islam dari ayahnya langsung. Saat itu, dia juga sudah mampu menghafal beberapa juz dalam Alquran. Di samping itu, Ahmad kecil juga sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau yang tamat tahun 1871 M. Saat berusia 11 tahun, dia pun dibawa sang ayah untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah.

Syekh Ahmad Khatib mendirikan semacam pondok pengajian dilingkungan rumahnya yang digunakan sebagai tempat belajar menuntut ilmu pengetahuan agama. Pondok pengajian yang dikelolanya mengalami perkembangan dan muridnya mencakup beberapa negara di dunia, yang salah satunya berasal dari Indonesia.
Saat para ulama Indonesia menunaikan ibadah haji, mereka biasanya akan menyempatkan diri untuk menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib. Setelah kembali ke Indonesia, murid-muridnya pun mampu menjadi ulama-ulama besar.

Murid-muridnya yang dari Minangkabau antara lain, Syekh Muhammad Jamil Jambek, H. Abdul Karim Amrullah yang merupakan ayah dari Buya HAMKA, dan H. Abdullah Ahmad. Sementara, yang berasal dari luar Minangkabau lebih banyak lagi. Di antaranya, Syekh Muhammad Nur dan Syekh Muhammad Zain yang kemudian sama-sama menjadi mufti Kerajaan Langkat di Binjai, Syekh Hasan Hasan Maksum yang menjadi mufti Kerajaan Deli, dan Syekh Muhammad Saleh sebagai mufti Kerajaan Selangor.
Di Indonesia, murid-muridnya itu kemudian dikenal sebagai para ulama yang berjuang melawan kolonialisme di daerahnya masing-masing. Mereka juga mendirikan lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia. Di Makkah, kesadaran Ahmad Khatib tentang pentingnya persatuan Islam terbangun. Dia merasa persatuan umat Islam di Indonesia juga harus diperkuat untuk membebaskan negara dari penjajahan. Lewat pemikirannya itu, Syekh Ahmad Khatib seakan membuka jalan perjuangan umat Islam di Indonesia.

Berikutnya putra minang yang menyebarkan islam di Indonesia Bagian Timur adalah: Datuk Patimang, Datuk Patimang, Datuk Ri Tiro, Di wilayah Tallo dan Gowa, sekitar awal abad ke-17, ketiga Datuk ini mengislamkan Raja Tallo, pada hari Jumat 14 Jumadil Awal atau 22 September 1605, kemudian menyusul Raja Gowa XIV, yang akhirnya bernama Sultan Alauddin. Kerajaan Tallo dan kerajaan Gowa merupakan kerajaan kembar yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Perdana Menteri kerajaan Gowa adalah juga Raja Tallo. Raja Tallo XV, Malingkaan Daeng Manynyonri merupakan orang pertama di Sulsel yang memeluk agama Islam melalui seorang ulama dari pantai Barat Sumatera, Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.
Kerajaan Tallo sering disebut-sebut atau diistilahkan sebagai pintu pertama Islam di daerah ini atau dalam bahasa Makassar ” Timunganga Ri Tallo”.Kemudian Raja Gowa secara resmi mengumumkan bahwa agama resmi kerajaan Gowa dan seluruh daerah bawahannya adalah agama Islam. Sebelum masuknya agama Islam di Sulsel, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh.
Dalam riwayat dikisahkan bahwa awalnya Datuk Ribandang sendiri bersama kawannya dilihat oleh rakyat kerajaan Tallo sedang melakukan shalat Ashar di tepi pantai Tallo. Karena baru pertama kalinya itu rakyat melihat orang shalat, mereka spontan beramai-ramai menuju istana kerajaan Tallo untuk menyampaikan kepada Raja tentang apa yang mereka lihat.
Raja Tallo kemudian diiringi rakyat dan pengawal kerajaan menuju tempat Datuk Ribandang dan kawan-kawannya melakukan shalat itu. Begitu melihat Datuk Ribandang sedang shalat, Raja Tallo dan rakyatnya secara serempak berteriak-teriak menyebutkan ”Makkasaraki Nabi sallalahu” artinya berwujud nyata Nabi sallallahu.
Inilah salah satu versi tentang penamaan Makassar, itu berasal dari ucapan ‘Makkasaraki’ tersebut yang berarti kasar/nyata. Versi lainnya menyebutkan bahwa karena munculnya sosok bercahaya dari pantai (yang merupakan sosok dari Datuk Ribandang) sehingga penampakan cahaya putih dari Datuk ini disebutkan sebagai Akkasaraki atau menampakkan diri.
Menetapnya Datuk Ribandang di Makassar
Datuk Ribandang sendiri menetap di Makassar dan menyebarkan agama Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan wafat di Tallo. Sementara itu dua temannya, masing-masing Datuk Patimang yang nama aslinya Khatib Sulung Datuk Sulaiman, menyebarkan agama Islam di daerah Suppa, Soppeng, Wajo dan Luwu, dan wafat dan dikebumikan di Luwu. Sedang Datuk RiTiro atau nama aslinya Syekh Nurdin Ariyani berkarya di sejumlah tempat meliputi Bantaeng, Tanete, Bulukumba. Dia wafat dan di makamkan di Tiro atau Bontotiro sekarang.
Sentuhan ajaran agama islam yang dibawa oleh ulama besar dari Minang itu, juga terdapat di Bagian selatan Sulawesi Selatan yang lain, yaitu Kabupaten Bulukumba, yang bertumpu pada kekuatan lokal dan bernafaskan keagamaan. Dengan masing-masing dibawa oleh 3 orang Datuk tersebut, Dato’ Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar), dan Dato Patimang.
Berikutnya Datuk Karama atau Syekh Abdullah Raqie adalah seorang ulama Minangkabau yang pertama kali menyebarkan agama Islam ke Tanah Kaili atau Bumi Tadulako, Sulawesi Datuk Karama lahir di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau dan diberi nama Abdullah Raqie. Selain itu beliau juba memiliki nama lain yakni Dato Karama. Isterinya bernama Intje Dille, dan kedua anaknya bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu.

