Adriansyah

Berdasarkan sejarah yang beredar, Syekh Siti Jenar adalah seorang wali yang bertentangan dengan pendapat umum. Ia dituduh mengajarkan kesesatan, hingga akhirnya walisongo perintahkan ia untuk menghadap Raja Demak. Syekh Siti Jenar mengaku dirinya adalah Tuhan, sehingga ia dipancung, namun tetesan darahnya membentuk tulisan Allah.
Menurut buku Agus Sunyoto yang berjudul Atlas Walisongo, Syekh Siti Jenar adalah cucu dari Nabi Muhammad Saw dari jalur Imam Ali Zainal Abidin, Imam Husein, Sayyidina Ali dan istrinya Fatimah binti Rasulullah SAW. Tapi pada artikel ini bukan membahas berbagai versi sejarah tentang Syekh Siti Jenar, melainkan membahas tentang ajaran-ajarannya. Berikut ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar:

1. Hidup Sejati
Bagi Syekh Siti Jenar, hidup sejati adalah yang tidak bersandarkan pada badan atau jasmani. Raga dan jasmani justru membatasi gerak. Dengan badan fisik ini manusia tidak bisa bergerak cepat dalam perjanan hidupnya. Manusia tidak merdeka, karena badan fisik menutupi pandangan, sehingga tidak bisa melihat jalan hidup yang akan datang. Dengan raganya manusia terpenjara dan mengalami penderitaan. Manusia yang memasuki alam wujud, maka ia akan digiring untuk menjadi bangkai.

2. Kehidupan dunia adalah sandiwara
Dunia bagi Syekh Siti Jenar adalah angan-angan dalam pikiran. Bila sekarang ada, suatu saat yang akan datang jadi tidak ada. Wujud dunia tidak tetap, tapi terus berubah. Dunia juga seperti di alam mimpi, adanya cuma dipikiran, tetapi sering dihadapi sebagai kenyataan.

3. Taklukan Ego
Dunia ego harus ditaklukan, karena ego yang menguasai manusia bukanlah wujud yang kekal. Ia ada tanpa rupa, tapi mampu memikat manusia yang hidup di dunia ini. Ego bisa masuk lewat pikiran dan bisa juga bisa masuk lewat perasaan di dada manusia. Perang yang sering menakuti manusia adalah karena adanya ego, dan perang yang paling besar adalah perang melawan ego.

4. Ilmu Sejati
Ilmu sejati dalam serat Syekh Siti Jenar yang diceritakan oleh Aryawijaya adalah ilmu sebenarnya. Berada pada cipta pribadi, kreasi yang tumbuh dari dalam diri, bukan yang diterima dari orang lain. Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sunyi dari pamrih, harus bening pikirannya, bebas dari kekalutan dan kecemburuan. Bebas dari kedengkian. Hati dan pikiran harus satu, sehingga tidak ada konflik bathin. Kondisi harus sepi dan tenang, panca indera mati.

5. Hidup Prihatin
Bila manusia meningkatkan keprihatinan dalam hidup, kesadarannya bermanusia semakin tinggi, pencarian dan perenungannya semakin dalam. Maka manusia sejati akan menemukan guru sejatinya.

6. Shalat
Dalam Suluk Wujil yang ditulis pada awal abad XVII, djelaskan tentang Syekh Siti Jenar menjelaskan tentang shalat.

“Unggulnya diri mengetahui hakikat shalat, sembah, dan pujian. Shalat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya atau Maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat daim. Hanyalah tata krama.”
“Manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu? Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan martabat hidupmu. Jika di dunia ini tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya hanya disebarkan, burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.”

Dalam pemahaman Jawa, shalat daim adalah shalat yang dilaksanakan terus menerus, tidak pernah putus, baik saat terjaga atau tidur. Baik ketika bekerja atau beristirahat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat. Berwudhu, buang air besar dan kecil, semuanya merupakan sembah. Itulah yang disebut niat sejati dan tidak pernah putus.

Sumber: Achmad Chodjim, “Syekh Siti Jenar: Rahasia dan Makna Kematian” (Serambi: 2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here