Arief Yahya tegaskan konektivitas kunci sukses pariwisata Indonesia

Kamis, 21 Maret 2019 23:56 WIB

Menteri Pariwisata, Arief Yahya (tengah), saat berkunjung ke PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) sebagai pengelola bandara di Indonesia, di Jakarta, Kamis. (istimewa)

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menegaskan, konektivitas udara menjadi kunci sukses pariwisata Indonesia untuk menjaring kunjungan wisman sekaligus mewujudkan target kedatangan 20 juta wisman ke Indonesia.
Saat berkunjung ke BUMN PT Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara di Indonesia di Jakarta, Kamis, mengatakan, selama ini konektivitas udara masih menjadi problem mendasar untuk mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air.
“Kunjungan kepada pengelola bandara mempertimbangkan karena otoritas bandara menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan atau KSF bagi pencapaian target kunjungan wisman ke Indonesia,” katanya.
Kemudian arus lalu-lintas di sebagian besar bandara Internasional di Indonesia telah melampaui kapasitas, seperti halnya di DPS (Bali) dan CGK (Banten) yang merupakan pintu gerbang utama bagi wisman, juga beberapa bandara lainnya yang banyak diminati wisman, seperti SUB (Surabaya), JOG (Jogja), dan BDO (Bandung).
Kementerian Pariwisata mencatat, data kunjungan wisman yang datang ke Indonesia pada 2017 rata-rata lebih dari 55 persen menggunakan full service carrier, dan sisanya menggunakan low cost carrier (LCC).
Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12 persen jauh di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21 persen pertahun.
“Untuk itu Indonesia harus mempunyai low cost carrier terminal (LCCT). Secara de facto Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta sudah menjadi LCCT bandara sejak 1 Maret 2019, dan pada 1 Mei 2019 secara de jure Terminal 2F sudah menjadi LCCT,” kata Yahya.
Untuk sarana-prasarana bandara sendiri saat ini sedang terus dikebut. Pembangunan sarana-prasarana baru, di antaranya Bandara Internasional Yogyakarta Baru Airport (NYIA) yang akan beroperasi pada April 2019 dan beroperasi untuk internasional pada Oktober 2019 akan mendongkrak jumlah pengunjung ke Candi Borobudur.
“Pengoperasian NYIA akan meningkatkan jumlah wisatawan di Borobudur yang semula berkisar 1 juta bisa meningkat mencapai 2 juta orang. Lalu second rapid Exit Taxi Way di Ngurah Rai diharapkan rampung pada Oktober, dampaknya akan menambah jumlah penumpang sampai 39 juta yang saat ini sebanyak 29 juta,” katanya.
Dari sisi maskapai, kata Yahya, tidak kurang dari 40 maskapai (berbendera nasional maupun asing) terbang membawa wisman ke Indonesia.
Terdapat lima maskapai penerbangan besar dengan share international seats capacity terbesar yang pertama adalah AirAsia Group 22 persen, lalu Garuda Indonesia Group 16 persen, Lion Air Group 14 persen, Singapura Airlines Group 10 persen, dan JetStar Group 7 persen yang berkontribusi terbesar dalam membawa wisman ke Indonesia.
“Berkat sinergi kerja bersama pengelola bandara AP1 dan AP2 serta AirNav-lah yang memungkinkan kemampuan bandara di Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta meningkat, sehingga memungkinkan maskapai penerbangan untuk menambah kapasitas kursi internasional,” ujarnya.

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Original Article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here