Saya lahir dalam keluarga ulama ortodoks Bohra. Bohra adalah bagian dari muslim bermazhab Syiah Ismailiyah. Ayah saya merupakan lulusan dari sarjana studi Islam dan menjadi pemimpin untuk melayani pendirian lembaga ulama Bohra. Ia yang mengurusi lembagi Da’i tersebut atau yang biasa dikenal dengan istilah Sayyidna.

Ayah saya merupakan penganut yang kuat agama Islam bermazhab Syiah Ismailiyah. Ia selalu membuka pemikiran dan menunjukkan sikap yang sabar ketika ada seseorang yang berkeinginan untuk melakukan dialog dengannya. Saat saya masih kecil, seorang ulama Hindu Brahmin sering datang melakukan dialog dengan ayah saya. Keduanya acapkali bertukar pikiran satu sama lain soal kepercayaan masing-masing yang dianutnya. Meskipun dilakukan dialog antar agama, ayah saya merupakan seseorang yang penganut agama yang kuat yang telah dipegangnya. Saya tumbuh dewasa dalam lingkungan agamis. Dimana ayah telah mengajarkan saya untuk belajar bahasa Arab dan tafsir (sebuah komentar atas ayat-ayat Al-Qur’an), dan hadits (kumpulan dari perkataan dan tingkah laku Nabi Muhamaad saw), serta fiqih (yurisprudensi Islam).

Tetapi ia juga memasukkan saya ke sekolah di perkotaan agar mendapatkan ilmu pengetahuan modern dan sekuler. Selanjutnya ia menawarkan pilihan kepada saya untuk mengambil studi menjadi insinyur atau mengambil kedokteran. Akhirnya saya memilih untuk mengambil sarjana insinyur sipil, karena saya memiliki kualifikasi di bidang tersebut. Kemudian saya memutuskan untuk bertempat tinggal di Bombay dan ayah saya menyusul bergabung dengan saya untuk tinggal di kota yang sama.

Saya telah melihat banyak eksploitasi atas nama agama saat saya menghabiskan seperempat umur hidup saya untuk menemani ayah. Dimana ayah saya yang merupakan ulama Bohra sangat tersinggung dan tidak menyukai atas sistem yang sangat kuat melakukan eksploitasi, tetapi ia mengakui bahwa ia tidak berdaya untuk merubahnya, karena ia sendiri perlu untuk mencari nafkah. Ia harus menghadapi sejumlah persekusi seperti yang saya lihat saat saya menantang sistem tersebut. Tidak ada spiritualisme dalam sistem keulamaan Bohra. Dalam sistem ini terdapat mesin untuk mengumpulkan uang dari pengikutnya dan dikontrol oleh satu keluarga ulama dari Da’i. Mesin ini merupakan pegangan bagi kehidupan Bohra. Bahkan pada umumnya penganut Bohra tinggal dalam ketakutan sistem tersebut. Sebab apapun sikap dari ketidakpatuhan pada sistem, akan dapat menghancurkan kehidupannya. Maka perwakilan dari ulama Bohra tersebut telah membangun kehidupan masyarakat Bohra dengan mereduksi mereka untuk semakin menjadi budak.

Oleh karenanya saya datang untuk menyimpulkan bahwa organisasi agama dapat menjadi alat untuk menjadi patuh secara total terhadap kepentingan pribadi yang kuat di dalamnya. Sehingga tidak lagi menyisakan hal-hal yang memperkaya kehidupan spiritual batin, tetapi hanya menjadi alat eksploitasi dan perbudakan atas kepentingan pribadi. Saya telah membaca dan kembali membaca Al-Qur’an bahwa saya lebih merasa nyaman bahwa tujuan dari agama adalah memperkaya dan memperkuat kehidupan batin untuk mencari kedekatan kepada Tuhan. Al-Qur’an menekankan bahwa mengingat Allah swt akan membuat hati menemukan kedamaian batin (13:28). Ada sejumlah ayat dalam Al-Qur’an yang sangat kuat menekankan kekayaan kehidupan spiritual tersebut.

