Komunitas Thoriqoh Sarkubiyah mengadakan diskusi peringatan hari lahir pancasila, dengan tema Menuju Universalitas Islam di Tengah Setting Chaos Peradaban Dunia. Adapun yang menjadi narasumber adalah Dinno Brasco dan Labib Syarif. Moderator dalam diskusinya ini adalah Rikal Dhikri Munthahari (Da’i Al-Mahabbah), dan selaku pembahas adalah Adriansyah (Founder Dialektik.id). Acara diadakan pada hari Minggu, 3 Juni 2018. Lokasi diskusi di Cafe Babe Uban Kampung Utan Ciputat.

Labib Syarif membuka diskusi dengan menggunakan perspektif Hubungan Internasional, adapun pernyataanya adalah: “Taktik strategi Amerika Serikat poinnya ingin menjatuhkan citra Islam, dimana Islam diidentikan keras dan barbar. Padahal dalam piagam PBB tentang hak asasi manusia juga ada dalam ajaran Islam. Kita harus perkuat kesadaran keilmuan kita tentang politik global, jangan mudah kita termakan framing media. Framing media Barat citra burukan Islam, padahal kalau kita paham peta politik global, maka dalam konflik di Timur Tengah kita akan membela Bashar Al-Assad bukan pemberontak, dan memahami konflik Yaman juga disettingg oleh Saudi dan kawan-kawan,” katanya.

Dinno Brasco selaku narasumber kedua mengatakan; “Islam lokal kedodoran dengan Islam global. Gerakan Islam transnasional ini menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, seperti gerakan Wahabi yang ditunjang pendanaan yang kuat. Oliver Roy mengatakan, Islam harus diglobalkan, seperti gerakan khilafah Islamiyah yang dibawa oleh ISIS. Bom yang terjadi di Indonesia beberapa waktu ini dilakukan oleh kelompok JAD (Jemaah Anshorut Daulah) yang masih jaringan ISIS. Terorisme tidak ada hubungannya dengan Islam, tapi itu kesalahan aktor-aktornya yang mengatasnamakan Islam, ini yang disebut sabotase di jalan Tuhan,” tegas pria asal Rembang ini.

Adriansyah selaku pembahas dalam diskusi mengomentari hasil diskusi, adapun komentarnya adalah: “Universalitas Islam tidak akan bisa terwujud kalau kita masih menginginkan Islam sebagai ideologi alternatif terhadap permaslahan dunia, tapi jadikanlah Islam sebagai bagian dari ideologi dunia yang memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai humanisme Marxisme sebenarnya juga ada dalam Islam, begitu juga dengan liberalisme yang mengajarkan kompetisi dan kepemilikan pribadi, ada juga dalam Islam. UUD 45 dalam pembukaannya dsebutkan, segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan. Inilah nilai universalitas dasar negara kita yang sejalan dengan Islam,” jelasnya.

Diskusi kemudian ditutup dengan pemberian testimoni dari kedua narasumber. Dinno Brasco mengatakan, “setting chaos di Timur Tengah intinya adalah perebutan logistik minyak, dan kini Indonesia yang alamnya kaya menjadi bagian dari proxy war tersebut.” Sedangkan Labib Syarif mengatakan, “Jokowi adalah Presiden pertama yang berani menentang Amerika yang ingin menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Saat ini Israel sempat mengancam tidak memberi visa pada Indonesia, namun MENLU tetap mengatakan kami bersama Palestina. Nahdhatul Ulama melalui Yahya Cholil Staquf saat bertemu dengan Wapres AS mengatakan agar AS meninjau kembali menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ini sangat menarik,NU bukanlah lembaga negara, tapi bisa masuk gedung putih, artinya disini terlihat bahwasanya NU punya bergaining position di Amerika Serikat,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here