Tomo adalah pria kelahiran Pemalang, 5 Juli 1979. Ia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah di jurusan Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora. Ia semasa kuliah aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Ciputat. Setelah lulus kuliah, ia menjadi guru di sekolah bertaraf Internasional di Global Islamic School Jakarta Timur.

Latar belakang pendidikan Tomo adalah seorang santri, dimana ia pernah belajar di MTs Raudlatul Tholabah Kediri, MAN II Kediri, Pondok Pesantren Al-Mathlab Kediri Jawa Timur. Bukan hanya menjalani pendidikan formal, tapi ia juga menjalani pendidikan non formal melalui kursus-kursus. Adapun kursus yang pernah dijalani adalah pelatihan jurnalistik, pelatihan sablon printing, pelatihan komputer (Word, XL, Corel Draw, GIS), pelatihan Aquaponik, dan kursus Bahasa Arab.

Tomo memiliki banyak pengalaman organisasi, sehingga bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang aktivis yang biasa bersentuhan dan mengabdi pada masyarakat banyak. Organisasi yang pernah diikuti diantaranya Karang Taruna Kun-Barat Jaksel, Pengurus Cabang PMII Ciputat, Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemalang, ketua majelis Cahaya Mata Hati, Relawan Tsunami Aceh, Ketua Laskar Santri Nusantara (LSN), Ketua Umum Pengurus Besar Gerakan Santri Nusantara (GSN), Ketua Anak Ranting PKB Jaksel, Tim Sukses PKB DPR RI Dapil II DKI Jakarta, Tim Sukses DPRD Dapil DKI Jakarta, Peneliti IMCC, Divisi Istigosah Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW), dan Pengurus Ikatan Alumni PMII Pemalang.

Kerja Jamaah Mendatangkan Barokah.” Itulah jargon utama yang dimiliki oleh Tomo. Jargon ini maksudnya bahwa dengan kerja berjamaah segala sesuatu yang sulit akan terasa ringan dan mendatangkan banyak barokah. Ia memutuskan keluar dari mengajar di Global Islamic School yang menaunginya selama 7 tahun, lalu membuka lapangan pekerjaan berupa usaha percetakan dan properti.

Tomo memutuskan menjadi Calon Legislatif dengan tujuan agar bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak, dengan jalur politik jangkauan saya lebih luas untuk menolong orang. Ia memilih PKB sebagai jalur politiknya, karena baginya di PKB sudah tidak perlu beradaptasi lagi, dan sudah mewakili ideologinya yaitu Islam yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia memiliki visi misi agar guru-guru madrasah memiliki hak yang sama seperti guru sekolah umum, musholah-musholah di Ciputat Timur supaya mendapatkan subsidi berupa listrik gratis, karena Tangerang Selatan punya APBD besar. Bukan hanya guru madrasah, tapi guru mengaji juga perlu diangkat derajat ekonominya. Tomo juga ingin agar kota Tangsel sebagai kota santri. Para santri juga perlu diperkuat secara SDM, diberi pembekalan skill, sehingga bisa disalurkan ke dunia kerja.

Tomo pernah ditawari jadi Caleg Golkar, Partai Hanura, Partai Berkarya, dan jadi DPW PKPI. Tapi Tomo lebih memilih PKB, karena sosok Gus Dur sangat berkesan bagi dirinya, dimana Gus Dur adalah sosok muslim yang rahmatan lil alamin. Baginya masuk politik bukan perkara meraih materi, tapi perjuangan ideologi.