Akar dari eksploitasi yang saya lihat dalam seperempat umur hidup baik saat masih kecil maupun dewasa, telah membuat saya untuk lebih serius memikirkan kembali hal-hal yang mendasar dalam kehidupan beragama. Saya juga membaca literatur soal rasionalisme dengan berbahasa Urdu, Arab dan Inggris. Saya juga menulis Niyaaz Fatehpuri, sebuah catatan dari penulis Urdu dan kritik ortdoksi dalam beragama saat saya belajar di tahun pertama dalam perkuliahan. Pada saat itu pula saya membaca tulisan dari Bertrand Russell, seoarang filsuf rasionalis dari Inggris. Saya juga belajar Das Kapitalnya Marx. Meskipun saya terpengaruh oleh sejumlah tulisan dari pemikir-pemikir handal tersebut, saya tidak pernah menghentikan untuk belajar Al-Qur’an dan tafsirnya oleh para pemikir Islam yang hebat. Selama periode ini, saya juga membaca tafsir dari Sir Syed dan Maulana Azad.

Saya juga menggali lebih mendalam Rasail Khawanus Safa yang dipercaya telah disusun oleh para Imam Ismailiyah selama periode pesembunyian mereka di akhir abad kedelapan. Rasail Khawanus Safa merupakan tulisan di bidang filsafat yang sangat signifikan dan fenomenal serta telah dideskripsikan oleh para sarjana sebagai karya ensiklopedi. Surat atau karya yang disebut Pernapasan yang Murni (Ikhwanus Safa) ini adalah pekerjaan yang hebat dari sintesis akal dan wahyu. Saya juga belajar keilimiahan takwil (Sebuah cara penafsiran Al-Quran yang dikembangkan oleh sarjanawan Ismailiyah).

Semua kombinasi ini telah memberikan saya sebuah visi baru untuk kehidupan beserta maksud dan tujuannya. Saya datang untuk menyimpulkan bahwa akal adalah sebuah perkembangan intelektual manusia, tetapi tidak cukup. Sehingga wahyu juga memiliki peran sangat penting untuk menjadi sumber pedoman dan perkembangan batin. Akal memiliki peran sangat krusial dalam kehidupan manusia dan kegunaannya tidak akan pernah bisa diremehkan. Namun akal juga memiliki keterbatasan yang jelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan sulit yang mengarah pada arah dan maksud akhir kehidupan. Sehingga wahyu sangat membantu dalam menjawab persoalan ini. Saya juga datang untuk mempercayai bahwa wahyu tidak akan berkontradiksi dengan akal sebagaimana pada umumnya yang telah diyakini. Meskipun wahyu dapat di luar dari akal, namun hal tersebut tidak membuatnya keduanya bertentangan. Dr. Muhammad Iqbal, seorang filsuf dan sastrawan puisi, telah memberikan cahaya soal rekonstruksi keberagamaan dalam pemikrian Islam.

Sebuah kehati-hatian dalam studi Al-Qur’an juga secara jelas telah membuat bahwa wahyu Tuhan tidak sama sekali berkontradiksi dengan akal. Pada faktanya keduanya adalah pelengkap satu sama lain dan salah satunya tidak akan sempurna tanpa yang lainnya. Sementara akal membantu kita untuk memahami aspek fisik dari alam semesta (keseluruhan pengembangan sains alam bergantung pada intelektual manusia), sedangkan wahyu membantu kita untuk mengungkapkan jawaban akhir dari asal dan tujuan kita. Kemudian akal juga menjadi sumber penting untuk memperkaya hal-hal yang berkaitan soal kehidupan, sedangkan wahyu dibutuhkan untuk menumbuhkan sisi spiritual kita.

Diterjemahkan oleh Labib Syarief

Sumber : https://www.godcontention.org/bio/asghar-ali-engineer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here