Awal kedatangan Syekh Abdullah Raqie atau Datuk Karama di Tanah Kaili bermula di Kampung Lere, Lembah Palu (Sulawesi Tengah) pada masa Raja Kabonena, Ipue Nyidi memerintah di wilayah Palu. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islam-nya ke wilayah-wilayah lainnya di lembah Palu yang dihuni oleh masyarakat Suku Kaili. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Palu, Donggala, Kulawi, Parigi dan daerah Ampana.
SyiarIslam
Seperti beberapa masyarakat lainnya di nusantara, pada masa itu masyarakat suku Kaili juga masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme yang mereka sebut “tumpuna”, dimana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat. Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh raja dan masyarakat Kaili. Perjuangan Datuk Karama akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam, dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Lembah Palu tersebut .

Wafat
Datuk Karama meninggal pada Abad 17 di Kampung Lere, Palu, Sulawesi Tengah. Jasad Datuk Karama dimakamkan di Kampung Lere, Palu (Kota Palu sekarang). Makam Syekh Abdullah Raqie atau Datuk Karama kemudian hari menjadi Kompleks Makam Dato Karama dan berisi makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.
Selanjutnya makam Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus obyek wisata religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.
Untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu.
Masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya adalah alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau.
Uraian kisah diatas membuktikan minang kabau sebagai sentrum nya peradaban Islam, karena banyak ulama penyebar Islam seantero negeri ini berasal dari minang, enensi islam yang disebarkan adalah Islam yang Ramah, Santun, Toleran sehingga Islam ini cepat diterima oleh masyarakat. Jika hari ini jerjaring Islam seperti ini di akomodir maka wajah baru nusantara akan kembali bersinar.

