Oleh
Dr. H. Kholilurrohman, MA*

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَـمِيًّا (سورة مريم : 65)
“Apakah engkau mengetahui adanya keserupaan bagi-Nya? (artinya engkau tidak akan menemukan keserupaan bagi Allah)”. (QS. Maryam: 65)

Sesungguhnya keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat adalah aqidah Nabi Muhammad, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Mereka dikenal dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah; ialah kelompok mayoritas ummat yang merupakan al-Firqah an-Nâjiyah (golongan yang selamat). Dalil atas keyakinan ini selain ayat di atas adalah firman Allah:

ليْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ (سورة الشورى: 11)
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an dalam menerangkan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (segala sesuatu selain Allah) terbagi kepada dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi-bagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama kita menyebutnya dengan al-Jawhar al-Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (al-Jism). Benda yang terakhir ini (al-Jism) terbagi menjadi dua macam;

1. Jism Lathîf; yaitu benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Jism Katsîf; yaitu benda yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Sedangkan sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, Dia bukan sebagai al-Jawhar al-Fard, bukan Jism Lathîf, dan juga bukan Jism Katsîf, serta Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman), sedangkan sesuatu yang demikian itu maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya pada dimensi tersebut.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَىءٌ غَيْـرُهُ (رواه البخاري والبيهقي وابن الجارود)
“Allah ada pada azal (ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (HR. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat, arah dan lainnya. Artinya bahwa Allah ada sebelum Dia menciptakan tempat dan arah, dengan demikian maka Dia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Dia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah begitu pula akal menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sahabat Ali ibn Abi Thalib -semoga ridla Allah selalu tercurah atasnya-:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ وَهُوَ اْلآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat, dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) ada seperti semula; tanpa tempat”. (Dituturkan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitab al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333).

Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitab al-Asmâ Wa ash-Shifât, hlm. 506, berkata:

“Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah:

أنْتَ الظّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىءٌ وَأنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَىءٌ (رَوَاهُ مُسلم وَغيـرُه)
“Engkau wahai Allah azh-Zhâhir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya) tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau wahai Allah al-Bâthin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya)”. Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

Imam as-Sajjâd Zayn al-Abidin Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) -semoga ridla Allah selalu tercurah atas mereka- berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِيْ لاَ يَحْوِيْكَ مَكَانٌ (رواه الحافظ الزبيدي)
“Engkaulah wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hâfizh az-Zabidi dalam Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).

Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa maka hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit, akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ke ka’bah maka hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini telah dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahîh Muslim, Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqîl, dan masih banyak lagi.
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga ridla Allah selalu tercurah atasnya- (w 321 H) berkata:

تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, artinya bahwa Allah tidak berukuran), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); Dia tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan ulama Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasannya bukanlah maksud dari Mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke arah sana untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud Mi’raj adalah untuk memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban-keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 1.
Dengan demikian tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu tempat, atau disemua tempat, atau ada di mana-mana. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) -semoga ridla Allah selalu tercurah atasnya- berkata:

إنَّ اللهَ لاَ مَكَانَ لَهُ (رواه البيهقي في الأسماء والصفات)
“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asmâ’ Wa ash-Shifât).

Imam al-Asy’ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad. Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya’rani (w 973 H) dalam kitab al-Yawâqît Wa al-Jawâhir menukil perkataan Syekh Ali al-Khawwash, berkata: “Tidak boleh dikatakan Allah ada di mana-mana”. Maka aqidah yang wajib diyakini adalah bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
Perkataan Imam ath-Thahawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al-Wujud; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya, juga sebagai bantahan atas pengikut paham Hulul; mereka yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dua keyakinan ini adalah keyakinan kufur dengan Ijma’ (konsensus) seluruh orang Islam sebagaimana dikatakan oleh Imam as-Suyuthi (w 911 H) dalam kitab al-Hâwî Li al-Fatâwî, dan Imam lainnya. Para Imam panutan kita dari ahli tasawuf sejati seperti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w 297 H), Imam Ahmad ar-Rifa’i (w 578 H), Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (w 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati; mereka semua selalu mengingatkan orang-orang Islam dari para pendusta yang menjadikan tarekat dan tasawuf sebagai wadah untuk meraih dunia, padahal mereka berkeyakinan Wahdah al-Wujud dan atau Hulul.
Dengan demikian keyakinan ummat Islam dari kalangan Salaf dan Khalaf telah sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Sementara keyakinan sebagian orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya; seperti mereka yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy adalah keyakinan sesat. Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama Salaf telah sepakat bahwa siapa yang mensifati Allah dengan satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah keluar dari Islam, sebagaimana hal ini telah dituliskan oleh Imam al-Muhaddits as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam kitab aqidahnya yang dikenal dengan nama al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah”, beliau berkata:

وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِي اْلبَشَرِ فَقَدْ كَفَر
“Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka ia telah kafir”.

Padahal telah diketahui bahwa beribadah kepada Allah hanya sah dilakukan oleh orang yang meyakini bahwa Allah dan tidak menyerupakan-Nya dengan sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Imam al-Ghazali berkata:

لاَ تَصِحُّ اْلعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah”.

Hal itu karena beriman kepada Allah dengan benar adalah syarat diterimanya amal saleh seseorang, tanpa beriman kepada Allah dengan benar maka segala bentuk amal saleh tidak akan diterima oleh Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here