Membaca buku Kritik Nalar Arab Muhammad Abid Aljabiri dari tulisan Abdul Mukti Ro’uf membutuhkan energi intelektual yang cukup memadai. Buku ini tergolong kajian yang cukup serius, obyek materialnya yang menyentuh aspek hsitoris dan filosofis yang terintegrasi secara bersamaan menjadikan pembacanya terjebak dan berhadapan dengan argumentasi para tokoh besar dunia
Islam dengan berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya. Barangkali pelibatan para tokoh besar dunia Islam tersebut adalah pilihan yang tidak dapat dihindari. Bahkan tidak hanya tokoh besar internal Islam, namun sejumlah tokoh besar eksternal yang berkonsentrasi dalam studi Islam juga
dilibatkan untuk mengahadirkan analisis yang tajam dengan bobot yang memadai dalam mengurai pemikiran besar al-Jabiri.

Secara garis besar, bobot berat analisis yang dipilih oleh penulis di atas sepadan dengan isu besar
yang diangkat yaitu tentang turats dan modernitas. Penulis memulai tulisannya dengan argumentasi “provokatif” berupa argumentasi sederhana “kaifa nata’ammal ma’a turats”. Kalimat ini dipilih dari
kesederhanaan katanya, namun memiliki semangat kontinuitas yang mendobrak terutama yang berkaitan dengan trend of contemporary islamic thought.

Berikutnya, bobot berat analisis kajian
dalam buku ini juga sepadan dengan sosok al-Jabiri itu sendiri yang memiliki posisi intelektual sebagai seorang filsuf yang sering mendapat pujian pada satu sisi serta juga tidak jarang mendapat kritik tajam pada sisi yang lain. Secara konkret, kajian Abdul Mukti dapat diklasifikasikan menjadi tiga segmentasi besar. Pertama, mengenai pemikiran al-Jabiri tentang problematika turats sebagai wacana Arab-Islam Kontemporer. Kedua, posisi pemikiran al-Jabiri dalam pemetaan pemikiran Islam kontemporer. Ketiga, konstribusi
dan implikasi pemikiran al-Jabiri tentang problematika turats terhadap gagasan dan gerakan kebangkitan Arab-Islam kontemporer.

Diskursus Pembacaan Turats Membaca pemikiran al-Jabiri tidak dapat dipisahkan dari pembacaan nalar Arab dalam magnum opusn-Nya, Naqd al-‘Aql al-‘Arabi. Term ‘aql menjadi titik tolak perbincangan yang sangat serius begitu terhubung pada persoalan identitas dan eksistensi bangsa Arab yang dihadapkan dengan capaian Barat Modern. Al-Jabiri mencurigai bahwa sistem nalar Arab terlalu bertumpu pada otoritas
masa lalu (turats) yang kemudian menyebabkan Arab harus bertekuk lutut di hadapan Barat, khususnya dalam perang tahun 1967.

Abdul Mukti dalam kajian ini sangat berambisi untuk menguak persoalan-persoalan mendasar keterpurukan Arab-Islam sebagai representasi dunia Islam. Pada sisi yang lain, kedigdayaan Barat
menjadi pemicu munculnya gagasan kebangkitan (nahdah) juga menjadi pertimbangan yang tidak dapat disisihkan. Dua sisi tersebut seakan mewakili realitas kekinian dan masa lalu Arab-Islam, masa lalu adalah tradisi (turats) sementara realitas kekinian adalah keamajuan Barat. Self Ciriticism dan semangat kebangkitan Islam (Islamic Resurgence) adalah dua gerakan manifestasi dari diskursus
pembacaan diri dan cerminan Barat yang maju.

Antara kritik dan wacana kebangkitan menempatkan turats sebagai komponen penting untuk mengurai kritik, sementara modernitas dalam konteks ini sebagai titik tolak menuju kebangkitan.
Arah dari dari dua gerakan dan pijakan tersebut menuju pada perubahan dan rekosnstruksi dunia Arab Islam pasca Defitisme Arab pada tahun 1967. Disinilah para cendekiawan memiliki beragam pandangan mengenai persoalan turats dan modernitas dalam konteks kebangkitan Arab-Islam.

