Mama Ajengan Ahmad Syathibi (Aang Nuh) diperkirakan lahir sekitar tanggal 12-18 tanpa diketahui secara pasti bulan dan tahun kelahirannya di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat, Hindia Belanda. Tetapi, yang jelas ia keturunan Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, Tasikmalaya, Tatar Pasundan. Nama sewaktu kecilnya adalah Adun, setelah pulang dari Mekkah namanya diganti menjadi Dagustani. Namun, nama masyhurnya sekarang yaitu Al-‘alim Al-‘allamah Syaikh Ahmad Syathibi atau biasa disebut sebagai Mama Gentur kata orang sunda yang jadi anak muridnya.

Kabar dari Syekh Ahmad Eumed (alias Mama Cimasuk, Garut) bin Syekh Muhammad Rusdi (alias Mama Haurkoneng, Garut), “Waktu saya mengunjungi Mama Gentur, beliau mengisahkan, “Bahwa dulu Mama ketika sangat menginginkan punya ilmu yang besar tapi Mama merasa bingung memilih guru untuk ngaji kemana?”

Akhirnya Mama berangkat ziarah kubur ke Habib Husain bin Abu Bakar Alaydrus alias Wali Luar Batang, Jakarta. Disitu Mama membaca Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali dan tamat sebanyak 44 kali dalam waktu delapan bulan. Kemudian, setelah itu Mama bermimpi bertemu dengan Wali Luar Batang. Wali tersebut berkata, “Kalau kamu benar-benar mau punya ilmu yang besar, segeralah pergi ke daerah Garut.”

Ruslan Effendi yang merupakan santri beliau, saat diwawancara crew Dialektik.id mengatakan, amaliah baca shalawat nariyah 4444 kali masih diamalkan para santri.

Saat penulis ke Cimande, ada foto Eyang Gentur, dikatakan bahwa beliau adalah jawara se-Indonesia. Dulu zaman Soeharto beliau pernah memanjat Monas seperti cicak, lalu ditembaki tentara, tapi tidak mempan. Sampai akhirnya beliau dijadikan Pak Harto sebagai guru, dan yang menembak tersebut dapat sanksi berat.

Pernah ada tentara yang ingin naik pangkat, mama Gentur menampar dan menendang tentara tersebut, dan akhirnya tentara tersebut diusir. Tentara tersebut kemudian akhirnya naik pangkat.

Pernah juga ada pedagang yang tokonya ingin laris, Mama Gentur lalu mengarahkan asap rokoknya ke dalam toko lalu pergi, dan toko itupun laris.

Silsilah dari Ibu :

1. Nabi Muhammad Saw
2. Sayyidina Ali karroma Allahu wajhahu dan Fatimati Azzahro’
3. Sayidina Husein As.
4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin Ra.
5. Muhammad Al Baqir
6. Ja’far Ashodiq
7. Ali AI’Aridhi
8. Muhammad
9.Isa Albasyari
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidillah
12. ‘Uluwi
13. Ali Kholi’i Qosim
14. Muhammmad Shohibul Murobath
15.‘Uluwi
16. Abdul Malik
17. Abdullah Khona
18. Imam Ahmad Syah
19.Jamaludin Akbar
20.Asmar Kandi Gisik Karjo Tuban
21.Ishak Makdhum
22 Muhammad Ainul Yaqin
23. Sunan Giri Laya
24. Wira Candera
25. Kentol Sumbirana
26. Rd. Ajeng Tanganziah
27. Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan
28. Sembah Dalem Bojong
29. Syekh Nur Katim
30. Syekh Nur Hajid
31. Syekh Abdul Qodir Cihaneut
32. Syekh Muhammad Said
33. Syekh Ahmad Syatibi Gentur ( Mama Ajengan Kaler )
34. Mama Abdul Haqq Nuh Gentur

Silsilah dari Bapak :

1. Nabi Adam As.
2. Nabi Syis As.
3. Anwar ( Nur cahya )
4. Sangyang Nurasa
5. Sangyang Wenang
6. Sangyang Tunggal
7. Sangyang Manikmaya
8. Brahma
9. Bramasada
10. Bramasatapa
11. Parikenan
12. Manumayasa
13. Sekutrem
14. Sakri
15. Palasara
16. Abiyasa
17. Pandu Dewanata
18. Arjuna
19. Abimanyu
20. Parikesit
21. Yudayana
22. Yudayaka
23. Jaya Amijaya
24. Kendrayana
25. Sumawicitra
26. Citrasoma
27. Pancadriya
28. Prabu Suwela
29. Sri Mahapunggung
30. Resi Kandihawan
31. Resi Gentayu
32. Lembu Amiluhur
33. Panji Asmarabangun
34. Rawisrengga
35. Prabu Lelea ( maha raja adi mulya )
36. Prabu Ciung Wanara
37. Sri Ratu Dewi Purbasari
38. Prabu Lingga Hyang
39. Prabu Lingga Wesi
40. Prabu Susuk Tunggal
41. Prabu Banyak Larang
42. Prabu Banyak Wangi / Munding sari I
43. ( a ) Prabu Mundingkawati / Prabu Lingga Buana / Munding wangi (Raja yang tewas
di Bubat) ( b ) Prabu boros ngora / Buni sora suradipati / Prabu Kuda lelean berputra : Ki Gedeng Kasmaya
44. Prabu Wastu Kencana / Prabu Niskala wastu kancana / Prabu Siliwangi I
45. Prabu Anggalarang / Prabu Dewata Niskala / Jaka Suruh ( Raja Galuh / Kawali )
46. Prabu Siliwangi II / Prabu Jaya dewata/ Raden Pamanah rasa / Sri Baduga Maha Raja
47. Ratu Galuh
48. Ratu Puhun
49. Kuda Lanjar
50. Mudik Cikawung Ading
51. Entol Penengah
52. Sembah Lebe Warto Kusumah
53. Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan
54. Sembah Dalem Bojong
55. Syekh Nur Katim
56. Syekh Nur Hajid
57. Syekh Abdul Qodir Cihaneut
58. Syekh Muhammad Said
59. Syekh Ahmad Syatibi Gentur ( Mama Ajengan Kaler )
60. Mama Abdul Haqq Nuh Gentur

PARA GURUNYA :

1. Ayahnya sendiri yakni Mama Ajengan Kaler ( K.H.Ahmad Syathiby)
2. Uaknya yakni Mama Ajengan Kidul K.H. Muhammad Qurthuby
3. Mama Cijerah K.H. Muhammad Syafi`i

TEMAN SEPERJUANGANNYA DI PONDOK PESANTREN CIJERAH :
1. Mama Sindang Sari ( K.H.Thoha bin K.H.Muhammad Showi )
2. Mama Badaraksa ( K.H.Thoha bin K.H.Hasan Al-Mustawi )
3. Mama Gelar ( K.H.Abdus Shommad )
4. Mama Obay karawang
5. Mama Syarifuddin Ponpes Fathul Huda cipaku Samarang garut
6. Ir.Soekarno Hatta ( Presiden RI pertama )
7. Dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here