Dwi Putri, Mahasiswi Psikologi UNUSIA Jakarta

Haringga Sirila, pemuda asal Cengkareng Jakarta Barat tewas mengenaskan setelah dikeroyok oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Fanatisme suporterlah biang dari kejadian yang berlokasi di kisaran Gelora Bandung Lautan Api tersebut. Ini bukan pertama terjadi sebenarnya. Terhitung dari tahun 2012, setidaknya ada 6 kasus serupa terjadi yang menimpa 6 suporter dari dua klub Persija dan Persib. Yang diantaranya Rangga Cipta Nugraha, Lazuardi, Muhammad Rovi Arrahman, Dani Maulana, Gilang, dan Harun Al Rasyid Lestaluhu.

Kejadian ini tidak hanya merugikan nama antar klub sepakbola di Indonesia. Tapi lebih daripada itu, wajah PSSI semakin kelam seiring pergolakan tiada henti di tubuh PSSI yang sempat dibekukan oleh FIFA beberapa tahun silam.

Ketika mendengar kabar meninggalnya Sirila, saya agak terkejut awalnya. Lebih-lebih ini bukan lagi persoalan kekerasan fisik, tapi sudah berujung nyawa. Artinya sudah tidak ada lagi harapan korban untuk melihat perkembangan situasi yang ada. Yang saya tidak habis pikir, ke mana teman-teman Sirila ketika dia dianiaya? Saya rasa itu hanya jakmania lah yang bisa menjawab.

Tapi intinya bukan di sana. Yang menjadi sorotan utama saya adalah ketika mendengar kasus ini bukanlah kasus yang pertama. Masih ada 6 kasus sebelumnya yang dimulai sejak tahun 2012. Saya ingin mengatakan bahwa oh ya, pantas kasus Sirila ini terus menerus terjadi. Ternyata ada beberapa dorongan yang menjadi sebab. Dorongan yang menjadi rangsangan terkuat individu atau kelompok dalam bertingkah laku. Faktor primiernya bisa jadi karena persoalan identitas, agresivitas, potensi yang ingin menunjukkan bahwa bagian dari dirinyalah yang lebih kuat. Menurut Miller dan Dollard, semua tingkah laku berasal dari dorongan, termasuk tingkah laku tiruan.

Dan bisa jadi juga ini adalah sebuah bentuk isyarat yang menentukan suatu tingkah laku-balas. Isyarat di sini dapat disamakan dengan rangsangan diskriminatif. Seorang individu atau kelompok memperlihatkan perilaku atau tingkah laku secara langsung pada seseorang. Bukan berarti saya berasumsi murahnya harga sebuah nyawa. Tapi ada semacam potensi dendam yang belum terbalas, nyawa harus dibayar nyawa yang dianut oleh suporter fanatik. “Jika dahulu teman saya dikeroyok, dianiaya, dan dibunuh, maka lawan saya harus merasakan hal serupa.” Singkatnya begitu.

Dalam psikologi sosial, ada teori yang menerangkan terbentuknya sikap. Inilah yang dikemukakan oleh Daryl Berum (pengikut Skinner berpandangan operant) yang mendasarkan diri dari pernyataan Skinner bahwa tingkah laku manusia berkembang dan dipertahankan oleh anggota-anggota kelompok yang memberi penguat pada individu untuk bertingkah laku secara tertentu. Atas dasar tersebutlah, Beum mengemukakan 4 asumsi, di antaranya adalah:

1. Setiap tingkah laku, baik verbal maupun sosial merupakan suatu hal yang bebas dan berdiri sendiri. Menilik dari kasus-kasus seperti Sirila, potensi suporter melakukan tindakan anarkis ialah karena mereka merefleksikan diri sesuai dengan keadaan yang tersembunyi dalam dirinya, ia sudah melepaskan sistem kepercayaan dorongan.

2. Rangsang dan tingkah laku-balas adalah konsep-konsep dasar untuk menerangkan suatu gejala tingkah laku. Konsep ini hanya dapat didefenisikan dan diukur secara fisik dan nyata(mata). Semisal ia tahu seberapa banyak kawan yang ada di ruang lingkupnya menjadi korban penganiayaan. Terlebih jika sampai harus menunggalkan nyawa.

3. Prinsip rangsangan-balas. Ini tergantung variasi lingkungan di mana individu berada sehingga potensi dan dorongan rangsangan-balas terjadi membentuk suatu sikap. Dalam kasus Sirila bisa jadi rangsangan yang mendorong suporter persib melakukan penganiayaan, karena sudah menjadi sasaran empuk. Pertama karena dendam suporter fanatik bersifat berkepanjangan, adanya individu yang menjadi rival, dan tidak kalah penting karena lokasi lingkungan mendukung serta lebih tahu kondisi.

4. Dalam analisis tentang tingkah laku perlu dihindari diikut sertakannya keadaan-keadaan internal yang terjadi pada waktu tingkah laku itu timbul. Baik yang sifatnya fisiologik maupun konseptual. Artinya, dalam berperilaku yang diekspresikan lewat sikap dan tindakan, yang terpenting menurut Beum adalah kesanggupan seseorang untuk membedakan mana yang tact dan mand.

Saya bukan hakim yang menentukan mana yang bersalah dan mana yang menjadi korban. Serta tidak layak pula mengatakan ini adalah suatu hal yang impas. Saya tertarik dengan suatu meme yang bertuliskan, “Rivalitas kita hanya sampai pada angka 90 menit, selebihnya kita adalah saudara”. Kita saudara, kita Persib, kita Persija, kita PSSI, dan yang tidak kalah penting adalah kita sama-sama mencintai sepak bola tanah air. Jangan sampai fanatisme yang sangat berlebihan (bahkan mendarah daging) menghilangkan hati nurani. Yang mempunyai id dan superego adalah diri kita, tapi keduanya mampu dikendalikan oleh ego. Artinya kita mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kita dan juga orang lain, sekalipun ia adalah rival.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here