Pemetaan pandangan para cendekiawan mengenai turats dan mondernitas dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar. Pertama adalah kelompok yang menawarkan wacana ideal-totalistik. Ciri pokok
dari kelompok ini mengarahkan kesadaran pada kejayaan masa lalu dan diahadirkan secara total ke masa kini. Perdebatan otentisitas (al-ashalah) menjadi poros dan bendera utama dengan
mengesampingkan segala tawaran pandangan modernitas.

Sayyid Quthb, Hasan al-Banna dan al-Maududi sering dikategorikan sebagai tokoh sentral dari kelompok ini. Prinsip berfikir yang dikembangkan oleh sejumlah tokoh tersebut adalah menempatkan Islam sebagai ideologi yang komplit bagi setiap muslim baik secara personal maupun dalam kehidupan komunal. Sehingga persoalan yang berkaitan dengan paradigma berfikir dan bersikap dalam ruang private dan publik, individu dan masyarakat harus sepenuhnya merujuk
kepada Islam tanpa kemungkinan adanya alternatif lain. Berikutnya, al-Quran ditempatkan sebagai dasar kehidupan dalam pengertian literal dan mengabaikan aspek konteks baik di masa lalu maupun
kebutuhan saat ini.

Sekilas prinsip berfikir ideal-totalistik ini mirip dengan yang dikembangkan oleh kaum tradisionalis
yang menggunakan model al-fahmu at-Turats li al-Turats (pemahaman literal dan tradisonal atas tradisi). Ciri umum dari model ini hanya melibatkan persoalan masa lalu sebagai suatu kenyataan yang mapan tanpa sama sekali melakukan kritik dengan menghadirkan tradisi sebagai bagian dari konstruksi historis. Konsekuensi berikutnya, kelompok ini akan menarasikan stigma negatif atas segala hal yang baru dan asing dengan selalu bermelankolis terhadap masa lalu. Kedua adalah kelompk transformatif. Kelompok ini menghendaki liberalisasi dengan menggunakan
tradisi Barat sebagai ukuran untuk mendefinisikan turats. Taha Husein (18889-1973) dan Salamah Musa (1887-1958) berada pada kelompok ini. Teori yang paling mengemuka yang digunakan oleh kelompok ini adalah Historical Heretagial dialectics. Secara sederhana terori menempatkan bahwa turats itu sendiri ada di ruang sejarah, sehingga hubungan dialektis dalam persoalan sosial seperti ekonomi dan politik harus dilibatkan dalam membaca turats. Secara ekstrem corak fundamental dari kelompok ini benar-benar berada dalam dominasi Barat dengan sangat meminggirkan sama
sekali tradisi demi modernitas.
Ketiga, adalah kelompk Reformistik. Hasaan Hanafi menjadi salah satu tokoh dari kelompok ini dengan satu wacana yang diajukan dengan sejumlah pertimbangan yang cukup memadai. Hasan
Hanafi memandang bahwa turats dan kebutuhan kekinian merupakan dua unsur yang tidak boleh saling meniadakan. Turats dan kaitannya dengan tradisi menjadi satu kekuatan yang tidak dapat
dnihilkan dengan kehadiran karakter masyarakat Arab-Islam. Berikutnya kehdiran Barat yang melahirkan modernisasi pemikiran serta tantangan umat Islam itu sendiri juga menjadi
pertimbangan untuk membaca ulang turats. Pada semangat yang sama, disinilah al-Jabiri juga berada di ruang kelompok ini, tentu dengan karakter dan wacana yang berbeda, seumpama sebagai lajur linieritas yang saling menambal sulam dari wacana dan semangat reformistik.