2. Dari Minang Tokoh – Tokoh Pendiri Republik
MINANGKABAU dengan sejarah perjuangan kemerdekaan hingga mempertahankan Republik Indonesia (RI) tidak bisa dilepaskan, kita harus tahu, berikut tentang orang minang di pusaran NKRI.
1. Soekarno (Proklamator), menantu orang Minang (Bu Fatmawati adalah istri Soekarno yang memiliki darah bangsawan Kerajaan Indrapura – Pessel)
2. Tan Malaka, tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda sudah menulis buku “Naar de Republiek Indonesia” yang menjadi inspirasi Soekarno dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.
3. M. Yamin, salah satu pengusul dalam rapat BPUPKI soal dasar negara pada tahun 1945.
4. Hatta, Proklamator sekaligus penyusun konsep ekonomi kerakyatan Indonesia.
5. Agus Salim, yang bertarung secara diplomatik dalam usaha pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia.
6. Sutan Sjahrir, bertarung di meja perundingan saat Belanda dan sekutunya masih ingin mencengkramkan kukunya di Indonesia lewat agresi-agresinya.
7. M Natsir, mengembalikan NKRI lewat MOSI INTEGRAL-nya selepas Indonesia terpecah belah dalam negara boneka RIS selepas Perjanjian Linggarjati. makanya Prof. Syafi’i Ma’arif pernah bilang,“Apabila NKRI hancur lebur dan semua daerah-daerah memisahkan diri, maka Sumatera Barat-lah (baca Minangkabau) yang tersisa”. Lalu, Buya Mas’oed Abidin mengatakan, perjuangan yang dilakukan oleh orang Minang untuk Republik Indonesia adalah perjuangan tulus.
PDRI di Bukittinggi ketika Jakarta habis digempur oleh Agresi Belanda, tetap memakai nama RI (Republik Indonesia). PRRI yang digawangi oleh tokoh-tokoh Masyumi dan perwira-perwira militer daerah – yang meskipun oleh banyak pihak disebut sebagai pemberontak – tetaplah memakai kata RI (Republik Indonesia).
Apalagi yang dituntut oleh PRRI tidak pernah menyebutkan pemisahkan diri dari NKRI. PRRI hanya menuntut:
1. Kembali kepada Pancasila dan UUD 45 yang murni.
2. Kembalikan Dwitunggal Soekarno-Hatta
3. Perlunya Otonomi Daerah agar bisa menggali potensi dan kekayaan Daerah
4. Bersihkan kabinet dari komunis.
Berbeda dengan GAM dan OPM yang melekatkan kata “Merdeka” pada nama daerahnya, Oleh karena itu, sangat miris apabila orang Minang tak tampil lagi sebagai pemikir untuk “menyelamatkan” dan kembali memberikan pemikiran “peta” buat Indonesia menghadapi ombak masa depan yang lebih ganas, maka hari ini sudah waktunya kembali menjemput sejarah, membangkit batang terendam.
3. Jaringan Diaspora Perantau minang seluruh dunia, membangun Kemandirian Ekonomi
Di mana ada orang Minangkabau, maka di sana pasti terjadi akselerasi perekonomian. bahwa tidak ada dalam sejarahnya orang Minang yang dibenci dan dimusuhi. Bahkan, keberadaan orang Minang di sebuah tempat sangat dirindukan karena membantu terbukanya kesempatan kerja dan mempercepat perputaran roda ekonomi daerah di mana ia berada.
Di manapun orang Minang itu merantau, maka dapat dipastikan ia akan mampu segera beradaptasi dan turut serta berkontribusi membangun daerah di perantauan tersebut, Ada hal yang menarik dalam pengamatan tersebut, yakni pada lokasi-lokasi di setiap daerah, yang diasumsikan sebagai titik-titik di mana terjadinya percepatan roda ekonomi, ditemukan adanya konsentrasi pedagang Minangkabau.
Di Jakarta, kita mengenal lokasi penyumbang devisa terbesar adalah Tanah Abang, tahu sama tahu, di sana didominasi oleh pedagang Minang. Di Blok M, juga demikian, nyaris dikatakan pedagang Minang menguasai segala lini. Di Bandung, kita kenal pusat perbelanjaan Pasar Baru ada Pasar Baru Trade Center, di Surabaya kita kenal ada Pasar Blauran Baru, Pasar Baru Keputih, bahkan kawasan perbelanjaan di jalan Malioboro Yogyakarta yang didominasi para pedagang Minang. itu belum termasuk rumah makan Padang yang tersebar di seantero Tanah Air bahkan mancanegara.
Suksesnya orang Minang di perantauan, karena berkait dengan filosofis yang telah diajarkan turun menurun dari nenek moyang orang Minangkabau. Yang pertama adalah, “dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang.” Ini norma inti perantau Minang yang telah diadopsi menjadi kultur dan bahasa Indonesia. Maksudnya, agar setiap orang yang merantau dan bepergian ke sebuah tempat yang baru segera menyesuaikan diri dengan adat istiadat di tempat barunya itu.
Filosofi kedua yakni “baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” mengharuskan agar kita mengambil pelajaran dan menuntut ilmu pada mereka yang telah sukses, dan pandai-pandai mengambil hikmah dari kegagalan orang lain. Artinya, jangan malu dan ragu untuk bertanya dan mempelajari pengalaman orang lain, mengapa ia sukses atau mengapa pula ia gagal, untuk diambil pelajaran kehidupannya.
Norma ketiga adalah, “indak ado rotan aka pun jadi”. Ini prinsip panjang akal. Orang Minang selalu punya cara untuk mencari solusi dengan mempergunakan potensi yang ada dengan tetap mendapatkan hasil yang maksimal.
Prinsip keempat adalah “Takuruang nak di lua, taimpik nak di ateh.” Inilah kehebatannya orang Minang, kalau terkurung ia maunya di luar, kalau terhimpit ia maunya di atas. “Ini bukan berarti sebuah kelicikan, ini lebih diartikan sebagai optimisme yang besar dalam diri orang Minangkabau. Meskipun gagal, dia akan menjadikan kegagalannya itu sebagai pemicu agar dirinya makin giat berusaha, gigih mencari jalan ke luar, dan sebagainya. Meskipun terjepit, orang Minang itu akan optimis akan menemukan opsi-opsi lain, thinking outside the box, sehingga akhirnya menempati posisi di atas,”.

Penulis: Tuanku Kuniang Satria Effendi
Kandidat Ketua Umum PB PMII

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here