Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouti

Aku ingin bercerita, beberapa tahun yang lalu setelah shalat ashar. Ada seorang lelaki yang menahanku di pintu Masjid ketika aku hendak keluar. Dia berkata kepadaku dengan penuh perasaan: “Aku ingin tahu, kenapa Allah swt menimpakan ujian ini kepadaku, sedangkan aku tidak melakukan perkara yang Dia tidak suka?”

Aku bertanya kepadanya: “Apakah musibah yang kamu hadapi”. Lelaki itu berkata: “Aku memiliki seorang anak yang masih kecil, tiba-tiba dia mengidap penyakit yang sangat berbahaya. Setelah beberapa hari menderita, penyakit itu semakin parah dan dia pun mati”

Lelaki itu pun mulai mempersoalkan masalah tersebut dengan berkata: “Siapakah yang menyebabkan penyakit ini menyebar, sehingga menjangkiti anakku dan menyebabkan dia mati?”. Ini adalah (sebuah) kritikan darinya dan sepatutnya dia perlu berdoa, tetapi (sayangnya dalam) doanya masih terdapat perasaan dengan hati yang tidak puas.

Jawaban yang aku beri kepadanya tidak penting. Tapi yang penting adalah apa yang ingin aku katakan sekarang bahwa aku berharap kamu semua dapat mengambil pelajaran dari jawaban ini.

Aku berkata padanya: “Aku percaya bahwa kamu tidak melakukan perkara yang Allah swt tidak suka. Tetapi aku ingin bertanya kepada kamu: ‘Apakah kita hidup di dunia ini dengan syarat-syarat yang kita tetapkan kepada Allah atau kita hidup di dunia dengan syarat-syarat Qadha dan Qadhar yang Allah tetapkan kepada kita?’”

Jika kamu hidup di dunia dengan syarat-syarat yang telah kamu tetapkan kepada Allah dan syarat-syarat yang kamu itu disetujui lalu kamu dihidupkan di dunia ini. Apa yang kamu persoalkan adalah benar dan itu kritikanmu.

Tapi apakah memang keadaannya memang begitu?. (Keadaannya tidaklah demikian, Karena) aku, kamu, mereka dan semua manusia diciptakan dari sesuatu yang tiada kepada ada ke dunia ini. Kita hidup di dunia ini dengan Qadha dan Qadhar yang Allah telah tetapkan kepada kita.

Kita telah dikabarkan bahwa dunia ini adalah tempat diberi ujian. Kita akan diuji dengan harta dan jiwa. Allah berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah – 155).

(Jadi sebenarnya) apakah kita semua orang yang bebas atau hamba? Jika kita bebas, maka kita berhak untuk berkata apa saja dan mempersoalkan apa saja yang kita suka. Tapi apakah kita (benar) orang yang bebas? (Sesungguhnya tidak, kita bukanlah orang bebas. Tetapi) kita adalah (hanya seorang) hamba. Seorang hamba itu tidak berkuasa atas dirinya, apa lagi terhadap anaknya. Sehingga dia (hamba) tidak memiliki apa-apa. Dia (hamba) adalah milik Allah swt dan Allah swt berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

Lelaki yang aku ceritakan tadi sebenarnya adalah seorang lelaki yang baik. Tetapi dengan ujian kematian anaknya itu membuat dia berkata seperti itu.

 

Ditranskip dari video ceramah Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouti yang diupload oleh akun Youtube Najmi Rohaiza MurtajimClips

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here