Oleh: Labib Syarief

Pada tanggal 4 Maret 2018, mantan mata-mata Rusia yang menetap di Inggris, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, mengalami insiden upaya pembunuhan dengan menggunakan racun Novichok (racun saraf sekelas militer) saat berada di Salisbury, Inggris. Sehingga mereka dilarikan di rumah sakit di Inggris dan dalam keadaan kritis. Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengatakan “amat mungkin” Rusia berada di balik kejadian itu. Karena alasan dugaan itulah pada 14 Maret 2018, Inggris memutuskan untuk membalas Rusia dengan mengusir 23 diplomat Rusia. Diplomat Rusia ini diberikan waktu selama satu minggu untuk hengkang dari negeri Ratu Elizabeth tersebut terhitung sejak diumumkan keputusan pengusiran dari pemerintah Inggris. Inggris mengidentifikasi sejumlah pejabat diplomat Rusia sebagai aparat intelejen dan tidak dinyatakan secara resmi.

Rusia menolak tuduhan Inggris dalam kasus upaya pembunuhan terhadap Skripal dan putrinya, serta menanggapi tuduhan Inggris tersebut sebagai aksi provokatif dan tuduhan yang tidak terbukti. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakhrova, menyatakan bahwa justru zat racun terseebut berasal dari Republik Ceko, Slowakia, Swedia atau Amerika Serikat. Kemudian pada 17 Maret 2018, Kementerian Luar Negeri Rusia menjalankan aksi balasan yang sama terhadap Inggris, yaitu mengusir 23 diplomat Inggris, menutup pusat kebudayaan Inggris, British Council, serta Konsulat Inggris di St Petesburg. Rusia memberikan kesempatan kepada 23 diplomat Inggris untuk pergi dari negaranya dalam kurun waktu seminggu.

Konflik antara Inggris dan Rusia ini semakin memanas karena AS juga turut ikut serta mengusir diplomat Rusia sebanyak 60 orang dan menutup Konsulat Jenderal Rusia di Seattle. AS menuduh Rusia telah melanggar Konvensi Penggunaan Senjata Kimia dan hukum internasional. Bagi AS, pengusiran diplomat Rusia ini yang paling besar sejak Perang Dingin. Pengusiran diplomat Rusia juga disusul oleh sejumlah negara Uni Eropa, seperti Jerman dan Perancis, kemudian Australia, bahkan NATO. Sehingga pada tanggal 29 Maret 2018, setidaknya 27 negara telah mengusir diplomat Rusia di masing-masing negaranya dengan total mencapai 150 orang.

Rusia kembali merespons atas pengusiran diplomatnya di sejumlah negara, utamanya oleh AS dan Inggris. Maka pada 29 Maret 2018, Rusia menyatakan AS dan Inggris telah menekan negara-negara lain untuk mengikuti tindakan AS dan Inggris tersebut atas alasan kasus Skripal. Untuk menginvestigasi kasus ini, Rusia juga telah mendesak pertemuan dengan Dewan Eksekutif Organisasi untuk Larang Senjata Kimia, OPCW, agar menggelar pertemuan darurat pada Selasa (03/04) guna “mendapatkan kebenaran”.

Selanjutnya pada 30 Maret 2018, Rusia juga mengusir 60 diplomat AS dan menutup Konsulat Jenderal AS di St. Petesburg. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyatakan bahwa tindakan ini sebagai balasan pengusiran masif diplomat Rusia yang dipimpin oleh AS dan Inggris. Lavrov juga menambahkan, seperti yang dikutip di Rusia Today, bahwa “Moskow akan mengusir diplomat dari negara-negara lain dengan jumlah yang sama.”

Persaingan power AS dan Rusia dalam dunia internasional

Saling usir diplomat antara Rusia dengan AS dan sekutunya bermula dengan dugaan upaya pembunuhan kepada Skripal di Inggris. Konflik yang sebenarnya pertarungan antara AS dan Rusia ini bukanlah yang pertama kalinya. Contoh konflik dua negara ini terjadi dalam aneksasi Krimea oleh Rusia di Ukraina, sehingga telah berdampak pada memburuknya hubungan antara Washingtan dengan Moskow. AS dan sekutunya menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia akibat tindakan Rusia tersebut. Bahkan Rusia diusir dari keanggotaan G8, organisasi negara maju di dunia. Konflik kedua negara ini juga tersirat dalam konflik Suriah, dimana AS mendukung pemberontak dan Rusia mendukung pemerintahan Assad.

Sehingga konflik saling usir diplomat merupakan persaingan power antara AS dan Rusia dalam dunia internasional. Rusia yang notabene bekas Uni Soviet, pesaing AS dalam Perang Dingin, masih mewarisi alutsista militer Uni Soviet, dan kuantitasnya termasuk seimbang dengan AS. Sehingga AS juga masih merasa tersaingi oleh Rusia. Maka dari itu, kedua negara yang memiliki power militer terbanyak dunia, mungkin disusul dengan China, selalu bersaing untuk menjadi yang terkuat yang di dunia. Begitulah yang dinyatakan oleh Realis maupun Neo-Realis melihat persaingan militer antar negara.

Terkait tuduhan AS dan sekutunya dalam kasus upaya pembunuhan Skripal yang dilakukan oleh Rusia, tidaklah dapat langsung dinyatakan benar tuduhan tersebut. Sebab sangat sulit juga untuk memverifikasi fakta di lapangan, apakah memang Rusia bersalah. Mengingat sejatinya bisa jadi ini adalah skema pertarungan AS terhadap Rusia.

Sumber: BBC, New York Times, Okezone, Sindonews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here