Oleh Ganang Tri Brata

Untuk memulai tulisan ini saya coba menawarkan sebuah pertanyaan yang nantinya cukup anda jawab dalam hati anda masing-masing,

APAKAH SOSOK/FIGURE ITU PENTING DALAM SEBUAH KONTESTASI TERLEPAS DIA KALAH ATAU MENANG?

Mengingat pentingnya untuk menjelaskan sebuah istilah dalam pembahasan maka coattail effects itu sendiri perlu mendapatkan definisi yang baik, yang nantinya dapat mempermudah kita memahami apa yang sebetulnya terjadi.

Nur Rohim Yunus, Sekjen Pusat Studi Konstitusi Legalisasi Nasional (POSKOLEGNAS) UIN Jakarta dalam tulisannya yang dimuat di ADALAH: Buletin Hukum dan Keadilan Volume 2 Nomor 8e (2018) menyatakan bahwa, Coattail effects, yang juga dikenal di Indonesia sebagai Efek Ekor Jas, adalah istilah atau bahkan kosakata dalam ilmu politik yang merujuk pada suatu tindakan yang menimbulkan pengaruh pada tindakan lain (pengaruh ikutan). Secara sederhana dapat diartikan pula sebagai upaya seseorang untuk menyebabkan adanya daya atau pergerakan dari subjek lain sesuai dengan prediksi maupun keinginan subjek pertama.

Efek ekor jas sendiri sangat erat hubungannya dengan adanya sosok atau tokoh yang bisa mempengaruhi. Ambil contoh dari Mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, yang kemudian akan disingkat dengan SBY.

Berdasarkan data yang diperoleh dari news.detik.com, Kemenangan SBY di Pemilihan Presiden atau Pilpres dapat kita lihat secara jelas sebagai kesuksesan besar efek ekor jas di Indonesia. Misalnya, pada pemilihan umum tahun 2004 dan 2009 SBY berhasil memiliki tren yang positif dengan mencatat pencapain kemenangan pilpres diatas 60% pada putaran kedua baik pada tahun 2004, bersama Jusuf Kalla yakni 69.266.350 atau 60,62% melawan Megawati-Hasyim dengan 44.990.704 juta suara atau 39,38%, maupun pada tahun 2009 sebesar 73.874.562 (60,80%), jauh meninggalkan lawannya Megawati-Prabowo yang meraih suara 32.548.105 (26,79%) dan Jusuf Kalla-Wiranto 15.081.814 (12,41%). (sumber https://news.detik.com/berita/d-2645367/melihat-perbandingan-pilpres-2004-2009-dan-2014)

Sayangnya, ditahun 2019 ini perolehan suara Partai Demokrat tidak sesignifikan dasawarsa kemarin. Banyak asumsi yang mengatakan bahwa sosok yang diusung partai tersebut, Agus Harimurti Yudhoyono, belum mampu memberikan efek kejut yang maksimal, terlebih seorang mantan Mayor Infantri ini dianggap belum cakap dalam memimpin partai sebesar Demokrat. Spekulasi yang mengalir adalah perlunya adaptasi dan jam terbang di dunia politik. Naiknya suara partisipan dalam sebuah pemilihan baik pada tingkatan-tingkatan tertentu tentu sedikit banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ikut didalamnya atau bahkan yang muncul kepermukaan.

Coattail effects juga terjadi pada pilpres 2019 di Indonesia. Kompetisi ini memang menjadi bahan penentu terkait lenggang dan langgengnya sebuah partai menuju pemerintahan. Efek coattail pun sudah menjadi prediksi yang dipikirkan jauh-jauh hari oleh para partai pengusung. Dengan mendukung Joko Widodo atau Prabowo diharapkan partai-partai politik tersebut mendapat insentif elektoral, contohnya Partai Keadilan Bangsa, PKB, yang tidak hanya mendukung Presiden kita Joko Widodo partai ini pun memiliki sosok lain yaitu Muhaimin Iskandar yang juga berpengaruh dalam persentase kenaikin suara partai . Contoh lain naiknya suara Partai Keadilan Sejahtera, PKS, dan Partai Amanah Nasional, PAN, bukan hanya sikapnya dalam pemerintahan tapi adanya upaya dorongan untuk mendukung pasangan calon nomor 2 dan maraknya aksi-aksi damai yang di gaungkan. Tentu hal tersebut sah-sah saja dalam perpolitikan.

