Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang kembali terpilih pada tahun 2009 dan sempat memicu kerusuhan massal karena dugaan kecurangan suara pada tahun tersebut, telah menyerukan untuk pemilu bebas Presiden dan Parlemen di Iran dalam surat terbukanya untuk Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei sempat mendukung Ahamadinejad setelah kembali terpilih menjadi Presiden. Dimana saat ia kembali berkuasa pada tahun 2009, terdapat sejumlah protes yang mengakibatkan tewasnya puluhan orang dan ribuan orang ditangkap. Protes ini ditujukan untuk mengkritik sistem negara teokrasi, hingga akhirnya pasukan keamanan yang dipimpin oleh elit Pasukan Revolusi membubarkan kerusuhan akibat protes tersebut.

Tetapi keretakan antara Khamenei dengan Ahmadinejad terjadi pada tahun 2011. Saat Khamenei yang memiliki kekuasaan tertinggi untuk semua kebijakan Republik Islam Iran, membatalkan kebijakan Ahmadinejad atas pemberhentian Menteri Intelejen Iran dan menyatakan Ahmadinejad telah melanggar kewenangannya.

Ahmadinejad, sosok yang keras kepala dan tersohor di negaranya, tidak dapat ikut kembali dalam pemilu pada tahun 2013. Hal ini disebabkan ia telah menjabat Presiden selama dua tahun berturut-turut. Kemudian ia digantikan oleh sosok pragmatis, Hassan Rouhani, yang memenangkan pemilu pada tahun tersebut, bahkan pada tahun lalu, 2017.

Dalam kepemimpinannya, Rouhani menyerukan untuk liberalisasi ekonomi, masyarakat, dan termasuk pada Pasukan Revolusi untuk tidak mengintervensi pemilu. Ia juga secara terang-terangan telah berhenti dalam anjuran untuk pemeriksaan terhadap kekuasaan Pemimpin Tertinggi – sesuatu hal yang berkaitan dengan pernyataan Ahmadinejad dalam suratnya kepada Khamenei yang dipublikasikan dalam websitenya pada Rabu (21/2/2018).

“Sebuah (tindakan) yang esensial dan sesegera mungkin dibutuhkan dalam melaksanakan pemilu Presiden dan Parlemen yang cepat dan bebas, tentu tanpa rekayasa Dewan Wali dan tanpa intervensi institusi militer dan keamanan, sehingga masyarakat memiliki hak untuk memilih,” tulis Ahmadinejad.

Reformasi yang Mendasar

Sebelumnya, dalam kritik yang dilontarkan oleh Ahmadinejad, ia telah menuduh bahwa Dewan Wali adalah lembaga yang selalu memeriksa kandidat Presiden dan Parlemen Iran dengan tujuan untuk memenuhi keinginan Khamenei. Padahal dalam pemilu pada tahun 2005 dan 2009 adalah pemilu yang menguntungkan Ahmadinejad. Namun dalam pemilu yang dilakukan pada 2017, Ahmadinejad didiskualifikasi oleh Dewan sebelumnya.

Surat Ahmadinejad juga menyerukan untuk reformasi yang fundamental dalam tiga bagian pemerintah — eksekutif, parlemen dan pengadilan — maupun jabatan Pemimpin Tertinggi. Namun ia tidak mengelaborasi bagaimana bentuk reformasi yang ia miliki dalam pikirannya.

Tetapi hampir tidak pernah terdengar di Iran, publik yang mengkritik Khamenei atau kekuasannya secara resmi; karena menghina Pemimpin Tertinggi adalah kejahatan.

Kerusuhan serius muncul pada Desember 2017 untuk pertama kalinya sejak tahun 2009. Kerusuhan ini utamanya karena kesulitan ekonomi, tetapi para pendemo segera memfokuskan perihal kurangnya demokrasi dan meminta untuk menghilangkan posisi pemimpin resmi tertinggi, termasuk Khamenei.

Setidaknya 25 orang tewas dalam kerusuhan dan ribuan orang ditangkap oleh Pasukan kemanan sebagai tindakan tegas dalam menangani kerusuhan. Hingga protes itu gagal pada Januari 2018.

Ahmadinejad juga menyerukan untuk membebaskan tahanan politik dan memberhentikan kepala pengadilan garis keras, Ayatollah Sadeq Amoli Larijani. Ahmadinejad menuduhnya telah tidak adil yang membela sekutunya.

Masa kepemimpinan Ahmadinejad memiliki daya tarik untuk para konservatif, pekerja di kota kecil, dan pedesaan yang miskin di Iran. Para pengkritik mengatakan bahwa pernyataan Ahmedinajad yang menyerang keulamaan dan keamanan di Iran, setelah bertahun-tahun ia relatif diam, akan membangun upaya dalam meletakkan dasar kembalinya politik Iran.

Sementara itu, popularitas Rouhani mengalami penyusutan karena kegagalannya terutama soal peningkatan ekonomi dan mengurangi tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal pada tahun 2015, kesepakatannya dengan dunia telah menjamin untuk mengakhiri sanksi Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Iran.

“Ahmadinejad dan kelompoknya telah menjadi lebih banyak aktif dalam mengkritik pengadilan dan pemerintah. Ia telah melanjutkan jalan populisnya,” kata Roozbeh Mirebrahmi, seorang jurnalis yang bekerja untuk para reformis harian Iran yang sekarang tinggal di New York.

Sumber : Reuters

Diterjemahkan oleh Labib Syarief

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here