Episteme Pembacaan Turats Abid al-Jabiri
Menyebut term episteme dalam konteks kajian pemikiran al-Jabiri adalah konsekuensi dari segala wacana yang disajikan oleh al-Jabiri yang secara langsung memang sangat berkonsentrasi pada nalar Arab-Islam. Relasinya dengan modernitas serta sejumlah konteks ketertinggalan Arab-Islam
terhadap Barat tidak mendesak untuk meninggalkan turats sama sekali. Justru al-Jabiri menjadikan turats sebagai akar kesadaran, kebudayan dan identitas yang paling autentik. Keterpurukan itu
dalam asumsi al-Jabiri disebabkan oleh cara memahami dan memberlakukan turats. Disinilah letak ketegasan bahwa al-Jabiri sangat berkonsentrasi pada unsur episteme yang bersifat filososfis.
Tentu bukan persolan yang mudah untuk mengurai sebuah sistem berfikir (episteme) yang bergerak ke arah pembaharuan. Historisitas keprihatinan atas ketertinggalan serta arah tujuan yang merupakan cita-cita menjadi dua pertimbangan untuk mengklarifikasi apa yang telah terjadi dan kemana seharusnya bergerak. Maka atas pertimbangan itu, al-Jabiri memulai proyeknya atas nama
kritik nalar Arab. Disinilah seakan terjadi perjumpaan antara refleksi kegagalan dan ambisi kebangkitan. Sehingga dengan demikian, kritik yang dilakukan oleh al-Jabiri adalah suatu agenda besar yang berupaya merekonstruksi prinsip-prinsip dasar dengan cara membaca ulang historisitas
dan relativitas serta pandangan progresif guna membangun masa depan.

Dalam proses penguraian epsiteme pembacaan turats tersebut, al-Jabiri melakukan runtutan kritik tidak saja pada epsiteme yang sudah terlanjur berjalan di tengah-tengah umat Islam, al-Jabiri mengambil kritik yang sangat mendasar mulai dari tahlil takwin al-aql Arobi yang berisi seputar kritik
analisis proses historis, epsitemologis maupun ideologis. Kemudian berikutnya tahlil al-Bunyawi yang berisi tentang penjelasan dan kritik tentang model-model epsitemologi yang pernah hidup dalam tradisi Arab-Islam.

Dalam menelaah pemikiran al-Jabiri yang sangat jelimet tersebut, Abdul Mukti berhasil menjelaskan bersama sejumlah dinamika dari masing-masing tahapan. Misalnya pada tahapan Bunya Aql Arobi
terdapat sejumlah kritik tajam pada nalar Bayani, Irfani dan Burhani, walau kemudian al-Jabiri harus memihak pada model nalar burhani denganketerpengaruhannya terhadap pemikiran yang dikembangkan pemikir Islam bagian Barat, sperti Ibn Hazm, as-Sahtibi, Ibn Ruayd dan Ibn Khaldun. Keberpihakan tersebut adalah kebrpihakan implisit terhadap rasio dan pengalaman inderawi yang tidak dipertentangkan dengan wahyu. Disinilah obyektifitas menjadi satu ukuran yang paling memungkinkan untuk menjembatani unsur-unsur ideologis yang sangat melangit.

Secara sederhana, bangunan dasar epsiteme ini berpijak dari realitas ke teks.Keberpihakan pada rasio tidak dapat serta merta menempatkan al-Jabiri sebagai bagian dari kelompok transformatif. Al-Jabiri lebih memilih corak reformatif dengan tetap memberikan apresiasi terhadap turats sebagai prestasi sejarah. Di pihak lain al-Jabiri juga mengambil input dari wawasan pembacaan kontemporer liberal dari luar (alfahm alkhariji lil turats) dengan sangat selektif lewat proses harmonisasi dan dialektika antara modernitas dan turats. Sebagai metode kunci dalam mengambil yang lama dan mengadopsi yang dari luar, setidaknya ada tiga metode yang dtawarkan oleh al-Jabiri yaitu, hermeneutik, kritik dan dekonstruksi.

Kiranya Abdul Mukti disini tidak hanya berhasil membaca dengan rinci epsiteme pembacaan dan penggunaan turats al-Jabiri, akan tetapi dia juga mampu menyederhanakan dalam satu argumen pada satu adagium populer al-muhafadhah ‘ala qadimi al- sholeh wal akhdzu biljadidil ashlah. Satu argumen sederhana tersebut memiliki dua makna sekaligus, satu sisi sebagai epistem pembacaan turats, sedangkan yang kedua bermakna jembatan lintas antara masa lalu, realitas dan ambisi kebangkitan masa depan.

Penulisnya: Ahmad Tijani Shadiq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here