Timur Tengah kini menjadi perhatian dunia internasional karena konflik yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini. Disamping Konflik Israel-Palestina yang belum menemui penyelesaian setelah berlangsung puluhan tahun. Gejolak Arab Spring yang berawal dari Tunisia juga merambah dan mempengaruhi perpolitikan negara-negara lainnya di Timur Tengah. Gerakan-gerakan anti rezim tidak jarang menimbulkan perang sipil berkepanjangan, seperti yang terjadi di Suriah dan Yaman.
Indonesia tidak ketinggalan untuk merespon konflik-konflik tersebut. Politik luar negeri Indonesia sendiri yang bebas aktif membuat Indonesia berada di posisi tengah/netra. Tidak ada keberpihakan pada kedua pihak berperang. Sebagai negara, Indonesia tetap berpegang teguh menjaga amanat UUD 1945 yaitu untuk menjaga perdamaian dunia. Dalam kasus Suriah sendiri Indonesia tetap menjaga hubungan baik, karena Suriah adalah salah satu negara yang pertama kali mengakui kedaulatan Indonesia. Tentunya Indonesia tidak akan sembrono dalam membuat kebijakan yang berpotensi untuk merusak hubungan baik Indonesia-Suriah yang telah dijalin lama. Namun banyak orang Indonesia yang tidak memahami hal tersebut dan menuntut pemerintah untuk memberikan sanksi tegas pada pemerintah Suriah atas kejahatan perang yang dilakukan.
Banyak orang Indonesia yang mengutuk perbuatan Assad yang dianggap telah membunuh warga negaranya. Apalagi dalam serangan yang dilakukan pemerintah Suriah dan Rusia di Aleppo, atau serangan senjata kimia yang dilakukan di Goutha. Menanggapi hal tersebut lini media sosial diramaikan dengan kampanye #Savesyria, #savealeppo ataupun #savegoutha. Kampanye-kampanye tersebut menambah kebencian banyak orang Indonesia kepada Assad, padahal sampai saat ini masih belum ada bukti kuat bahwa pemerintah Syria yang bertanggung jawab atas serangan senjata kimia tersebut. Tidak berbeda dengan Suriah, Saddam Husein masa perang Irak juga mendapatkan tuduhan yang sama. Namun sampai sekarang hal tersebut tidak terbukti, senjata kimia dinilai dijadikan alasan AS untuk melakukan serangan ke Irak. Selain anggapan telah melakukan kejahatan perang, Assad juga banyak dibenci Muslim Indonesia karena dianggap pemimpin Syi’ah yang menggenosida warganya yang Sunni.
Sama halnya dengan Suriah, perang yang terjadi di Yaman juga tidak terlepas dari isu pertentangan golongan Islam Sunni dan Syiah. Bedanya jika di Suriah Pemerintah yang dianggap Syiah, sedangkan di Yaman oposisi Houthi. Berbeda dengan Suriah, tidak banyak gerakan dan kampanye yang bertujuan untuk membela Yaman atau mengutuk pelaku penyerangan ke Yaman. Padahal tidak sedikit warga sipil yang menjadi korban dalam perang Yaman. Ribuan warga sipil meninggal karena serangan udara yang dilakukan oleh koalisi Arab termasuk di dalamnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Arab Saudi juga memblokade Yaman dan membuat warga sipil kesulitan mendapatkan makanan sehingga terancam kelaparan.
Mengacu pada hal tersebut saya melihat ada ketidakadilan dalam melihat dua konflik Timur Tenggah, karena dunia Internasional termasuk umat Islam lebih sibuk memperhatikan perang Suriah dan seperti menutup mata dalam perang Yaman. Mengutuk Assad yang dianggap membunuh warga negaranya, tapi lalai memperhatikan ribuan warga Yaman yang meninggal akibat serangan koalisi Arab termasuk Arab Saudi. Apakah karena yang menyerang Yaman adalah Saudi Arabia, tempat lahirnya nabi Muhammad dan rujukan Islam seluruh dunia? Atau karena Assad dianggap menyerang warganya yang Sunni jadi harus dikutuk? Sedangkan Arab Saudi menyerang Syiah jadi tidak masalah? Atau mungkin diantara kalian ada yang membenarkan Arab Saudi kan menyerang oposisi, kalau begitu tidak masalah untuk Assad menyerang oposisi yang mengancam keberlangsungan negara?
Satu hal yang harus dipahami bahwa, negara apapun dengan ideologi apapun sama-sama mempunyai potensi untuk berperang dan melakukan kejahatan perang bahkan Arab Saudi. Dan perang itu tidak selalu berkaitan dengan ideologi atau agama, tapi perkara perebutan kekuasaan dan sumber daya alam. Jadi jika ada isu agama ataupun golongan yang diangkat, kemungkinan besar itu hanya bahan bakar yang digunakan untuk mempertajam perang. Dalam perang kita, apalagi posisinya sebagai Indonesia, tidak membela atau menjadi oposisi siapa pun. Yang kita bela adalah kemanusiaan, rakyat sipil, perempuan, anak-anak yang menjadi korban dari perang. Jika ada yang masih kekeuh untuk menganggap ah ini masalah syi’ah sunni dan lain sebagainya. Alangkah baiknya untuk langsung ke Suriah dan Yaman dan melihat perang dari dekat saja!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here