Kembali ke pembahasan, istilah coattail effecs sendiri memang semakin keras berdengung ketika dihadapkan dengan election baik pada tingkat Pemilihan Gubernur, Walikota, atau bahkan Pemilihan Presiden disuatu negara. Contoh lain yang bisa menggambarkan bahwa sosok adalah sesuatu yang krusial dan mampu mengaktifkan coattail effects adalah Mantan Presiden Amerika Serikat Warren Harding, dan sebagai bahan intermezzo dalam sebuah pembahasan, kiranya perlu di ceritakan bagaimana Warren Harding dapat terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Warren Gamaliel Harding adalah Presiden Amerika Serikat ke-29 dan hanya sempat menjabat selama 2 tahun sebelum akhirnya meninggal pada usia 57 tahun akibat serangan jantung. Terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 1921, nyatanya keberhasilan Warren Harding sendiri bukan muncul dari kemampuan dirinya. Warren Harding adalah pria yang dikenal dengan kesantunannya, sepatunya selalu bersih, ramah, rambutnya selalu tersisir rapi berwarna kecoklatan, beralis tebal dan tubuhnya yang tegap serta bidang, macho abis pokoknya. Secara Penampilan tidak ada cacat yang menggerogoti tubuh nya, bahkan beberapa orang menyebutnya sebagai Julius Caesar dari Amerika Serikat akibat penampilan luarnya yang luar biasa. sumber: https://www.kompasiana.com/sinurat/550113fba333111e73512bfd/warren-harding-error

Lalu bagaimana sepak terjangnya dalam dunia perpolitikan dan pembuatan kebijakan kala menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat?

Terpilih karena penampilan dan sosoknya yang rupawan dan mampu menggasak suara pemilih, Presiden Harding adalah seorang yang cenderung plin-plan dalam pembuatan keputusan yang berkaitan tentang kebijakan pemerintahan. Selain itu, pidatonya pun sering dianggap hanya sebagai bualan atau omong kosong bahkan para sejarawan sepakat bahwa dia adalah presiden terburuk pada masa itu. Dilansir melalui situs Geotimes, disamping memiliki sifat peragu, dirinya ternyata juga gemar bermain golf dan bermabuk-mabukan hingga tidak sadarkan diri. (sumber https://geotimes.co.id/opini/si-tampan-warren-g-harding-yang-eror-dan-gagal-sebagai-presiden/)

Disisi lain keberlangsungan politik dalam negeri, banyak terjadi politik uang yang merugikan pemerintah Amerika Serikat. Seakan kehilangan kompas dalam berlayar, Warren Harding pernah berpidato mengenai “return of normalcy” namun dirinya tidak memiliki visi bahkan ide yang luas atas pemerintahannya sendiri. Ada dari sebagian analis, salah satunya Eugene P. Traini yang juga seorang Professor of History dari Virginia Commonwealth University, yang menilai bahwa kegagalan Warren Harding dalam memerintah bukan disebabkan oleh lingkungannya yang korup melainkan ketidakmampuan dirinya untuk melihat arah perkembangan politik dan sektor-sektor prioritas yang mampu menunjang keberlangsungan pemerintahannya.

Tulisannya yang berjudul Warren G. Harding: Impact And Legacy bahkan menyatakan bahwa Presiden Harding bukan merupakan seseorang dengan pemikiran yang mendalam maupun Presiden yang berpengaruh. Harding gagal mempengaruhi bangsa hanya karena dia melihat peran Presiden sebagai seremonial. Gilanya lagi, dia melihat dirinya bukan sebagai penjaga atau sebagai pemimpin negara bahkan dirinya cenderung menghindari masalah jika memungkinkan.

Tulisan ini ditutup dengan menggantungkan sebuah pertanyaan pada bagian teratas tulisan. Pertanyaan tersebut cukup anda jawab dengan cara mengetahui secara baik tokoh-tokoh yang terlibat serta berpengaruh dalam sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kita. Dengan adanya pemahaman yang baik tentang sosok atau tokoh yang berpengaruh agaknya kita akan dipermudah untuk menggambarkan dan melihat dengan jelas cara pandang seseorang atas sebuah fenomena yang sedang terjadi.

Coattail effects sendiri hanya satu dari sekian banyaknya instrumen dalam dunia sains yang bisa kita gunakan untuk melihat sebuah fenomena. Kalo kamu, iya kamuuu~, kira-kira mau menganalisa dengan cara apa?
tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah adagium

“Setiap Masa Ada Orangnya,
Setiap Orang Ada Masanya”
Unknown Quotes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here