Bunga yang mekar suatu saat akan layu, bangunan yang megah suatu saat catnya akan mengelupas dan rapuh. Seperti itulah dunia, segala yang bersinar akan pudar, dan segala yang kokoh akan rapuh.

Banyak orang rela bersakit-sakit agar bisa tetap bersinar dan tetap kokoh, lalu mereka terus menerus berusaha meningkatkan pendapatan dan memenuhi fasilitas. Mereka tidak sadar bahwa kepastian ujung kehidupan adalah kematian. Akhirnya seseorang lebih menggebu-gebu mengejar dunia daripada akhirat.

Ambil contoh ketika acara berbuka puasa bersama, ketika jatah nasi telat diantarkan oleh panitia, peserta acara buka puasa akan merasa risau, takut jatahnya terlewat. Padahal kalaupun terlewat ia bisa beli di luar. Begitulah kehidupan, seseorang selalu merasa risau dengan masalah rezeki yang sudah ada jatahnya masing-masing, sehingga seringkali mereka gunakan cara haram untuk mencari rezeki, kalau perlu agamanya dijual.

Hidup di dunia ini sebenarnya mudah, cukup bersikap tenang, ikuti prosedur agama, dan jangan putus hubungan dengan Allah yang mempunyai dunia.

Seorang pengangguran, bukan anak orang kaya, tidak punya kenalan orang kaya, tapi ia punya cita-cita ingin punya rumah dan mobil bus. Orang tersebut apabila bicara hal tersebut kepada orang lain tentang cita-citanya, akan banyak yang mencibir, dan orang lain yang mencibir tersebut lupa kalau ada Allah yang bisa saja mengabulkan cita-cita orang tersebut.

Banyak orang yang dulunya susah untuk beli TV, tapi masa depannya punya stasiun TV. Ada yang dulunya tukang koran, lalu punya percetakan koran. Ada yang dulunya pengangguran susah dapat kerja, kemudian bisa membuka lapangan kerja. Jadi, jangan sampai kita lebih dekat dengan pekerjaan daripada dengan Allah, dan jangan kita lebih dekat dengan usaha daripada dengan Allah yang menentukan hasil usaha.

Ada kisah tetang anak kecil yang jalan pagi di Car Free Day bersama ayahnya, sang ayah sudah memberikan uang jajan untuk anaknya kalau ingin jajan saat jalan pagi. Sang anak tiba-tiba memberikan seluruh uang jajannya untuk orang tua yang jualan buah tapi tidak laku. Sang ayah bertanya, “kenapa itu uang jajan dikasih semua?” Sang anak menjawab, “bapak itu sudah tua, tapi dia masih berdagang, artinya dia hidupnya tidak ditanggung anak cucunya, jadi biar aku yang jadi cucunya.” Sang ayah seperti tertampar, namun bertanya; “trus nanti kamu jajan gimana kalau dikasih semua?” Sang anak menjawab, “aku punya ayah, aku yakin ayah mau kasih jajan lagi karena tahu aku habis memberi bapak tua tadi.”

Kita yang sudah dewasa sering kalah dengan anak kecil tersebut yang punya keyakinan tinggi bahwa ia pasti dapat jajan. Kita sering takut sedekahkan harta kita di jalan Allah, karena takut uang kita berkurang, padahal kita seharusnya yakin Allah akan mengganti dengan melipatgandakan setiap harta yang kita sedekahkan karena Allah.

Semoga kita semua ditetapkan keimanannya kepada Allah agar bisa terus tawakal dalam menjalani hidup