Khairi Fuady

Urusan bernarasi dalam Public Speaking, saya banyak belajar dari para tokoh yang kerap muncul di layar kaca. Dari kalangan politisi, saya mengidolakan dua orang; Pertama Cak Imin, yang kedua Prof. Hendropriyono. Dua-duanya punya kemampuan berkelakar yang asyik di atas podium, menciptakan suasana forum menjadi amat cair. Bedanya, Cak Imin bergaya aktivis dan santri. Sedangkan Prof. Hendro cenderung parlente. Kalo yang mendakik-dakik kaya Surya Paloh, saya relatif ga suka. Old style banget kaya zaman penjajahan.

Ada juga yang serius tapi padat konten dan lezat untuk dinikmati; Romahurmuziy Ketum Partai Kakbah. Ada Fahri Hamzah yang retoris dan narasinya kuat. Mampu berdebat pada berbagai macam cuaca, pemilihan diksinya emosional dan puitis. Satu ketika dia disemprot oleh politisi senior AM Fatwa dan dia meminta maaf. Di lain kesempatan dia dihajar habis oleh Tsamara Amany dan dia tanggapi dengan santai. Cool.

Yang sedang ramai diperbincangkan, Rocky Gerung, sebelum dia nge-pop dan nge-top kaya sekarang, saya banyak mengikuti kuliah beliau. Dari “Kisah Seorang Medusa”, “Politik Akal Sehat VS Politik Akal Miring”, sampai sambutannya di acara “Sri Mulyani is Coming Back”. Style bicaranya memang sok terbata-bata, tapi sesungguhnya dia cuma pengen kasih lihat betapa apik dia meramu kata dan meracik kalimat dengan jeda-jeda tipis yang ia ciptakan sendiri. Saya sih ga peduli dia pro atau kontra pemerintah, yang jelas saya bisa belajar darinya.

Dari kalangan Sastrawan, saya senang sama KH. Zawawi Imron dengan puisinya yang berjudul “Ibu”, dan Mba Fatin Hamama yang judulnya “Al Hadiiid” , diambil dari saripati salah satu surah di dalam Al-Qur’an. Dua-duanya pancarkan keindahan kalam Tuhan lewat butir-butir puisi.

Dan dari kalangan pendakwah, bagi saya Ustadz Abdul Somad tetap juaranya. Kontennya berisi, penjelasannya gamblang dan asyik dengan dialek Melayu, dan lucu. Paket komplit.

Dari sekian tokoh di atas, yang saya belum pernah jumpa langsung adalah Ust. Abdul Somad dan Mba Fatin Hamama. Semoga Allah takdirkan bisa bertemu dan belajar, sekaligus memperkenalkan diri bahwa setelah masa mereka, kita yang muda-muda pun tengah bersiap diri untuk tak kalah hebat dari mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here