Adriansyah

Di kampus saya, kalau ada mahasiswa aktivis yang menenteng banyak buku dari perpustakaan, ia layak suatu saat menjadi guru besar di kampus. Namun, kalau ternyata yang ditenteng adalah buku-buku kiri, kemungkinan besar dia punya LSM. Aktivis yang hobi dandan, makan di restoran, hobi selfie, manja-manja gitu, biasanya cocok kerja jadi teller BANK. Kalau ada aktivis yang jorok, rambut gondrong, celana sobek, sering bengong tanpa tujuan yang jelas, maka ia suatu saat layak untuk jadi seorang seniman. Dan kalau ada yang aktivis yang pelitnya bukan main, kalau diajukan proposal jarang memberi banyak, ia sangat cocok jadi orang kaya raya, karena tandanya dia sudah punya modal mental bakhil dan serakah, itu sudah cukup syarat untuk jadi penumpuk harta.

Di kampus saya juga, kalau seseorang pandai bermulut manis, suka ketawa-ketawa kalau ketemu orang padahal tidak ada yang lucu, pandai membujuk dan tutur katanya mengangkat orang setinggi angkasa, tidak jelas apa maunya, ia sering disebut sebagai aktivis tukang gosok. Pakaiannya selalu rapi, senang sowan ke orang berpangkat, ketika cuaca panas atau dingin senantiasa ia tersenyum, kalau ada ketemu sesama tukang gosok hatinya lalu gelisah, takut kalah poin.

Sebaliknya, jika ada aktivis yang suka berkata apa adanya, jelas mana baik dan mana buruk, tidak pintar basa-basi, tidak cerdas memanipulasi isi hati, aktivis seperti ini tidak cocok jadi tukang gosok, karena pasti gosokannya tidak licin. Aktivis model seperti ini cocok bekerja jadi apa saja, kecuali jadi pengurus parpol. Kalau dia masuk parpol, pasti ujungnya jadi kutu loncat yang pindah-pindah parpol.

Memang, dalam dunia politik dan organisasi perlu pandai bermanis-manis dan bersilat lidah. Disuatu saat ia terlihat berdebat, dilain tempat terlihat sedang ngopi bareng. Saat oposisi menjadi kritis, saat dapat posisi menjadi bermulut manis. Saya kadang bingung, kenapa mereka betah dengan muka berkedok? Pura-pura tersenyum tapi hati ingin menghantam. Kenapa mesti ribet? Apakah seperti itu seni aktivis tukang gosok, membiarkan hati dan perbuatan bercabang-cabang? Walau hati membenci, tapi wajah harus terlihat tersenyum. Lebih baik kita tunggu suatu saat mereka jadi pemimpin bangsa, disaat Negara ini mereka gosok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here