Oleh: Dwi Winarno (Ketua Kaderisasi PB PMII 2011-2014)

Kita boleh berandai-andai, umpama figur-figur kepala daerah yang sedemikian menonjol prestasinya adalah alumni PMII. Kepala kita juga boleh mengerang kesakitan karena tidak mampu di atasi oleh obat generik atau obat yang sering muncul di iklan sekalipun. Ternyata pengandaian tak ubahnya khayalan. Tak berbeda dengan kehidupan di pulau utopia, di mana harapan terus bertransformasi sebagai harapan.

Dulu sekali, di mana generasi milenial bahkan belum berbentuk sel sperma, Kepala Daerah yang muncul menjadi jagoan di media nasional hanya Gubernur Jakarta. Sebutlah sosok fenomenal semacam Ali Sadikin. Kebijakan populis dan tak populisnya mampu menyihir khalayak. Membuat Soeharto sempat was-was.

Masa berganti, kecepatan informasi media publik dan sosial mengalahkan kecepatan berreproduksi. Kepala-kepala daerah yang memiliki prestasi dengan program unggulan tampil mengisi kejenuhan putaran isu dan elite nasional yang orangnya itu-itu saja. Jokowi hadir di masa ini. Tidak sampai dua periode menjabat Walikota Solo, terpilih di Jakarta. Berselang dua tahun kemudian melenggang ke Istana. Ada memang yang menyebutnya sebagai duplikasi model Ahmadinejad setelah menjabat Walikota Teheran.

Di luar segala kecacatan selama mereka menjabat, muncul sosok-sosok fenomenal lain selain Jokowi. Sebut saja Ahok, Ridwan Kamil, Tri Rismarini, Azwar Anas, Yoyok Sudibyo, dan beberapa sosok lainnya. Kebijakan di tingkat lokal menjadi santer di level nasional. Prestasinya diapresiasi hingga tingkat internasional. Sayangnya, tidak satu pun merupakan alumni PMII. Inilah yang membuatnya terdengar merdu di telinga tapi terasa asam di lidah.

Saya berulang kali gelisah, paling tidak sejak 5 atau 6 tahun lalu soal perkara ini. Mengapa organisasi sekaliber PMII belum bisa menghasilkan kader yang mampu dielu-elukan orang lain karena prestasinya di tingkat daerah. Mewabah daerah-daerah lain. Menjangkiti penikmat suguhan orkestra kebaikan. Kita tidak perlu analisis ruwet dalam diskusi yang menghabiskan waktu hingga adzan shubuh berkumandang, lalu tidur dan saat terbangun sudah lupa apa yang diobrolkan. Tidak perlu juga menyalahkan keadaan atau orang lain yang membuat kita senang dan bangga menjadi korban. Lalu hanya bisa meratap di tembok kegagalan. Lihatlah, kesempatan selalu ada.

Di beberapa obrolan santai saya sampaikan: sekaranglah waktunya kita memiliki kader yang dapat menjadi role model (teladan) kepala daerah yang berprestasi. Orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada momentum yang tepat. Siapa dia? Tidak ragu, saya menyebut mbakyu Khofifah Indar Parawansa. Berkali-kali dipercaya sebagai pejabat publik, rasa-rasanya belum sekalipun muncul dugaan miring yang mencederai karirnya. Prestasinya? Silakan tanya mbah google. Tidak memalukan!

Boleh saja pembaca berandai-andai dengan pikiran liar dan konspiratifnya, saya tidak peduli. Saya hanya melihat dari kaca mata sebagai kader pinggiran yang haus akan keteladanan. Menjadi inspirasi dan membumi. Bukankah semangat kader di bawah akan makin berkobar dengan sosok hidup yang digandrungi tidak hanya oleh komunitasnya sendiri. Kelak bisa tampil membanggakan.

Sebagai pribadi, saya meminta dengan agak memaksa. Hei, kalian segenap kader yang berada di Jawa Timur. Apapun partai, pekerjaan, kondisi dan kehidupan kalian. Bergeraklah sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi saya dan mimpi kolektif kita: “Satu barisan dan satu cita. Adil dan makmur kuperjuangkan.” Anda mau, bukan?

Kampung Mede, 24 Ramadhan 1439 H/9 Juni 2018

Pelayannya para pelayan kader