Oleh R. Kurnia P. Kusumah

Menarik dicermati pertanyaan teman-teman PMII, dalam diskusi kecil di warung kopi, 2/11/18, di Jl. Sancang 8, Bandung. Menurut sejarah, puncak peradaban Islam tertinggi terjadi di Spanyol. Tapi, muslim disana minoritas, bahkan hampir punah. Mayoritas warga Spanyol saat ini beragama Kristen.

Tingginya peradaban Islam di Spanyol pada paruh abad 8-15, berupa kemajuan ilmu arsitektur, tata kota, ekonomi, kedokteran, fisika, biologi dan filsafat merupakan “enlightment” bagi masyarakat eropa sampai sekarang. Tapi, mengapa Islam tetap ketinggalan dalam berbagai aspek kehidupan? Ini juga mungkin jadi pertanyaan kita semua.

Saya menjelaskan, bahwa Islam masuk pertama kali ke Spanyol adalah Islam “Pedang” yang dibawa oleh Bani Umayah, keturunan Muawiyah bertahta hampir 700 tahun. Namun, setelah itu Islam disana tidak berbekas.

Berbeda dengan itu, Islam yang dibawa ke Asia Timur termasuk ke Indonesia adalah Islam “Lisan” atau “Dialog” yang dibawa oleh keturunan Ali Bin Abu Thalib hingga sekarang masih melekat di hati para pengikutnya. Saat in hampir sepertiga populasi dunia adalah kaum muslim dari Asia Timur.

Berbekas atau tidaknya Islam yang dibawa oleh kedua tokoh tersebut, bukan dilihat dari peninggalan budaya dalam bentuk fisik bangunan arsitektur, ilmu pengetahuan dan filsafat, melainkan berapa jumlah penganut Islamnya. Bandingkan jumlah umat Islam di Spanyol dengan Indonesia, misalnya. Islam di Spanyol sekarang punah, di Indonesia malah mayoritas.

Ciri-ciri Islam Pedang adalah pencaplokan wilayah dengan kekerasan. Aneksasi terhadap negara lain dengan dalih demi persatuan nasional atau rakus bin tamak kekuasaan, menurut saya beda tipis. Pencaplokan terhadap negara lain akan melahirkan arus balik berupa dendam dari wilayah yang dicaplok.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella mempersekusi paksa kaum muslim (1501 M.) sebagai wujud kebencian dan dendam terhadap Dinasti Umayah. Ilmunya diambil, Islam dan umatnya dibuang. Bahasa Arab dicampakan. Kaum muslim dihadapkan dua pilihan, angkat kaki dari bumi Spanyol atau masuk kristen.

Sementara ciri-ciri Islam Dialog semata-mata kreatifitas personal. Senjatanya hanya kata-kata mengandung hikmah dan suri-tauladan perilaku. Islam corak ini dibawa oleh kaum sufi atau pedagang-pedagang kelana tanpa berpretensi kepada kekuasaan.

Literasi tentang gerakan sufisme di Asia Timur sangat kaya dan mencerahkan. Misalnya, “Kisah 1001 Malam” di Negeri Dongeng-Irak. Bagaimana dialog Abunawas dengan Sultan Harun Al-Rasyid mengandung budi pekerti Islam yang luhur. Kecerdasan, keikhlasan, kejujuran, kesabaran, dan ketinggian ilmu merupakan senjata yang diandalkan dalam penyebaran Islam.

Islam masuk ke Indonesia merembes dalam bentuk tradisi sufistik sebagai gerakan rakyat nyaris tanpa bentrokan. Ada satu-dua kasus bentrok dengan Raja Hindu di Jawa Barat dan Jawa Timur lebih merupakan perang “saudara” bukan perang koloni seperti di Spanyol, dan berakhir tanpa dendam, tanpa pencaplokan wilayah.

Menarik dicermati, membentuk kesultanan dan ke-emiran dalam wujud monarki-absolut, bahkan membangun dinasti turun temurun sebagaimana dilakukan oleh Bani Umayah menurut kaum Syiah bukan ajaran Islam. Menurut Imam Khomeini, Nabi SAW tidak menyebarkan Islam dengan bentuk kerajaan. Mereka kaum wahabi hanya memburu nafsu berkuasa saja dengan membawa panji Islam. Nah Lo???

Saya makin yakin kebenaran pepatah, bahwa lisan lebih tajam dari pedang, dan makin mengerti, bahwa kekuasaan yang digunakan secara semena-mena bisa berbalik pembalasan dengan lebih menyakitkan. Mungkin kelak dapat dimaafkan tapi tidak dapat dilupakan.

Wallohualam Bishowwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here